Gaza, Palestina – Di tengah debu dan reruntuhan di Deir Al-Balah, Gaza, Palestina, Sabreen Hassona menyusuri jalanan yang bergelombang dan harapannya setipis benang.
Sudah lebih dari seminggu anak-anaknya tak merasakan tepung. Kini, ia beruntung.
“Saya datang untuk mendapatkan tepung untuk anak-anak saya, karena mereka belum merasakan tepung lebih dari seminggu, dan alhamdulillah, Tuhan memberi saya satu kilo beras dengan susah payah,” tutur Sabreen kepada Al Jazeera.
Kisah Sabreen adalah gambaran pilu dari jutaan orang di Gaza yang terimpit krisis kemanusiaan. Namun, ada secercah harapan.
Militer Israel mengumumkan jeda tempur harian selama 10 jam di tiga area padat penduduk Gaza, Kota Gaza, Deir al-Balah, dan Muwasi.
Keputusan ini, yang disebut “jeda taktis”, bertujuan meningkatkan aliran bantuan kemanusiaan.
Langkah ini diambil di tengah desakan global dan kritik tajam terhadap Israel atas penanganan perang 21 bulan yang telah menciptakan kelaparan massal.
Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan, Tom Fletcher menyambut baik keputusan Israel, menyebutnya sebagai “peluang untuk meningkatkan skala bantuan selama satu minggu.”
Namun, ia menegaskan, “tindakan ini harus berkelanjutan, luas, dan cepat.”
Tapi di lapangan kenyataan tak selalu seindah janji. Samira Yahya di Zawaida, Gaza tengah, berbagi kekecewaannya.
“Kami melihat pesawat, tapi kami tidak melihat apa yang mereka jatuhkan,” katanya.
“Mereka bilang truk akan lewat, tapi kami tidak melihat truk.”
Ahmed al-Sumairi bahkan mengungkapkan ketakutan warga akan kotak bantuan yang jatuh menimpa anak-anak mereka.

Ironi di Tengah Krisis: Bantuan vs Pertempuran
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu sendiri mengakui, “Apa pun jalur yang kita pilih, kita harus terus mengizinkan masuknya pasokan kemanusiaan minimal.”
Namun paradoksnya, operasi tempur terus berlanjut di area lain. Petugas kesehatan Gaza melaporkan setidaknya 41 warga Palestina tewas dari Sabtu malam hingga Minggu (27/07/25), termasuk 26 orang yang sedang mencari bantuan.
Gambar-gambar anak-anak yang kurus kering telah memicu kecaman, bahkan dari sekutu terdekat Israel.
World Food Program PBB (WFP) menyatakan bahwa mereka memiliki cukup makanan untuk memberi makan seluruh Gaza selama hampir tiga bulan, namun hampir setengah juta orang hidup dalam kondisi seperti kelaparan.
Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, Muneer al-Boursh menyerukan banjir pasokan medis untuk menangani malnutrisi anak.
“Gencatan senjata (kemanusiaan) ini tidak akan berarti apa-apa jika tidak berubah menjadi kesempatan nyata untuk menyelamatkan nyawa,” tegasnya. “Setiap penundaan diukur dengan pemakaman lain.”
Perundingan gencatan senjata juga berada di ujung tanduk. Israel dan AS menarik tim negosiasi dari Qatar, dan menyalahkan Hamas.
Israel mengatakan siap mengakhiri perang jika Hamas menyerah, melucuti senjata, dan pergi ke pengasingan. Syarat yang ditolak Hamas.
Khalil al-Hayya, Kepala Delegasi Negosiasi Hamas bersikeras bahwa kelompoknya telah menunjukkan “fleksibilitas maksimum.”
Mahmoud Merdawi, Pejabat Senior Hamas menuduh perubahan pendekatan Israel pada krisis kemanusiaan sebagai pengakuan atas kelaparan warga Palestina di Gaza, dan bertujuan meningkatkan citra internasional Israel, bukan menyelamatkan nyawa.
Israel mengklaim Hamas menyedot bantuan untuk memperkuat kekuasaannya, tanpa memberikan bukti.
Sementara itu, lebih dari 1.000 warga Palestina tewas oleh pasukan Israel sejak Mei saat mencoba mendapatkan makanan, sebagian besar di dekat lokasi distribusi bantuan yang didukung AS.
“Gaza bukanlah pulau terpencil. Infrastruktur dan sumber daya ada untuk mencegah kelaparan, kita hanya membutuhkan akses yang aman dan berkelanjutan,” kata Kate Phillips-Barrasso, Wakil Presiden Kebijakan Global dan Advokasi Mercy Corps kepada Al Jazeera.
Kondisi di Gaza saat ini adalah sebuah tragedi yang terus bergulir. Angka korban terus bertambah, dengan lebih dari 59.700 warga Palestina tewas menurut Kementerian Kesehatan Gaza, dan dua tentara Israel juga gugur dalam pertempuran.
Presiden AS Donald Trump pada Minggu (27/07/25) menyebut gambar anak-anak Gaza yang kurus kering sebagai “mengerikan.” (YA)
Baca juga :





