Gaza, Palestina – Minggu itu, seperti hari-hari sebelumnya di Jalur Gaza, udara terasa berat.
Namun, kali ini, kabar duka datang bertubi-tubi, menggema dari Khan Younis di selatan, Jabalia di utara, hingga Nuseirat di jantung Jalur Gaza.
Setidaknya 30 warga Palestina kehilangan nyawa mereka, terenggut dalam serangkaian serangan militer Israel yang terjadi di berbagai sudut wilayah tersebut.
Di antara mereka yang menjadi korban, ada suara-suara yang selama ini berjuang untuk melaporkan kebenaran, dan tangan-tangan yang tak kenal lelah menolong sesama.
Di Jabalia, utara Gaza, Minggu (25/05/25) menjadi saksi kepergian Hassan Majdi Abu Warda, seorang Jurnalis Lokal yang selama ini menjadi mata dan telinga dunia.
Ia tewas bersama beberapa anggota keluarganya, rumah mereka hancur dilumat serangan udara. Kepergian Abu Warda menambah panjang daftar nama jurnalis yang gugur di Gaza seperti dilansir dari Arab News.
Menurut kantor media pemerintah Gaza yang dikelola Hamas, sejak 7 Oktober 2023, jumlah jurnalis Palestina yang tewas di wilayah tersebut telah mencapai angka tragis, 220 orang.
Sebuah angka yang menggambarkan betapa berbahayanya medan, bagi mereka yang berupaya menyampaikan kisah dari garis depan. Tak hanya jurnalis, pahlawan kemanusiaan pun turut menjadi korban.
Di Nuseirat, Ashraf Abu Nar, seorang pejabat senior di layanan darurat sipil wilayah tersebut, ditemukan tak bernyawa bersama istrinya di rumah mereka, setelah menjadi sasaran serangan udara lain.
Mereka adalah bagian dari garda terdepan yang selalu sigap membantu di tengah puing-puing dan kehancuran.
Seperti yang dilaporkan Reuters, hingga laporan ini ditulis, tidak ada komentar langsung yang dikeluarkan oleh militer Israel terkait insiden-insiden yang terjadi.
Bahkan berdasarkan laporan AP News, serangan Israel selama 24 jam terakhir sudah menewaskan setidaknya 38 orang di Gaza, termasuk anak-anak, kata pejabat kesehatan lokal pada hari Minggu (25/05/25).
Tidak adanya data yang tersedia selama dua hari berturut-turut dari rumah sakit di wilayah utara yang sekarang tidak dapat dijangkau, jumlah korban kemungkinan bisa bertambah.
Perlawanan Tanpa Henti
Kondisi di Gaza semakin memprihatinkan. Dalam pernyataan terpisah, kantor media pemerintah Gaza mengklaim bahwa pasukan Israel kini menguasai 77 persen Jalur Gaza.
Penguasaan ini bisa dalam bentuk kehadiran pasukan darat, maupun melalui perintah evakuasi dan pemboman yang secara efektif menjauhkan penduduk dari rumah-rumah mereka, memaksa mereka terusir dari tanah sendiri.
Namun, di tengah tekanan yang masif, perlawanan tak pernah surut. Sayap bersenjata Hamas dan Jihad Islam dalam pernyataan terpisah pada Minggu menyatakan bahwa para pejuang mereka terus melakukan penyergapan dan serangan.
Mereka menggunakan bom dan roket anti-tank untuk menghadapi pasukan Israel yang beroperasi di berbagai wilayah di seluruh Gaza.
Ini menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar wilayah dikuasai, konflik bersenjata masih terus berlangsung di lapangan.
Beberapa hari sebelumnya, pada Jumat, militer Israel sendiri menyatakan telah melakukan lebih banyak serangan di Gaza semalaman.
Mereka menyebut telah menghantam 75 sasaran, termasuk fasilitas penyimpanan senjata dan peluncur roket, menggarisbawahi intensitas operasi militer yang sedang berlangsung.
Konflik Tak Kunjung Usai
Perang udara dan darat yang dilancarkan Israel di Gaza bermula setelah serangan lintas batas militan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Serangan tersebut, menurut penghitungan Israel, menewaskan 1.200 orang dan mengakibatkan 251 sandera diculik ke Gaza.
Sejak saat itu, konflik ini telah membawa dampak kemanusiaan yang sangat parah.
Menurut otoritas kesehatan Gaza, perang ini telah menewaskan lebih dari 53.900 warga Palestina, dan menghancurkan seluruh jalur pesisir tersebut.
Berbagai kelompok bantuan kemanusiaan terus menyuarakan kekhawatiran mereka, melaporkan bahwa tanda-tanda malnutrisi parah kini meluas di kalangan penduduk Gaza.
Menurut laporan AP News, Israel sedang membuat rencana baru yang didukung AS untuk mengontrol semua bantuan ke Gaza. Namun PBB telah menolak rencana tersebut.
Direktur eksekutif Program Pangan Dunia PBB, Cindy McCain mengatakan kepada CBS bahwa dia tidak melihat bukti untuk mendukung klaim Israel bahwa Hamas bertanggung jawab atas penjarahan truk bantuan.
“Orang-orang ini sangat putus asa, dan mereka melihat truk Program Pangan Dunia datang dan mereka berlari ke arahnya,” ungkap McCain seperti dikutip dari AP News.
Sebuah bukti nyata dari krisis kemanusiaan yang mendalam, dan harga yang harus dibayar dalam setiap konflik, di mana nyawa warga sipil, termasuk mereka yang berjuang untuk kebenaran dan kemanusiaan, menjadi korban utama. (*)
Baca juga :





