Puncak Jaya, Papua – Di Kampung Wuyuneri, Distrik Mulia, Puncak Jaya, Papua, suasana pasar sederhana tampak berbeda.
Bukan karena banyak pembeli, melainkan karena satu rombongan berseragam loreng tiba-tiba datang, bukan untuk patroli, tapi untuk memborong semua hasil bumi yang dijajakan mama-mama Papua.
Aksi ini dipimpin oleh Danpos Wuyuneri, Letda Inf Umar bersama para prajurit Satgas Yonif 715/Mtl. Mereka menyusuri kios-kios sederhana, membeli sayur, buah, hingga hasil kebun lainnya milik warga lokal.
Salah satu penjual, Mama Era Enumbi, tak mampu membendung air mata saat dagangannya diborong habis.
“Wa wa… terima kasih anak-anak TNI sudah bantu mama borong semua, semoga berkat melimpah untuk anak semua,” ucapnya dengan suara bergetar, dikutip dari keterangan resmi Pen Satgas Yonif 715/Mtl.
Satgas Yonif 715/Mtl tak hanya menjalankan tugas keamanan, tapi juga menyentuh sisi kemanusiaan.
Dengan membeli langsung hasil bumi warga, TNI menunjukkan bahwa kehadiran mereka juga untuk memberdayakan dan memulihkan ekonomi rakyat yang nyaris tak tersentuh pasar formal.
Apalagi kondisi geografis Puncak Jaya yang terisolasi, membuat akses ekonomi terbatas. Pasar jarang ramai, pembeli sulit ditemukan.
Dalam situasi seperti ini, kehadiran TNI sebagai pembeli besar menjadi angin segar bagi keluarga petani lokal.
Menghidupkan Ekonomi Rakyat
Kepala Pos Wuyuneri, Letda Inf Umar menegaskan bahwa kegiatan ini bukan yang pertama, dan akan terus dilakukan selama masa penugasan.
“Kami ingin TNI hadir bukan hanya untuk menjaga keamanan, tetapi juga menjadi bagian dari solusi atas persoalan ekonomi masyarakat,” tegasnya.
Langkah ini menunjukkan pendekatan “TNI dari rakyat, untuk rakyat” yang benar-benar dirasakan manfaatnya di pedalaman.
Hubungan emosional yang dibangun antara TNI dan masyarakat, bisa menjadi modal sosial penting untuk stabilitas dan pembangunan jangka panjang.
Menggantungkan Hidup Dari Sektor Pertanian
Berdasarkan data BPS Kabupaten Puncak Jaya (2023), lebih dari 70% penduduk menggantungkan hidup dari sektor pertanian tradisional, namun hanya sekitar 30% yang terhubung ke pasar komersial.
Keterbatasan infrastruktur dan keamanan seringkali menghambat aktivitas ekonomi warga.
Mama-mama Papua, terutama di daerah pegunungan tengah, merupakan pelaku ekonomi tangguh yang menjalankan peran sebagai produsen sekaligus penjual hasil kebun keluarga.
Apa yang dilakukan Satgas Yonif 715/Mtl di Kampung Wuyuneri bukan sekadar aksi belanja, melainkan investasi sosial jangka panjang.
Di tanah yang penuh tantangan, senyum mama-mama Papua bisa jadi simbol bahwa kesejahteraan bukan hanya soal uang, tapi tentang siapa yang hadir dan peduli. (VT)





