Gaza, Palestina — Dari langit yang biasanya cerah, kini tak ada lagi senyum dan tawa yang terdengar. Hanya ada keheningan, yang sesekali pecah oleh suara gemuruh pesawat dan hembusan angin yang membawa debu.
Jalanan yang dulu ramai dengan kehidupan, kini terbungkam oleh tumpukan puing.
Di bawah sana, di atas lahan yang telah menjadi gurun reruntuhan, ribuan nyawa berjuang menghadapi kelaparan, sebuah krisis yang tak kalah mematikan dari konflik itu sendiri.
Demikianlah pemandangan Gaza yang dilihat dari atas udara. Wilayah yang dulunya padat dengan permukiman kini tampak seperti hamparan puing-puing berdebu.

Pemandangan ini sejalan dengan rencana Israel, yang menurut berbagai laporan berambisi untuk menguasai seluruh Gaza, menghancurkan kota sedikit demi sedikit hingga tidak bisa lagi ditinggali.
Kota Gaza, yang terlihat dari udara, seakan telah hangus dan musnah, sebuah gambaran yang menyiratkan masa depan suram bagi para penduduknya.
Pesawat militer Jordania yang terbang di atas langit Gaza ini, bukan untuk melancarkan serangan, melainkan untuk menjatuhkan harapan.

Bantuan kemanusiaan seberat 325 ton dikirimkan melalui jalur udara, sebuah metode yang dipilih karena sulitnya akses darat.
Namun, di balik upaya heroik ini, tersimpan kepiluan dan pertanyaan besar: apakah ini cukup ?
Lautan Puing & Secercah Harapan
Tim dari The Guardian yang ikut dalam penerbangan tersebut menyaksikan langsung pemandangan yang memilukan.

Dari ketinggian 600 meter, utara Gaza dan Kota Gaza hanya terlihat seperti gurun yang dipenuhi puing dan debu.
Di tengah kehancuran, satu-satunya tanda kehidupan adalah sekelompok kecil orang yang terlihat berdiri, menanti bantuan yang akan datang dari langit.
Saat pesawat melintas di atas kamp pengungsi Nuseirat, palet-palet berisi bantuan mulai diluncurkan satu per satu, dengan parasut yang mengembang.
Sejak dimulainya kembali operasi udara pada 27 Juli, Angkatan Bersenjata Yordania & Tentara Arab telah melancarkan 140 operasi udara.
293 Operasi udara lainnya, berkolaborasi dengan negara lain untuk mengirimkan bantuan.
Meskipun upaya ini masif, bahaya tetap mengintai. Penjatuhan bantuan dari udara tidaklah tanpa risiko.
Laporan menunjukkan setidaknya 12 orang tewas tenggelam saat mencoba mengambil bantuan yang jatuh di laut, sementara 5 orang lainnya tewas tertimpa palet yang jatuh dari langit.
Kisah di Balik Reruntuhan
Dari atas pesawat, tim The Guardian melihat langsung jejak konflik yang mengerikan.
Mereka melewati Deir Al-Balah, tempat di mana seorang influencer berusia 11 tahun, Yaqeen Hammad, tewas setelah rumahnya dihantam serangan udara.

Beberapa kilometer kemudian, terlihat Khan Younis, yang telah terkepung selama berbulan-bulan.
Di sana, sebuah rumah yang hancur dulunya adalah tempat tinggal Dr. Alaa al-Najjar, Seorang Dokter Anak.
Pada bulan Mei, saat ia bertugas, rumahnya dibom, merenggut nyawa suami dan 9 dari 10 anaknya.
Kisah-kisah ini hanyalah sebagian kecil dari kepedihan yang terkubur di bawah reruntuhan.
Menurut otoritas kesehatan di Gaza, lebih dari 60.000 warga setempat tewas dalam serangan, dan ribuan lainnya diperkirakan masih terkubur di bawah puing-puing.
Jumlah ini terus bertambah seiring berjalannya waktu, menjadikan krisis kemanusiaan di Gaza semakin parah.

Bantuan seberat 325 ton mungkin tampak besar, tetapi di hadapan tragedi yang begitu masif, pertanyaan tetap menggantung di udara: apakah ini cukup ?
Dengan kelaparan yang terus melanda, seberapa lama bantuan ini akan bertahan ?
Sampai kapan mereka harus menggantungkan hidup pada makanan yang jatuh dari langit ?
Di tengah ketidakpastian akan akhir konflik, harapan dan keputusasaan menjadi satu.
Kisah ini adalah pengingat bahwa di balik laporan berita, ada jutaan nyawa yang berjuang menunggu tidak hanya bantuan, tetapi juga perdamaian. (VT)
Baca juga :





