Kyushu,Jepang – Wilayah selatan Jepang dilanda situasi darurat setelah gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 6,8 menghantam Prefektur Kumamoto, Pulau Kyushu. Guncangan kuat ini merenggut sedikitnya dua nyawa, melukai lebih dari 100 orang, serta memutus aliran listrik ribuan rumah dan melumpuhkan infrastruktur vital Rabu 29 Juli 2026.
Berdasarkan laporan dari pemerintah prefektural, tim penyelamat bekerja sepanjang malam dan berhasil mengevakuasi delapan orang dari dalam kompleks pusat perbelanjaan Aeon Mall Kumamoto.
Dua perempuan berusia 20-an tahun dikonfirmasi meninggal dunia di lokasi, sementara satu orang lainnya berada dalam kondisi henti jantung. Lima korban selamat lainnya menderita luka-luka, meski otoritas memastikan kondisi mereka tidak mengancam jiwa.
Petugas pemadam kebakaran setempat mendapati adanya ledakan yang terjadi di area mal tidak lama setelah gempa utama.
Pejabat pemerintah mengungkapkan dugaan sementara mengarah pada kebocoran gas, kendati investigasi mendalam masih berlangsung untuk memastikan penyebab pastinya.
Rekaman visual menunjukkan satu sisi bangunan mal terbesar di Kumamoto dengan kapasitas sekitar 200 toko tersebut ambruk, mengekspos kerangka baja dan menyebarkan puing-puing ke area tempat parkir.
Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menyatakan bahwa jajaran pemerintah dan tim darurat masih terus mendata tingkat kerusakan di wilayah yang sebelumnya pernah mengalami bencana serupa satu dekade lalu.
“Kami telah menerima laporan mengenai korban luka, pemadaman listrik, serta kebakaran di beberapa wilayah. Kerusakan juga terjadi pada infrastruktur jalan, jembatan, dan bangunan yang runtuh,” ujar Takaichi kepada awak media.
“Saya meminta kepada seluruh warga untuk mengambil langkah-langkah perlindungan diri, termasuk melakukan evakuasi ke lokasi yang aman,” imbuhnya.
Badan Penanggulangan Bencana Jepang mencatat sekitar 300.000 warga telah diinstruksikan untuk mengungsi ke pusat-pusat penampungan sementara. Badan Meteorologi Jepang (JMA) memperingatkan bahwa wilayah yang mengalami guncangan terparah masih rentan terhadap ancaman gempa susulan berkekuatan besar serta potensi tanah longsor dalam sepekan ke depan, mengingat karakteristik gempa yang dangkal.
Sejauh ini, lebih dari 60 kali gempa susulan dengan magnitudo berkisar antara 1 hingga 4 telah tercatat. Peringatan dini tsunami sempat dikeluarkan sesaat setelah gempa terjadi, namun dicabut dalam kurun waktu dua jam.
Dampak kerusakan juga dirasakan pada sektor fasilitas kesehatan. Dua rumah sakit melaporkan penanganan lebih dari 50 pasien luka per tempat fasilitas, termasuk 10 orang dalam kondisi kritis.
“Pasien datang dengan luka bakar dan patah tulang akibat tertimpa reruntuhan akibat gempa, sementara armada ambulan terus berdatangan membawa korban,” ujar seorang pegawai rumah sakit yang dikutip dari lembaga penyiaran publik NHK.
Ia menambahkan bahwa bagian dalam rumah sakit turut mengalami kebocoran air dan kegagalan sistem kelistrikan.

Perdana Menteri Takaichi menegaskan komitmen pemerintah untuk mengerahkan tim tanggap darurat yang bekerja tanpa kenal lelah sepanjang malam guna memprioritaskan operasi penyelamatan korban terdampak.
Sejumlah perusahaan multinasional seperti produsen semikonduktor terbesar dunia TSMC, Sony, dan Fujifilm, langsung mengambil langkah evakuasi bagi para pekerja di pabrik-pabrik mereka yang berada di zona merah.
Chiharu Hara, seorang agen rekrutmen berusia 35 tahun yang berada di Kumamoto, menuturkan kepanikan yang dirasakannya saat bencana terjadi kepada kantor berita AFP.
“Kantor berguncang sangat keras ke kiri dan ke kanan. Saya takut bangunan itu akan runtuh. Semua orang panik,” kenang Hara.
Pusat gempa teridentifikasi berada sekitar 12 mil atau 20 kilometer di sebelah selatan Kumamoto, kota terbesar di bagian tengah Pulau Kyushu dengan populasi sekitar 700.000 jiwa.
Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) mencatat magnitudo awal pada angka 7,1 sebelum direvisi menjadi 6,8. Sementara itu, JMA melaporkan gempa yang terjadi pada pukul 16.27 waktu setempat tersebut mencapai level tertinggi 7 pada skala intensitas seismik Jepang (shindo).
Sebagai salah satu negara dengan aktivitas seismik tertinggi di dunia yang berada di jalur Ring of Fire Pasifik, Jepang menyumbang sekitar 20 persen dari total gempa bumi berkekuatan magnitudo 6 atau lebih di seluruh dunia.
Kenangan pahit atas bencana gempa megathrust bermagnitudo 9,0 pada tahun 2011 masih membayangi publik Jepang, di mana tsunami yang menyertainya menelan korban jiwa dan hilang sebanyak kurang lebih 18.500 orang serta memicu krisis di pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima.





