Teheran, Iran – Eskalasi konflik di Timur Tengah mencapai titik nadir baru, setelah serangan udara Amerika Serikat dan Israel menghantam sejumlah infrastruktur sipil vital di Iran.
Serangan tersebut menghancurkan Jembatan B1 yang megah di Karaj, serta merusak parah Institut Pasteur Iran, sebuah pusat riset medis berusia satu abad yang menjadi pilar pertahanan kesehatan global.
Presiden AS, Donald Trump menegaskan bahwa Washington “baru saja memulai” penghancuran infrastruktur Iran.
Melalui pernyataan di media sosial, Trump membagikan rekaman runtuhnya jembatan penghubung Teheran-Karaj tersebut dan memperingatkan bahwa pembangkit listrik akan menjadi sasaran berikutnya jika kepemimpinan Iran tidak segera mengambil tindakan yang diminta Washington.
Warga Sipil Jadi Korban
Serangan terhadap Jembatan B1 terjadi di momen yang sangat tragis. Tohid Asadi dari Al Jazeera melaporkan bahwa serangan bertubi-tubi (double-tap strike) tersebut menghantam, saat warga Teheran sedang merayakan ‘Hari Alam’ (Day of Nature), di mana banyak keluarga tengah berkumpul di sekitar area jembatan.
- Korban Jiwa: Laporan resmi Iran menyebutkan 8 orang tewas dan 95 lainnya luka-luka akibat runtuhnya jembatan.
- Proyek Vital: Jembatan B1 adalah salah satu proyek infrastruktur termahal dan terpenting, yang dijadwalkan dibuka tahun ini.
- Krisis Kesehatan: Institut Pasteur, yang tengah berjuang melawan wabah kolera dan COVID-19, kini tidak mampu lagi memberikan layanan kesehatan.
- Target Medis: WHO memverifikasi lebih dari 20 serangan terhadap fasilitas kesehatan di Iran sejak awal Maret, termasuk RS Jiwa Delaram Sina.
Adu Ancaman Target Regional
Menanggapi kehancuran infrastruktur mereka, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi mengecam tindakan tersebut sebagai bukti “kehancuran moral” musuh.
Namun, di balik kecaman diplomatik, mesin perang Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah mulai bergerak dengan ancaman balasan yang lebih luas.
Media Iran, Fars News Agency, bahkan telah merilis daftar jembatan-jembatan strategis di Kuwait, Arab Saudi, UEA, hingga Yordania yang berpotensi menjadi target balasan.
IRGC mengklaim telah memberikan “peringatan” dengan menyerang fasilitas baja di Abu Dhabi dan instalasi aluminium di Bahrain sebagai respons atas hancurnya industri mereka.
Di tengah puing-puing infrastruktur, perang intelijen dan udara terus berkecamuk. Dilansir dari Al Jazeera, Pihak Iran mengonfirmasi tewasnya Behnam Rezaei, wakil kepala intelijen angkatan laut IRGC.
Di sisi lain, Iran mengklaim telah menembak jatuh jet tempur F-35 kedua milik AS di wilayah Iran Tengah pada Jumat pagi, sebuah klaim yang hingga kini belum ditanggapi pihak Washington.
Sementara itu, militer Israel terus melaporkan adanya rentetan rudal balasan dari Iran. Meski sebagian besar dapat dihalau, serpihan rudal dilaporkan merusak sebuah stasiun kereta api di Tel Aviv serta beberapa rumah warga.
Dunia kini menyaksikan babak baru di mana batas antara target militer dan fasilitas sipil semakin memudar.
Runtuhnya jembatan tertinggi di Iran dan lumpuhnya pusat riset medis bukan sekadar kerugian material, melainkan serangan terhadap detak jantung kehidupan masyarakat sipil.
Selama “ego” politik dan mesin perang lebih keras bersuara daripada hukum internasional, jalur menuju perdamaian di Timur Tengah tampaknya masih tertutup oleh debu dan puing infrastruktur yang runtuh. (AW)





