Teheran, Iran – Cerita perang tak lagi hanya retorika, kini meletus dalam dentuman nyata.
Dalam beberapa jam terakhir, Israel dan Iran kembali saling menghantam lewat rudal dan drone, menyusul meningkatnya ketegangan pasca-serangan besar dari AS ke sejumlah fasilitas militer utama Iran.
Ledakan terdengar di Karaj, wilayah barat Teheran, dan Parchin kompleks militer yang terkenal tertutup di tenggara ibu kota Iran.
Menurut laporan Kantor Berita Nour News dan IRNA, Parchin dihantam serangan udara pada Senin dini hari (23/06/25).
Lokasi ini sebelumnya disebut Badan Energi Atom Internasional (IAEA), sebagai salah satu lokasi kunci pembuatan komponen sentrifugal nuklir.
“Dua bangunan tempat produksi komponen sentrifugal dihancurkan,” tulis IAEA
Rudal Iran Balas Menyasar Israel

Sekitar pukul 03.00 waktu setempat, sirene berbunyi di wilayah utara Israel setelah Iran meluncurkan beberapa rudal balistik.
Meski sistem pertahanan Iron Dome berhasil menggagalkan sebagian besar ancaman, serangan ini mempertegas bahwa Teheran tak tinggal diam. Hingga kini belum ada laporan korban jiwa di pihak Israel.
Namun, tragedi justru terjadi di wilayah tengah Iran. Sebuah ambulans yang sedang mengevakuasi pasien diserang drone, menyebabkan tiga orang tewas di tempat.
Insiden ini dilaporkan oleh IRNA yang mengutip pernyataan Gubernur Najafabad, Hamidreza Mohammadi Fesharaki.
“Ambulans itu sedang mengangkut pasien ketika dihantam oleh serangan drone, dan bertabrakan dengan kendaraan lain. Semua penumpang meninggal dunia,” ujar Fesharaki.
Trump: “Make Iran Great Again” atau Ganti Rezim?

Dari Washington, Presiden AS, Donald Trump kembali membuat gelombang kejutan. Lewat platform Truth Social, ia menyerukan kemungkinan “regime change” di Iran.
“Bukan hal yang benar secara politik untuk mengatakan ini, tapi jika rezim Iran saat ini tidak mampu membuat Iran hebat kembali, kenapa tidak ada pergantian rezim? MIGA!!!,” tulis Trump.
Pernyataan ini kontras dengan pesan dari pemerintah AS saat ini. Wakil Presiden AS, JD Vance menegaskan bahwa, “Kami tidak berperang dengan Iran, kami berperang melawan program nuklir Iran.”
Sementara Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio menyatakan “AS tidak mencari perang dengan Iran.”
Namun fakta di lapangan berkata lain. Serangan langsung terhadap fasilitas militer Iran oleh AS dan Israel, merupakan intervensi terbesar sejak Revolusi Iran tahun 1979.
Iran Membalas, Hormuz Jadi Taruhan

Dalam respons politik yang tak kalah keras, Parlemen Iran menggelar sidang darurat dan mengesahkan usulan penutupan Selat Hormuz.
Jalur strategis ini adalah nadi pengiriman minyak dunia, dan setiap gangguan di sana bisa mengguncang pasar global.
“Kami tidak akan kembali ke jalur diplomasi sebelum balas dendam dilakukan,” kata Menteri Luar Negeri, Iran Abbas Araqchi saat berbicara di Istanbul, Turki.
Tak lama setelahnya, Araqchi terbang ke Moskow untuk bertemu dengan Presiden Vladimir Putin dan membahas “ancaman bersama”.
Langkah Iran untuk menutup Selat Hormuz bisa menjadi titik eskalasi paling serius. Berdasarkan data U.S. Energy Information Administration sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati selat ini setiap harinya.
Jika benar ditutup, dunia tak hanya menghadapi konflik militer, tapi juga krisis energi global. Sementara itu, seruan Trump soal regime change menyulut bara dalam diplomasi.
Retorika seperti ini pernah memicu perang di Irak, dan kini berisiko memicu konflik regional besar yang melibatkan aktor-aktor seperti Rusia dan bahkan China. (YA)
Baca juga :





