Gyeongju, Korea Selatan – Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pemimpin Kerjasama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) resmi dimulai Jumat (31/10/25), di Gyeongju, Korea Selatan.
Konferensi selama dua hari ini mempertemukan para pemimpin ekonomi dari 21 anggota APEC, untuk mencari titik temu mengenai isu-isu krusial.
Termasuk juga perdagangan, rantai pasokan, dan tantangan regional, di tengah meningkatnya tren hambatan perdagangan sepihak global.
Forum ini menjadi arena diskusi utama mengenai upaya mempromosikan pertumbuhan masa depan dan kemakmuran bersama di tengah lanskap global yang berubah dengan cepat, serta dihadiri perwakilan dari organisasi internasional seperti Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
Deklarasi Gyeongju & Multilateralisme
Sebagai tuan rumah, Korea Selatan berambisi menghasilkan dokumen hasil yang didukung penuh oleh semua peserta dalam bentuk “Deklarasi Gyeongju”.
Selain isu perdagangan bebas, Seoul juga menyoroti inisiatif strategis seperti kecerdasan buatan (AI) dan perubahan demografi.
Pertemuan ini menjadi sorotan global terkait peluang para pemimpin untuk mencapai konsensus dalam memetakan jalur perdagangan internasional.
Para anggota APEC diyakini memiliki pandangan berbeda mengenai tatanan perdagangan bebas yang didukung oleh multilateralisme dan sistem WTO.
Penting untuk diketahui, sebuah deklarasi pemimpin APEC hanya dapat diadopsi jika mendapat dukungan konsensus dari setiap negara anggota.
Perkembangan positif muncul dari pertemuan tingkat menteri APEC. Menteri Luar Negeri Korea Selatan, Cho Hyun mengindikasikan bahwa forum tersebut “sangat dekat” untuk mengadopsi deklarasi bersama.
“Kami berharap dokumen tingkat menteri akan diadopsi pada hari Sabtu, saat kami akan mengadakan retret para pemimpin,” kata Cho Hyun dikutip dari Kantor Berita Korea Selatan, Yonhap.
Sementara itu, Menteri Perdagangan Korea Selatan, Yeo Han-koo mencatat bahwa kesepakatan luas telah dicapai di sektor rantai pasokan, digital, dan lingkungan.
Ia juga menegaskan komitmen APEC terhadap sistem perdagangan yang ada, sembari membuka opsi lain.
“Kami akan terus menjunjung tinggi rezim multilateral berdasarkan WTO, namun karena sistem WTO sedang terancam, kami juga mendukung kerja sama plurilateral,” ujar Yeo Han-koo.
Plurilateralisme mengacu pada konsep kerja sama internasional di antara kelompok negara yang lebih kecil, berbeda dengan multilateralisme.
Sejumlah pemimpin penting dikabarkan telah tiba di Gyeongju, termasuk Presiden Tiongkok, Xi Jinping dan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi.
Namun, pertemuan kali ini ditandai dengan ketidakhadiran Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dalam KTT para pemimpin.
Trump dilaporkan melewatkan agenda ini setelah sebelumnya menghadiri forum bisnis, dan mengadakan pembicaraan bilateral.
KTT akan dimulai dengan sambutan dari Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, sebelum memimpin sesi pertama.
Para pemimpin akan meninjau saran dari pejabat perdagangan dan luar negeri anggota APEC mengenai cara-cara untuk memperkuat kerja sama di rantai pasokan dan transisi digital.(YA)





