New York, AS – Zohran Mamdani mengukir sejarah di Kota New York, kota dengan populasi Muslim terbesar di Amerika Serikat.
Mamdani mendapatkan kemenangan yang disebut sebagai “kemenangan generasi”, dan menjadikannya sebagai Wali Kota terpilih pertama dari komunitas Muslim dan Asia Selatan.
Kenaikan Mamdani didorong oleh fokus yang tak kenal lelah pada isu keterjangkauan hidup, dan kampanye yang berhasil memobilisasi koalisi kelompok etnis dan agama yang jarang mendapat perhatian intens dari politisi tingkat kota kutip The New York Time.
Strategi Kampanye & Basis Pemilih
Mamdani menjadikan penyampaian pesan ekonominya kepada ratusan ribu warga Muslim kota itu, sebagai bagian penting dari operasinya.
Ia mengunjungi lebih dari 50 masjid, bahkan beberapa kali, dan mengadakan phone bank dalam bahasa Urdu, Arab, dan Bangla, di antara bahasa-bahasa lain.
Kampanye Mamdani bahkan berlanjut hingga shift malam, di mana ia menyambangi Bandara LaGuardia untuk bertemu dengan para sopir taksi.
Dimana di antara mereka adalah Muslim keturunan Asia Selatan, seperti dirinya yang untuk mereka ia pernah melakukan mogok makan demi memenangkan keringanan utang pada tahun 2021.

Ia menjelaskan inflasi dalam video viral yang menampilkan gerobak makanan halal kota, dan melakukan wawancara dari restoran terkenal di Jackson Heights seperti Kabab King.
Kemenangan mengejutkan Mamdani dalam pemilihan pendahuluan Partai Demokrat pada Juni lalu, merupakan momen penting bagi warga Muslim New York.
Menghadapi Islamofobia di Akhir Pemilihan
Namun, dalam minggu-minggu penutupan pemilihan umum, banyak pihak menyatakan keprihatinan mendalam atas serangan Islamofobia terhadapnya, termasuk retorika dari para pesaingnya.
The New York Time juga menulis bahwa calon dari Partai Republik, Curtis Sliwa, secara keliru menuduhnya mendukung “jihad global.”
Bahkan, Wali Kota Eric Adams yang menangguhkan kampanye pemilihannya kembali, dan mendukung rival Mamdani, Andrew Cuomo, dan mengatakan kota itu berisiko jatuh ke dalam “ekstremisme Islam” jika Mamdani terpilih.
Cuomo sendiri sempat tertawa bersama pembawa acara radio, yang mengatakan Mamdani akan menyambut serangan bergaya 9/11 lainnya.
Menanggapi retorika tersebut, bulan lalu Mamdani mengambil alih fokusnya dari keterjangkauan hidup untuk menyampaikan pidato emosional selama 10 menit yang bergema di luar kota.
Ia menggambarkan pengalaman menyakitkan dengan iman dan identitas, saat tumbuh dewasa pasca 9/11.
Dalam pidatonya, Mamdani mengatakan, “Impian setiap Muslim hanyalah diperlakukan sama seperti warga New York lainnya.
Mamdani menekankan bahwa ia berupaya menjadi kandidat yang memperjuangkan semua warga New York, dan bukan hanya sekadar “kandidat Muslim,” seraya menambahkan bahwa Islamofobia adalah salah satu bentuk kefanatikan yang sebagian besar masih diterima di New York. (YA)





