Paris, Prancis – Kasus pencurian besar di Museum Louvre, Paris, menjadi perhatian dunia. Peristiwa ini bukan hanya meninggalkan kerugian finansial besar, tetapi juga memicu kritik terhadap pemerintah Prancis dan sistem keamanan nasional.
Otoritas Prancis memperkirakan nilai kerugian mencapai 88 juta euro atau sekitar Rp1,6 triliun. Angka tersebut muncul berdasarkan hasil penyelidikan sementara dan evaluasi sistem keamanan yang masih berlangsung. Pemerintah kini tengah menilai ulang prosedur keamanan di museum, termasuk pembaruan kamera dan sistem pengawasan.
Kronologi Pencurian di Galeri Apollo
Insiden terjadi pada siang hari di Galeri Apollo, ruang yang menyimpan koleksi perhiasan era Napoleon. Empat pelaku yang menyamar sebagai pekerja menggunakan rompi kuning dan truk berperangkat lift barang untuk mendekati jendela lantai dua di sisi Sungai Seine. Mereka memotong kaca, masuk ke dalam galeri, dan membawa kabur sejumlah perhiasan berharga hanya dalam waktu empat hingga tujuh menit.
Barang curian mencakup kalung zamrud dan anting milik Marie-Louise, tiara, kalung, dan anting dari koleksi Ratu Marie-Amélie serta Ratu Hortense, hingga bros dan tiara milik Ratu Eugénie yang dihiasi lebih dari 1.000 berlian. Salah satu mahkota milik Ratu Eugénie ditemukan dalam kondisi rusak karena jatuh saat pelarian.
Pelaku berhasil melarikan diri menggunakan skuter melalui akses jalan tol. Temuan jejak DNA serta barang bukti di lokasi menjadi kunci utama penyelidikan.
Respons Pemerintah dan Penyelidikan
Peristiwa ini memicu keprihatinan nasional dan internasional. Presiden Emmanuel Macron mengecam pencurian tersebut dan menyebutnya sebagai serangan terhadap warisan budaya Prancis. “serangan terhadap warisan budaya yang kita hargai karena itu adalah sejarah kita”.
Menurut pakar karya seni, Christopher Marinello, peluang memulihkan barang curian sangat kecil. Jika perhiasan sudah dipotong atau dilebur, kecil kemungkinan karya tersebut kembali dalam bentuk utuh. Peneliti seni Marc Balcells menambahkan, perhiasan mudah berpindah di pasar gelap karena dapat dijual sebagai batu permata atau logam mulia.
Kementerian Kebudayaan Prancis menegaskan sistem keamanan Louvre tidak sepenuhnya gagal. Namun, pembaruan kamera, peningkatan prosedur keamanan, dan evaluasi protokol tetap dilakukan. Museum Louvre tidak diasuransikan secara swasta karena seluruh tanggung jawab terhadap aset berada di bawah pemerintah Prancis.
Penyelidikan kini ditangani oleh Brigade de Repression du Banditisme (BRB), unit khusus kepolisian yang berpengalaman menangani perampokan berskala besar.(*)





