Miami, AS – Ada tragedi yang terselip di balik kilau emas. Di saat sosok Kylian Mbappe meraih Golden Boot keduanya secara beruntun, tatapan penyerang berusia 27 tahun itu justru menerawang jauh.
Bintang Real Madrid tersebut berdiri sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa Piala Dunia FIFA. Namun baginya, sepuluh gol yang menggetarkan jaring terasa seperti mahkota tanpa singgasana.
Kylian Mbappe resmi mempertahankan gelar pencetak gol terbanyak dan memenangkan penghargaan Golden Boot pada Piala Dunia FIFA 2026, usai mengemas total 10 gol dan 4 assist dalam delapan pertandingan.
Kepastian ini didapat setelah ia mencetak dua gol (brace) dalam laga perebutan tempat ketiga (Bronze final) di Miami saat Prancis kalah 4-6 dari Inggris.
Pencapaian fenomenal sang kapten sekaligus melampaui capaian delapan gol milik Lionel Messi, serta melengkapi koleksi pribadinya setelah ia juga dianugerahi penghargaan Bronze Ball (pemain terbaik ketiga).
Mesin Gol Prancis Dari Fase Grup
Perjalanan Mbappe mengunci sepatu emas keduanya diawali dengan konsistensi luar biasa di lini depan. Ketajaman Mbappe menjadi tumpuan utama Les Bleus yang melangkah hingga babak semifinal, sebelum akhirnya dihentikan Spanyol dengan skor 0-2.

- Fase Grup: Mencetak dua gol (brace) masing-masing saat menghadapi Senegal dan Irak.
- Babak 32 Besar: Menorehkan brace saat Prancis mengandaskan Swedia.
- Babak 16 Besar: Menceploskan gol penalti krusial untuk menyingkirkan Paraguay.
- Perempat Final: Membuka keunggulan lewat gol pembuka saat menaklukkan Maroko 2-0.
- Perebutan Tempat Ketiga: Menambah dua gol dalam drama 10 gol melawan Inggris di Miami.
Torehan 10 gol tersebut mengukuhkan posisinya di puncak daftar Golden Boot, melampaui Lionel Messi yang mengakhiri turnamen di posisi kedua dengan delapan gol setelah sempat beberapa kali saling salip di papan skor.
Meski mengukir sejarah baru dalam rekam jejak (legacy) kariernya, Kylian Mbappe, Penyerang & Kapten Prancis secara terbuka mengakui bahwa penghargaan individu itu tidak bisa mengobati rasa kecewanya akibat gagal tampil di partai puncak.
“Ketika Anda mencetak gol sebanyak itu di Piala Dunia, hal itu tentu membawa Anda ke level yang sama sekali baru. Tapi, saya lebih memilih untuk tidak menjadi top skor asalkan bisa berlaga di final. Ini bagus untuk rekam jejak saya setelah pensiun nanti, tetapi untuk saat ini, bukan itu yang ada di pikiran saya,” ujar Mbappe dikutip dari FIFA.

Di sisi lain, Pelatih Prancis yang akan segera mundur, Didier Deschamps memberikan apresiasi tinggi kepada anak asuhnya yang telah ia dampingi sejak usia 18 tahun dalam tiga edisi Piala Dunia (Rusia 2018, Qatar 2022, dan 2026).
“Dia adalah pemain yang luar biasa dan kapten yang brilliant. Berdasarkan apa yang saya lihat dari aksinya baik di dalam maupun di luar lapangan, saya sama sekali tidak menyesal telah memilihnya sebagai kapten, karena dia telah menjadi kapten yang sangat teladan sepanjang Piala Dunia ini,” ungkap Deschamps.
FIFA menerapkan aturan ketat dalam menentukan pemenang Golden Boot jika terjadi penumpukan jumlah gol.
- Jumlah Gol Utama: Diberikan kepada pemain yang mengoleksi gol terbanyak di putaran final turnamen.
- Penentu Kedua (Jumlah Assist): Jika ada dua pemain atau lebih dengan jumlah gol sama, total assist yang diverifikasi oleh FIFA Technical Study Group menjadi penentu.
- Penentu Ketiga (Menit Bermain): Jika jumlah gol dan assist masih imbang, pemain dengan total menit bermain lebih sedikit di turnamen akan berada di peringkat lebih tinggi.
Statistik mungkin akan mencatat angka 10 gol di Amerika Utara, empat gol di Rusia, dan delapan gol di Qatar sebagai deretan rekor yang hampir mustahil dikejar generasi mendatang.
Namun bagi Kylian Mbappe, Piala Dunia 2026 adalah pengingat bahwasanya panggung sepakbola tertinggi tidak pernah bisa ditaklukkan hanya dengan keajaiban individu. (*)
Baca juga :





