London, Inggris — Medan pertempuran bawah laut tengah mengalami revolusi teknologi yang cepat dan masif.
Sama seperti drone terbang mengubah taktik perang darat di Ukraina, kehadiran Kendaraan Nirawak Bawah Air (UUV) Otonom kini diyakini akan mendefinisi ulang kekuatan maritim global.
Para pemimpin pertahanan menyebut adopsi kapal selam nirawak ini sebagai “perubahan langkah sejati dalam medan pertempuran bawah air.”
UUV akan mengambil peran penting dalam melacak kapal selam musuh dan melindungi infrastruktur krusial, seperti kabel data dan pipa energi di dasar.
Keunggulan Biaya & Skala Misi
Kebutuhan akan armada drone selam muncul dari tingginya biaya operasi kapal selam berawak. UUV menawarkan solusi untuk memperluas jangkauan operasional dengan biaya yang jauh lebih hemat.
Scott Jamieson, Direktur Pelaksana Solusi Pertahanan Maritim di BAE Systems, salah satu kontraktor senjata terbesar di Inggris, menjelaskan kepada The Guardian.
“Drone yang sedang dikembangkan memungkinkan angkatan laut untuk meningkatkan skala operasi dengan cara yang sebelumnya tidak tersedia, hanya dengan biaya sebagian kecil dari biaya kapal selam berawak.”

Pendorong utama lonjakan investasi ini adalah dua ancaman yang makin nyata: persaingan kapal selam dan resiko sabotase infrastruktur.
- Perburuan Kapal Selam Canggih: Angkatan Laut Kerajaan Inggris (Royal Navy) berencana membentuk armada UUV untuk memimpin pelacakan kapal selam, terutama di “titik hambatan” strategis seperti celah Greenland-Iceland-UK (GIUK), area kunci untuk memantau pergerakan kapal selam Rusia.
- Investasi Global: Angkatan Laut Amerika Serikat menggelontorkan miliaran dolar untuk berbagai proyek UUV, sementara Australia berkomitmen menganggarkan $ 1,7 Miliar untuk kapal selam Ghost Shark guna menghadapi kapal selam Tiongkok.
- Ancaman Sabotase: Peristiwa kerusakan pada pipa Nord Stream tahun 2022 dan pipa Balticconnector pada tahun 2023, menunjukkan kerentanan infrastruktur bawah laut. Kerusakan pada sekitar 60 kabel data dan energi di perairan Inggris saja, menurut Komite Pertahanan Parlemen Inggris, “dapat menimbulkan konsekuensi yang menghancurkan.”
Dalam konteks ini, Kementerian Pertahanan Inggris pekan lalu sempat menuduh kapal pengintai Rusia, Yantar, memasuki perairan Inggris untuk memetakan kabel bawah laut, mencerminkan peningkatan ancaman maritim.
Startup vs. Raksasa Industri
Potensi pasar baru ini memicu persaingan ketat antara perusahaan pertahanan raksasa seperti BAE Systems dan Boeing, dengan perusahaan teknologi rintisan (startup) seperti Anduril (produsen Ghost Shark) dari AS dan Helsing dari Jerman.

Para pendatang baru mengklaim mereka dapat bergerak lebih cepat, dan menawarkan solusi yang lebih terjangkau.
Andy Thomis, Kepala Eksekutif Cohort, produsen teknologi militer Inggris mengatakan kapal dan pesawat berawak yang digunakan saat ini memang “sangat, sangat mampu dan sangat, sangat mahal.”
Ia melihat bahwa menggabungkan aset berawak dengan kapal nirawak, akan memberikan kemampuan pengambilan keputusan yang dapat diberikan manusia tanpa menempatkan mereka dalam jarak yang sangat berbahaya.
Tantangan Adopsi & Resiko Konflik
Meskipun menarik secara biaya, transisi teknologi ini bukannya tanpa tantangan.
Angkatan Laut, yang dikenal lamban dalam mengadopsi teknologi baru, kini didorong untuk mempercepat pengembangan demonstrator teknologi di bawah proyek seperti “Project Cabot” milik Inggris.
Sidharth Kaushal, Peneliti Senior bidang kekuatan maritim di lembaga think tank Royal United Services Institute (RUSI) mencatat bahwa strategi perburuan kapal selam pada dekade terakhir, tidak dapat diskalakan dalam konflik karena membutuhkan “aset-aset mahal yang canggih.”
Namun, Kaushal mengingatkan bahwa keuntungan harga UUV “masih harus dilihat,” sebab armada besar UUV tetap membutuhkan biaya pemeliharaan yang signifikan.
Selain itu, potensi drone yang saling tembak di bawah air disebut oleh salah satu eksekutif pertahanan sebagai prospek yang “benar-benar realistis.”(YA)





