Dubai, UEA — Negara-negara di Timur Tengah menggelar shalat meminta hujan secara massal dan tradisional, dikenal dalam bahasa Arab sebagai “Istisqa”, demi mencari bantuan dari kondisi kekeringan yang mendalam.
Langkah spiritual ini dilakukan di tengah bayang-bayang krisis air yang kian mendalam yang membayangi wilayah tersebut, khususnya Iran.
Pihak berwenang berharap curah hujan segera tiba, untuk memberikan kelegaan bagi salah satu kawasan terkering di bumi.
Ritual Tahunan & Peringatan Kritis
Meskipun ritual ini umum di negara-negara Muslim dan hampir dilakukan setiap tahun, prediksi menunjukkan adanya musim dingin kering kedua berturut-turut di Timur Tengah.
Sebuah kondisi yang berpotensi memperburuk krisis air yang sedang berlangsung di kawasan tersebut dilansir dari Newsweek.
Di Iran, para pejabat dan pakar memperingatkan bahwa negara itu sedang mendekati krisis air yang parah.
Laporan menunjukkan bahwa aliran air ke waduk-waduk utama seperti di sekitar Teheran, telah turun tajam dan permukaan waduk anjlok ke tingkat rekor terendah.

“Musim curah hujan yang buruk pada 2024-2025 telah menyebabkan waduk-waduk utama di Timur Tengah dan Asia Tengah berada pada kondisi kritis yang rendah, mengancam irigasi dan pasokan air, tantangan yang semakin diperburuk oleh kenaikan suhu musim panas yang meningkatkan permintaan air dan penguapan,” tulis laporan ReliefWeb, sebuah layanan dari Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) kepada Newsweek
Krisis air yang belum pernah terjadi sebelumnya yang disebabkan oleh kekeringan bertahun-tahun, turunnya permukaan waduk, dan penipisan air tanah, berbarengan dengan kegagalan tata kelola yang mengancam kota, pertanian, dan ekonomi secara luas.
Seruan Raja & Doa Massal
Menyikapi situasi ini, Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud dari Arab Saudi telah menyerukan agar shalat Istisqa dilakukan secara nasional pada hari Kamis (13/11/25).

“Setiap orang yang mampu harus melakukan segala upaya untuk menghadiri salat tersebut,” demikian pernyataan Pengadilan Kerajaan, menurut laporan media pemerintah Saudi.
Raja Salman juga menekankan pentingnya amal dan kemanusiaan sebagai bagian dari upaya memohon rahmat.
“Orang-orang yang beriman juga harus berusaha untuk meringankan beban orang-orang dan mengurangi penderitaan mereka, sehingga Tuhan dapat meringankan kesulitan kita dan mengabulkan apa yang kita harapkan,” ujar Raja Salman pada hari Rabu (12/11/25), sebagaimana dikutip oleh Saudi Gazette.
Sementara itu, sekitar 125 masjid di seluruh Kuwait juga akan menjadi tuan rumah shalat Istisqa pada Sabtu (15/11/25) Mendatang.
Lapor kantor berita negara KUNA, doa serupa juga berlangsung di Uni Emirat Arab (UEA), dengan harapan ritual ini dapat “membawa curah hujan yang sangat dibutuhkan ke daratan,” dikutip dari Khaleej Times.
Prediksi Kekeringan Berlanjut
Prediksi menunjukkan musim dingin kering kedua berturut-turut di seluruh kawasan, yang kemungkinan akan memperburuk kekurangan air di Timur Tengah.
Hal itu meningkatkan kekhawatiran atas produksi tanaman dan ketersediaan air di Asia Tengah, menurut tinjauan musiman global oleh ReliefWeb pada Oktober 2025.
Analisis iklim dan keamanan air oleh ISciences, sebuah perusahaan iklim swasta yang berbasis di AS, menunjukkan bahwa prakiraan 12 bulan yang berakhir pada Desember 2025 mengindikasikan defisit luar biasa curah hujan.
Ketersediaan air yang sangat rendah di bawah rata-rata, juga akan terus berlanjut di sebagian besar Timur Tengah.
Prakiraan ini menyoroti kekhawatiran yang berkelanjutan pada sumber daya air, pertanian, dan pasokan perkotaan di kawasan tersebut.
Di Levant, defisit parah hingga luar biasa diperkirakan terjadi di Israel, Tepi Barat, Lebanon, dan Suriah barat dan utara.(YA)





