Washington, AS — Setelah berlarut-larut dalam ketidakpastian dan empat kali penundaan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump akhirnya meneken perintah eksekutif yang mengamanatkan penjualan aset TikTok di AS.
Langkah ini menandai berakhirnya drama hukum yang panjang, antara pemerintah AS dan raksasa teknologi China, ByteDance.
Perintah yang ditandatangani di Ruang Oval Gedung Putih itu memberi waktu 120 hari bagi ByteDance, untuk melakukan divestasi.
Berdasarkan informasi dari Gedung Putih, kesepakatan tersebut dipastikan mencapai nilai sekitar $ 14 Miliar.
Oracle & Investor “Bayangan”
Kesepakatan ini membuka jalan bagi sekelompok investor baru, termasuk raksasa teknologi Oracle, untuk mengambil alih kendali.
Laporan Reuters menyebutkan Oracle, MGX, dan perusahaan ekuitas swasta Silver Lake, akan mengambil sekitar 50% saham di TikTok AS.
- Oracle: Perusahaan perangkat lunak yang didirikan oleh Larry Ellison. Ellison dikenal sebagai sekutu dekat Donald Trump.
- MGX: Perusahaan investasi kecerdasan buatan (AI) yang berafiliasi dengan Silver Lake. Perusahaan ini berada di bawah pengawasan Sheikh Tahnoon bin Zayed Al Nahyan, Penasihat Keamanan Nasional Uni Emirat Arab.
- Silver Lake: Perusahaan ekuitas swasta yang berbasis di AS.

Bloomberg dan CNBC Internasional melaporkan bahwa gabungan kepemilikan ketiga investor ini mencapai 45%, dengan masing-masing memegang 15% saham.
Sementara itu, ByteDance akan memiliki kurang dari 20% saham, untuk memenuhi persyaratan undang-undang tahun 2024. Gedung Putih menyatakan akan segera mengumumkan daftar lengkap para investor.
Data Pengguna Amerika
Langkah Trump ini didasari oleh kekhawatiran yang telah lama ada, mengenai keamanan data pengguna AS. Pemerintah AS khawatir data sensitif yang dikumpulkan oleh TikTok, dapat diakses oleh pemerintah Tiongkok.
“Ada beberapa perlawanan dari pihak Tiongkok, tetapi hal mendasar yang ingin kami capai adalah kami ingin TikTok tetap beroperasi, tetapi kami juga ingin memastikan bahwa kami melindungi privasi data warga Amerika sesuai dengan undang-undang,” ujar Wakil Presiden, JD Vance saat penandatanganan perintah eksekutif.
Trump sendiri tidak memberikan rincian detail tentang kesepakatan tersebut, selain menegaskan bahwa data pengguna AS akan dikendalikan oleh para investor AS.
Ia menyebut nama Oracle, serta tokoh-tokoh terkemuka seperti Rupert Murdoch dan Michael Dell, tanpa menjelaskan peran atau sejauh mana keterlibatan mereka.

Meski janji keamanan data menjadi sorotan utama, muncul pula kekhawatiran tentang potensi perubahan konten di bawah kepemilikan baru.
Para ahli yang berbicara dengan Al Jazeera sebelumnya menyatakan bahwa keterlibatan Larry Ellison dapat memengaruhi konten, agar sesuai dengan pandangan politik Trump.
Namun, Gedung Putih menepis pandangan tersebut sebagai “sama sekali delusi”.
Saat ditanya oleh wartawan apakah konten akan berubah di bawah kepemilikan baru, Trump meyakinkan bahwa setiap sudut pandang akan diperlakukan secara adil. (YA)
Baca juga :





