Washington, AS – Presiden Amerika, Donald Trump mendesak pengunduran diri CEO baru Intel, Lip‑Bu Tan, dan menyebutnya “highly conflicted” karena hubungan investasi ke perusahaan-perusahaan China.
Seruan ini muncul sehari setelah Senator Tom Cotton menyampaikan surat ke dewan direksi Intel, mempertanyakan keterlibatan Tan dalam firma-firma China dan kasus hukum terkait perusahaan terdahulu miliknya, Cadence Design.
Menurut laporan eksklusif dari Reuters, selama masa jabatan Tan di Cadence dan melalui dana ventura yang dikelolanya, ia telah berinvestasi minimal US$ 200 Juta di ratusan perusahaan teknologi dan manufaktur canggih di China, beberapa punya hubungan dengan militer Tiongkok.
Desakan Presiden Trump itupun langsung mendapat respons dari Intel melalui pernyataan resminya.
“Intel, Board of Directors, dan Lip-Bu Tan berdedikasi kuat terhadap keamanan nasional dan ekonomi AS, serta membuat investasi signifikan sesuai dengan agenda ‘America First’ Presiden,” deklarasi itu menyebut Lip‑Bu Tan turut mengumumkan bahwa dirinya dan Intel bekerja sama dengan Pemerintahan AS untuk meluruskan fakta di balik isu ini, dikutip dari Reuters.
Dampak Politik & Finansial
Kicauan Trump di platform Truth Social secara langsung memukul saham Intel, yang turun sekitar 3% di bursa.
Intervensi presiden dalam urusan perusahaan swasta semacam ini tergolong langka, dan menuai kritik serta dukungan bergantian dari investor maupun pengamat industri
Phil Blancato, CEO Ladenburg Thalmann Asset Management kepada The Guardian mengatakan bahwa, “Ini adalah preseden buruk. Presiden seharusnya tidak mendictate siapa yang menjadi pemimpin perusahaan, meski pendapatnya memiliki bobot.”
Sementara David Wagner, Portfolio Manager dari Aptus Capital Advisors menilai ini sebagai sinyal serius bahwa AS ingin memperkuat bisnis domestik.
“Trump memang sibuk urusi banyak hal, tapi ini menunjukkan keseriusannya mengembalikan bisnis ke AS,” ujar Wagner dikutip dari Investing.
Tan sudah resmi menjabat sebagai CEO sejak Maret dan sedang memimpin restrukturisasi besar di Intel, termasuk merampingkan tenaga kerja, menunda pembangunan pabrik, dan menunda berbagai proyek manufaktur
Sebagai penerima subsidi terbesar dari CHIPS Act 2022, sekitar US$ 8 Miliar untuk pembangunan fasilitas chip di AS, tekanan politik dan keamanan saat ini menguji fondasi pemulihan Intel (YA)





