Bandung — Suasana kelas yang kaku dan monoton kini mulai pudar. Digantikan oleh interaksi yang hidup, penuh warna, dan memancing kreativitas.
Perubahan ini bukan sihir, melainkan sentuhan teknologi yang dibawa langsung oleh pemerintah melalui program Digitalisasi Pembelajaran.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat melihat langsung dampaknya di sejumlah sekolah di Bandung.
Kunjungan ini fokus pada penyaluran Papan Interaktif Digital atau yang lebih dikenal sebagai Interactive Flat Panel (IFP).
Perangkat canggih itu telah mengubah cara guru mengajar dan siswa belajar, mengubah dinding kelas menjadi layar interaktif raksasa yang kaya akan ilmu.
Manfaat Nyata di Pendidikan
Di Essenville School, Direktur Ira Juhartinah tak bisa menyembunyikan antusiasmenya. Ia menyebut perangkat ini sebagai “senjata” baru bagi guru untuk menyajikan materi lintas mata pelajaran dengan lebih efektif.

“Kualitas perangkat ini sangat baik. Guru lebih mudah menyampaikan materi, sementara siswa lebih antusias mengikuti pembelajaran. Bahkan saat digunakan untuk pertemuan virtual, kualitas tampilannya tetap prima,” ujar Ira kepada awak media.
Hal serupa juga dirasakan di SDN 132 Ciheurgeulis. Kepala sekolah, Eti Sulastri bahkan menyebut IFP sebagai pemicu semangat baru.
“Dengan adanya media pembelajaran interaktif, suasana kelas menjadi lebih hidup dan anak-anak semakin kreatif. Kami berharap bantuan seperti ini dapat terus berlanjut,” ucapnya.
Sementara di Primary SD Darul Hikam, Rustati Fatimah melihat adanya transformasi mendalam. Menurutnya, IFP membuat pembelajaran lebih atraktif dan bermakna.
“Perangkat ini membuat pembelajaran lebih atraktif dan bermakna. Anak-anak bisa belajar dengan cara yang menyenangkan sekaligus mendalam. Kami berterima kasih kepada pemerintah, khususnya Bapak Prabowo Subianto, atas dukungan nyata terhadap peningkatan mutu pendidikan,” ungkap Rustati.
Teknologi Pembentukan Karakter
Wamen Atip tidak hanya melihat perangkat, tetapi juga berdialog langsung dengan para siswa. Ia menyampaikan kekagumannya pada semangat belajar yang ia lihat.

“Kesan pertama datang ke sini, saya pikir ini adalah salah satu sekolah dasar terbaik di Bandung. Semoga para siswa dapat belajar di sini dengan proses dan mekanisme yang menyenangkan,” kata Atip.
Ia juga menekankan bahwa esensi pendidikan lebih dari sekadar teknologi.
Wamen Atip menyoroti pentingnya pembentukan karakter melalui kebiasaan baik, sejalan dengan program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (KAIH) yang menjadi fokus kementeriannya.
“Fungsi utama dan substansi pendidikan adalah kita harus mempertahankan kebiasaan baik,” tegasnya.
Selain menyambangi sekolah, Wamen Atip juga meninjau langsung pabrik perakitan IFP di Purwakarta dan pabrik distribusinya di Karawang. Langkah ini dilakukan untuk memastikan program pengadaan berjalan sesuai tujuan.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) berkomitmen agar program Digitalisasi Pembelajaran diawasi secara ketat.
Hal ini dilakukan demi memastikan bantuan teknologi ini tepat sasaran dan terhindar dari penyalahgunaan. (YA)





