Jakarta – Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) mengambil langkah cepat untuk menjaga layanan telekomunikasi dan internet masyarakat di Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, agar tetap berjalan normal selama proses restorasi kabel laut Palapa Ring Tengah segmen Tahuna-Melonguane.
Sebagai langkah mitigasi, Kemenkomdigi melalui Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI), menambah kapasitas bandwidth hingga mencapai 50 s.d. 150 Mbps pada 154 titik akses layanan menggunakan jaringan Satelit Republik Indonesia (Satria).
Kebijakan taktis yang diumumkan di Jakarta Pusat ini diterapkan guna menopang sendi-sendi pelayanan publik, serta aktivitas ekonomi di wilayah perbatasan Indonesia yang sempat terancam lumpuh akibat gangguan partial cut (putusnya sebagian) jaringan kabel fiber optik bawah laut.
Di wilayah kepulauan terluar, sinyal internet bukan lagi sekadar pelengkap gaya hidup digital, melainkan sebuah urat nadi penopang kehidupan.
Ketika kabel optik di dasar laut yang sunyi mendadak terputus, sebuah peradaban di beranda negara bisa seketika terisolasi dari dunia luar jika pemerintah tidak bergerak cepat meluncurkan jangkar penyelamat dari langit.
Menembus Batasan Geografis Wilayah
Segmen Tahuna-Melonguane merupakan salah satu jalur strategis nasional, yang menjadi penghubung utama trafik komunikasi dan layanan digital masyarakat di kawasan kepulauan Sulawesi Utara.
Tanpa adanya pemulihan segera, kualitas layanan komunikasi berisiko terganggu dan dapat memengaruhi hajat hidup orang banyak.
Konektivitas digital di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) menopang berbagai sektor vital dasar masyarakat yang meliputi:
- Layanan Pemerintahan Digital: Menjaga roda birokrasi dan administrasi publik di tingkat kepulauan tetap berjalan tanpa hambatan teknis.
- Sektor Pendidikan dan Kesehatan: Memastikan akses data bagi fasilitas sekolah terpencil, serta komunikasi darurat di pusat-pusat kesehatan masyarakat.
- Aktivitas Ekonomi dan Bencana: Menjamin kelancaran transaksi ekonomi harian warga setempat, serta kesiapan sistem komunikasi kebencanaan di wilayah yang memiliki tantangan geografis tinggi.
Guna menghindari gangguan komunikasi berkepanjangan bagi warga kepulauan, Kemkomdigi tidak menunggu hingga kabel laut selesai disambung.
Pemerintah memobilisasi kapasitas cadangan dari Satelit Republik Indonesia (Satria), untuk mengambil alih beban jaringan secara instan.
Selain menyuntikkan tambahan bandwidth hingga 150 Mbps di 154 titik strategis, Kemkomdigi juga terus berkoordinasi intensif dengan berbagai operator seluler.
Langkah ini dilakukan guna memastikan pasokan sinyal pada titik-titik layanan publik, dan objek vital di Sangihe maupun Sitaro sama sekali tidak mengalami kekosongan daya pancar.

Direktur Pengendalian Infrastruktur Digital, Ditjen Infrastruktur Digital Kementerian Komdigi, Indra Maulana menegaskan bahwa konektivitas digital di wilayah terluar berkaitan langsung dengan pelayanan dasar kemanusiaan.
“Seluruh manuver operasional serta penggunaan peralatan bawah laut harus dilakukan secara sangat terukur. Kami harus berhati-hati untuk menjaga keamanan serta keandalan infrastruktur telekomunikasi eksisting di sekitar area kerja,” ujar Indra.
Tantangan Eksistensial di Dasar Laut
Proses restorasi fisik kabel laut itu sendiri menghadapi medan pertarungan teknis yang sangat berat di lapangan.
Operasi pemulihan ini baru dapat dilanjutkan setelah kapal khusus penggelaran kabel fiber optik, Pacific Guardian, menyelesaikan seluruh kesiapan teknisnya dan dinyatakan siap beroperasi penuh di laut dalam.
Kondisi topografi bawah laut di area kerja didominasi oleh formasi batuan dengan kontur yang sangat curam, sehingga membutuhkan tingkat presisi tinggi.
Area penyambungan berada sangat dekat dengan koridor kabel laut aktif lain, tepatnya segmen Ondong Siau-Tahuna, sehingga kesalahan kecil dapat berdampak fatal bagi infrastruktur eksisting.
Akibat kondisi cuaca laut yang dinamis dan tantangan alam tersebut, target penyelesaian pekerjaan dan jadwal Ready For Service (RFS) yang semula direncanakan selesai pada 28 Mei hingga 2 Juni 2026, harus disesuaikan secara terukur hingga 6 Juni 2026.
Plt. Direktur Infrastruktur BAKTI, Darien Aldiano menyampaikan permohonan maaf atas pergeseran waktu pengerjaan demi mengedepankan faktor keselamatan kru dan keandalan jangka panjang.
“Walau menghadapi tantangan cuaca dan karakteristik dasar laut yang ekstrem, seluruh tim teknis tetap berupaya maksimal. Pekerjaan terus dilaksanakan dengan mengedepankan aspek keselamatan dan keandalan jaringan agar layanan kembali normal secepatnya,” ungkap Darien.
Insiden kedaruratan infrastruktur di segmen Tahuna-Melonguane ini memberikan pelajaran penting, mengenai krusialnya sistem mitigasi berlapis bagi kedaulatan digital Indonesia.
Ketika alam laut dalam menguji ketahanan fisik kabel optik Palapa Ring, kesiapan Satelit Satria hadir sebagai perisai yang memastikan masyarakat di beranda utara Nusantara tidak kehilangan haknya untuk terus terhubung.
Pemulihan ini menjadi bukti nyata komitmen negara dalam menjaga pemerataan transformasi digital nasional, tanpa meninggalkan satu wilayah pun di belakang. (*)





