Swiss Alokasikan Rp 1,6 Triliun Untuk Lawan ‘Teror’ Drone Di Bandara!

Studi Terbaru Ungkap Bandara Swiss Tak Siap Hadapi Serangan Drone, Pakar Sebut Bom 500 Gram Bisa Picu Bencana

Zurich, Swiss — Ketika langit Eropa makin ramai dengan insiden drone mencurigakan, Swiss justru tertinggal dalam perlindungan infrastruktur vitalnya.

Sebuah laporan investigasi mengejutkan mengungkapkan bahwa bandara-bandara di negara itu, termasuk Bandara Bern-Belp, sangat rentan terhadap serangan drone.

Para ahli memperingatkan, sebuah drone “mainan” seharga seribu franc bisa membawa 500 gram bahan peledak dan memicu bencana besar.

Ancaman ini bukan lagi spekulasi. Sejak pecahnya perang di Ukraina, insiden drone di dekat fasilitas militer, pembangkit listrik, dan bandara di seluruh Eropa meningkat pesat.

Baru-baru ini, drone berhasil melumpuhkan operasional bandara di Kopenhagen dan Oslo. Bahkan, intelijen Jerman mencatat lonjakan insiden yang signifikan, mendorong mereka untuk meng-upgrade sistem pertahanan mereka.

Kesiapan Swiss Tertinggal

Meskipun ancaman sudah di depan mata, kesiapan Swiss masih dipertanyakan. Otoritas Penerbangan Sipil Federal (FOCA) mengakui adanya peningkatan jumlah insiden drone dalam tiga tahun terakhir.

Namun, Juru Bicara FOCA, Christian Schubert menyatakan, “Peraturan internasional tidak secara spesifik mengatur bagaimana mengatasi bahaya drone,” dikutip dari Bernnews Today.

Kenyataannya, hanya segelintir bandara yang memiliki sistem deteksi modern. Salah satunya Bandara St. Gallen-Altenrhein, yang telah memasang sistem profesional pada 2020 lalu.

Sistem ini menggunakan sensor pasif dari perusahaan Australia, DroneShield, yang mampu mendeteksi posisi drone dan memberikan gambar langsung ke menara kontrol.

Bandara Zurich juga telah mengadopsi sistem serupa. Juru Bicara Andrea Barwalde mengonfirmasi bahwa, “Sistem deteksi drone sudah digunakan sejak awal tahun.”

Sistem ini dapat mengidentifikasi drone terdaftar maupun yang tidak terdaftar, memungkinkan insiden keamanan dapat didokumentasikan dan dilacak.

Namun, di balik transparansi sebagian bandara, beberapa lainnya memilih bungkam. Bandara Geneva dan Euro-Airport Basel menolak membeberkan detail sistem keamanan mereka dengan alasan “demi keamanan.”

Ironisnya, menurut laporan Bernews Today, Bandara Bern-Belp yang sering melayani penerbangan penting termasuk penerbangan kenegaraan, secara blak-blakan mengakui kelemahannya.

CEO Bandara Bern, Urs Ryf menyatakan, “Memang benar, Bandara Bern-Belp tidak memiliki sistem deteksi drone. Ini terlalu mahal untuk bandara regional.”

Ryf menambahkan, “Ada resiko residual di mana drone kecil dapat bertabrakan dengan pesawat saat lepas landas atau mendarat, atau bahkan masuk ke dalam mesin.”

Meskipun ia meyakinkan bahwa bandara dipantau 24 jam selama seminggu, ia mengakui, “Serangan atau sabotase tidak akan pernah bisa dikesampingkan sepenuhnya.”

Drone Senjata Teror

Pakar Drone dari ETH Zurich, Roland Siegwart kepada Bernews Today menjelaskan betapa mudahnya ancaman ini diwujudkan.

Ia menyebut bahwa sebuah quadcopter, drone yang banyak digunakan oleh pilot amatir, bisa diubah menjadi senjata mematikan.

“Dengan sedikit pengetahuan teknis, serangan terhadap pesawat yang sedang lepas landas tidak akan sulit,” ujarnya.

Siegwart menambahkan, sistem geo-fencing yang seharusnya mencegah drone memasuki area terlarang, dapat dengan mudah dilumpuhkan.

“Quadcopter semacam itu dapat dengan mudah mengangkut 500 gram bahan peledak atau lebih,” kata Siegwart. “Ini bisa menyebabkan kerusakan parah di bandara.”

Foto: Dok. FOCA

Ancaman ini juga diakui oleh Federal Office of Civil Aviation (FOCA), yaitu Kantor Federal Penerbangan Sipil Swiss.

Juru bicara FOCA, Christian Schubert menegaskan, “Bahaya terbesar dari drone yang terbang di dekat bandara adalah resiko tabrakan dengan pesawat.”

“Masuknya drone seberat 250-500 gram ke dalam mesin pesawat, dapat menyebabkan kegagalan mesin,” tambahnya.

Meskipun beberapa bandara mulai berinvestasi, Pakar ETH, Siegwart pesimistis. “Hingga saat ini, tidak ada sistem pertahanan yang menawarkan perlindungan benar-benar baik,” katanya.

Dia menggambarkan situasi ini sebagai “perlombaan tanpa henti antara produsen drone dan pengembang sistem pertahanan.”

Meski militer Swiss juga telah melakukan uji coba pertahanan drone dan mengalokasikan dana, sebuah laporan dari Dewan Federal menunjukkan adanya “kesenjangan signifikan.”

Dengan dana 100 Juta Franc, pemerintah berharap bisa membangun pertahanan yang efektif pada tahun 2033.

Namun, banyak pihak meragukan anggaran tersebut akan cukup untuk mengatasi ancaman yang terus berkembang pesat. (YA)

Baca juga : 

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *