Pasca Banjir & Longsor di Sumatra, Korban Jiwa Tembus 303

BNPB: Tapteng-Sibolga Terisolasi, Pencarian Korban Terus Berlanjut

Sibolga  — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa situasi pascabencana di dua wilayah Sumatra Utara, yaitu Tapanuli Tengah (Tapteng) dan Kota Sibolga, masih memerlukan penanganan dan perhatian serius dari pemerintah pusat.

Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto menyoroti kondisi geografis dan akses yang terputus sebagai kendala utama dalam penanganan bencana banjir dan longsor di dua daerah tersebut.

Ketua BNPB (Tengah) – Foto: Dok. BNPB

“Yang sekarang masih perlu mendapat perhatian secara serius adalah dua daerah, yang pertama Tapanuli Tengah, yang kedua Sibolga,” ujar Suharyanto dalam konferensi pers di Jakarta, Minggu (30/11/25).

Akses Terisolasi Hambat Logistik

Menurut Suharyanto, Tapanuli Tengah saat ini berada dalam kondisi terisolasi. Akses menuju wilayah tersebut dilaporkan terputus, sehingga hanya dapat ditembus melalui jalur udara.

Kondisi serupa terjadi pada Kota Sibolga yang terletak di dalam wilayah Tapanuli Tengah.

“Kenapa ini mendapat perhatian penuh, karena terisolir, jadi Tapanuli Tengah ini hanya bisa dicapai lewat udara, dimana di Tapanuli Tengah itu ada Kota Sibolga,” jelasnya.

Kota Sibolga, lanjut Suharyanto, hanya dapat dijangkau melalui jalur darat dari Tapanuli Tengah atau melalui jalur laut.

Kondisi banjir & longsor di Sibolga – Foto: Dok. BNPB

BNPB Luruskan Isu “Penjarahan”

BNPB juga memberikan klarifikasi mengenai video yang sempat viral di media sosial, yang memperlihatkan sekelompok warga Sibolga mengambil logistik dari sebuah toko.

Suharyanto menegaskan bahwa peristiwa tersebut bukan merupakan aksi penjarahan murni, melainkan upaya warga untuk mengamankan bahan makanan.

“Jadi kami sudah cek ke personil kami yang bisa masuk ke sana, itu mereka mengambil bahan makanan, jadi tidak bersifat menjarah atau merusak, memecahkan kaca dan lain sebagainya, tidak.,” tegas Kepala BNPB.

Aksi pengambilan bahan makanan tersebut, menurut Suharyanto, didasari oleh kekhawatiran dan ketakutan masyarakat terhadap keterbatasan stok makanan akibat akses yang tertutup total.

“Ya mungkin mereka khawatir, takut, karena tertutup dan bahan makanannya terbatas, sehingga itu yang dilakukan. Nah ini yang sebagian viral ke media sosial,” pungkasnya.

303 Jiwa Meninggal Dunia

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa jumlah korban meninggal akibat serangkaian bencana banjir dan tanah longsor yang melanda tiga provinsi di Pulau Sumatra terus bertambah.

Total korban jiwa tercatat mencapai 303 orang. Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, menyampaikan pembaruan data tersebut dalam konferensi pers pada Sabtu (29/11/25) sore.

“Korban meninggal dunia di Sumut capai 166 orang, Aceh 47 orang, dan Sumbar 90 orang,” ujar Suharyanto, seraya menambahkan bahwa upaya pencarian dan pertolongan oleh Satgas gabungan masih terus dilakukan.

Sumatra Utara (Sumut) menjadi provinsi dengan jumlah korban meninggal dunia terbanyak, yakni 166 orang, meningkat 60 jiwa dari data sebelumnya.

Selain itu, sebanyak 143 orang di delapan wilayah terdampak di Sumut, termasuk Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Mandailing Natal, dilaporkan masih hilang hingga saat ini.

Bencana longsor di Aceh

Data Korban di Aceh & Sumbar

Di Aceh, data terbaru menunjukkan total 47 orang meninggal dunia dengan 51 orang lainnya masih hilang.

Korban tewas dan hilang tersebar di beberapa kabupaten, dengan Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Aceh Tenggara mencatat angka tertinggi.

Sementara di Sumatra Barat (Sumbar) mencatat 90 orang meninggal dunia dan 85 orang masih hilang. Angka korban di Sumbar menduduki urutan kedua setelah Sumut.

Tim SAR di Solok, Sumbar

“Untuk Padang meningkat, justru sekarang nomor dua yang meninggal dunia setelah Sumut korban jiwanya,” jelas Suharyanto.

Penambahan korban meninggal baru dilaporkan pada Minggu  (30/11/25) berasal dari Kabupaten Agam, yang mencatat 74 korban jiwa dan 78 orang hilang, serta Kabupaten Pasaman Barat dan Kota Padang Panjang. Selain itu terdapat pula 10 korban luka-luka di Sumbar.

Operasi SAR (Search and Rescue) difokuskan pada wilayah-wilayah dengan korban hilang terbanyak, melibatkan tim gabungan untuk menembus lokasi-lokasi yang masih terisolasi akibat dampak bencana.(NR)

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *