Riyadh, Arab Saudi – Di balik sorak-sorai kemenangan, terselip bara protes yang mengancam integritas turnamen.
Al-Ahli resmi mengamankan tiket final AFC Champions League (ACL) Elite kedua mereka secara berturut-turut, setelah menundukkan Vissel Kobe 2-1 di Riyadh.
Namun, euforia final ini dibayangi kontroversi besar setelah Shabab Al Ahli secara resmi mengajukan protes ke AFC, dan menuntut pertandingan ulang atas kekalahan mereka 0-1 di semifinal lainnya melawan Machida Zelvia.
Kemenangan Al-Ahli diraih melalui comeback dramatis berkat gol roket Galeno dan penyelesaian dingin Ivan Toney.
Sementara itu, Shabab Al Ahli meradang setelah gol penyeimbang mereka dianulir wasit Shaun Evans karena alasan teknis pergantian pemain, yang memicu kemarahan besar dari pihak klub UEA tersebut.
Al-Ahli ke Final Lagi
Al-Ahli menunjukkan mentalitas juara di bawah asuhan Matthias Jaissle.
- Meski sempat tertinggal di babak pertama lewat gol Yuya Osako dari Vissel Kobe, The Greens tidak panik.
- Mereka terus menekan pertahanan rapat tim Jepang tersebut hingga kebuntuan pecah di menit ke-62.
- Wenderson Galeno, pemain asal Brasil, melepaskan tendangan geledek dari luar kotak penalti yang mengubah skor menjadi 1-1.
- Momentum ini dimanfaatkan sempurna oleh Ivan Toney pada menit ke-70, yang menyambar bola liar di depan gawang untuk memastikan kemenangan 2-1.

Mahrez sempat mengira telah menambah gol ketiga beberapa menit kemudian, namun wasit menganulirnya karena offside. Gol itu sebenarnya bisa membuat Al-Ahli bermain lebih tenang di 15 menit terakhir, Namun sang juara bertahan menunjukkan kelasnya mengapa mereka bisa mencapai final lagi dengan meredam setiap ancaman Vissel Kobe hingga laga usai.
Kemenangan ini membawa Al-Ahli kembali ke partai puncak, untuk mempertahankan status juara mereka.
Shabab Al Ahli Gugat Hasil Laga
Berbeda nasib dengan Al-Ahli, klub UEA Shabab Al Ahli justru pulang dengan rasa pahit setelah kalah 0-1 dari Machida Zelvia. Mereka resmi mengajukan keberatan kepada AFC sebelum meninggalkan stadion di Jeddah.
Inti masalahnya adalah dianulirnya gol Guilherme Bala di menit ke-93, yang seharusnya membuat skor imbang 1-1 melawan Machida Zelvia.
Wasit Shaun Evans menganulir gol tersebut, setelah VAR menilai lemparan ke dalam dilakukan sebelum pemain Machida Zelvia selesai melakukan pergantian pemain.
Pelatih Shabab Al Ahli, Paulo Sousa, menyebut hal ini sebagai “kesalahan teknis serius” karena wasitlah yang mengizinkan permainan berlanjut sejak awal.

- Tuntutan Tanding Ulang: Shabab Al Ahli meminta AFC membatalkan hasil dan mengulang pertandingan.
- Protes Keras Pemain: Kiper Hamad Al Maqbali menerima kartu merah setelah menuduh wasit sengaja menyingkirkan timnya.
- Dukungan Federasi: Asosiasi Sepak Bola UEA resmi mendukung langkah hukum Shabab Al Ahli.
- Desakan Waktu: AFC harus memutuskan dengan cepat, karena final dijadwalkan berlangsung pada Sabtu depan melawan Al-Ahli.
Situasi kini menjadi sangat pelik bagi AFC. Di satu sisi, Al-Ahli sudah bersiap merayakan final di Stadion Al-Inma. Di sisi lain, tim Shabab Al Ahli memilih bertahan di Jeddah untuk menunggu kepastian hukum atas tuntutan mereka.
Jika protes ditolak, Machida Zelvia akan tetap melaju menantang Al-Ahli. Namun, jika AFC menemukan adanya kesalahan prosedur teknis dari wasit, jadwal final dipastikan akan berantakan. (*)
Baca juga :





