Los Angeles, AS – Los Angeles kembali menjadi panggung gejolak sosial Amerika. Walikota Karen Bass pada (10/06/25) resmi memberlakukan jam malam di pusat kota.
Kebijakan ini muncul di tengah gelombang unjuk rasa yang telah memasuki hari kelima, sebagai bentuk penolakan terhadap kebijakan imigrasi keras Presiden Donald Trump.
Gambaran ini mengingatkan kita pada momen-momen kelam dalam sejarah Amerika, militer turun ke jalan, demonstrasi berubah tegang, dan retorika pemimpin nasional memecah belah publik.
Razia Imigrasi dan Amarah Publik
Dilansir dari AP News, aksi protes dipicu oleh penangkapan puluhan pekerja imigran dalam razia yang dilakukan oleh otoritas federal di wilayah Los Angeles pada Jumat (06/06/25).

Demonstran menyebut tindakan ini sebagai pelanggaran hak asasi manusia, dan aksi solidaritas menyebar luas ke kota lain seperti New York, Dallas, Austin, hingga Chicago.
“Trump ingin diam kita. Tapi kita harus bicara,” kata Gavin Newsom, Gubernur California, dalam pidato publiknya.
- Hingga Selasa malam, 197 orang ditangkap, termasuk 67 pengunjuk rasa yang memblokade jalan bebas hambatan 101.
- Tuduhan berkisar dari tidak membubarkan diri hingga percobaan pembunuhan, karena pelemparan bom molotov.
- Tujuh polisi terluka, dua di antaranya sempat dirawat di rumah sakit.
- Menurut Pentagon, biaya pengerahan militer sejauh ini mencapai $134 juta USD.
- Gubernur Texas, Greg Abbott menyiagakan Garda Nasional di kota-kota besar seperti San Antonio dan Austin.
- Di New York, ribuan orang memadati pusat kota dan puluhan penangkapan dilaporkan.

Jam Malam Ditetapkan, Trump Aktifkan Ribuan Pasukan
Walikota Karen Bass menetapkan jam malam dari pukul 20.00 hingga 06.00 untuk kawasan pusat kota seluas 2,5 Km². Alasannya ? 23 bisnis dijarah dalam dua malam sebelumnya. Bass menyebutnya “titik balik.”
Polisi Los Angeles (LAPD) menyatakan bahwa sebagian besar demonstrasi berjalan damai, namun “aktivitas berbahaya meningkat sejak Sabtu. Jam malam ini bukan untuk membungkam protes damai, tapi untuk melindungi nyawa dan propert,” menurut Kepala Polisi, Jim McDonnell dikutip dari AP News.
Presiden Amerika, Donald Trump mengerahkan lebih dari 4.000 personel Garda Nasional dan 700 Marinir, meskipun kehadiran Marinir belum terlihat di Los Angeles.
Dalam pernyataannya di Fort Bragg, Trump menyebut demonstran sebagai “binatang” dan “musuh asing,” pernyataan yang dikecam luas oleh para pemimpin sipil.
“Ini bukan hanya tentang California. Negara bagian lain akan menyusul. Ini bukan keamanan ini penindasan,” ujar Gubernur California, Gavin Newsom.
Gubernur Newsom mengajukan gugatan mendesak, untuk menghentikan dukungan militer terhadap operasi ICE (Immigration and Customs Enforcement).
Ia menyebut pengerahan ini sebagai bentuk “jaring militer” yang bisa memperkeruh suasana. Pengadilan belum memutuskan, dan sidang lanjutan dijadwalkan Kamis.
Sekolah & Warga Diliputi Ketakutan Aktivitas ICE

Menurut laporan The Associated Press, meskipun tekanan publik tinggi, laporan menyebutkan ICE tetap beroperasi di lokasi umum seperti perpustakaan, tempat cuci mobil, dan Home Depot.
Beberapa sekolah di Los Angeles meningkatkan pengamanan wisuda, bahkan menyediakan opsi menyaksikan secara virtual bagi orang tua yang takut ditangkap.
Apa yang terjadi di Los Angeles bukan hanya konflik lokal. Ini adalah cerminan dari ketegangan nasional antara kekuasaan federal dan hak-hak sipil, antara suara warga dan kebijakan negara.
Ketika militer mulai turun ke jalan, pertanyaannya bukan hanya soal keamanan, tapi juga soal demokrasi. (YA)





