Timor-Leste dan Mimpi ASEAN: Dari Luka Masa Lalu Menuju Panggung Regional

Negara Termuda di Asia Tenggara ini Bersiap Menjadi Anggota Penuh ASEAN Pada Oktober 2025

Dili, Timor Leste – Ana Hula muda masih ingat betul siang kelam itu. Usianya baru lima tahun ketika sekelompok pria berikat kepala merah putih menerobos rumahnya di Liquica pada 1999.

Mereka adalah milisi pro-Indonesia, datang dengan pisau dan ancaman.

“Kalau kami tidak menemukan suamimu, kami akan bunuh kamu,” teriak mereka kepada ibunya.

Ayah Ana berhasil kabur lewat jendela. Sehari sebelumnya, ia melihat pamannya nyaris ditembak di kepala oleh salah satu milisi. Keesokan harinya, keluarganya melarikan diri ke Atambua, Indonesia.

Itulah sebagian potret kekerasan yang terjadi setelah referendum 30 Agustus 1999, ketika 80 persen rakyat Timor-Leste memilih merdeka dari Indonesia.

Milisi pro-Jakarta melampiaskan amarah: rumah dibakar, kantor dan gereja dijarah, lebih dari 2.000 nyawa melayang, dan 75 persen infrastruktur luluh lantak. Sekitar 250.000 orang mengungsi menurut data UNHCR.

Luka, Harapan, dan ASEAN

Foto : Dok. The Straits Times (Antonio Daciparu)

Kini, dua dekade berlalu. Ana yang pernah memungut peluru di tanah pada konflik 2006 telah menjadi lulusan terbaik Fakultas Hukum di Universitas Nasional Timor-Leste.

Ia tengah mempersiapkan ujian advokat sambil bekerja di firma hukum asal Singapura.

“Saya ingin memperjuangkan keadilan dan kesetaraan,” ujarnya kepada The Straits Times. “Saya tidak ingin masa lalu terulang lagi.”

Baginya, harapan datang dari ASEAN. “Kalau ingin bersaing dengan negara-negara lain di kawasan, kita harus berkembang. Keanggotaan ASEAN bisa membuka pintu keterampilan, jaringan, dan motivasi,” tuturnya.

Jalan Panjang ke Meja ASEAN

Timor-Leste resmi mengajukan permohonan bergabung ke ASEAN pada tahun 2011. Namun baru pada 2022 diberi status pengamat (observer).

Masuknya sebagai anggota penuh masih harus menunggu kesiapan yang diukur dari tujuh tolok ukur (road map), termasuk reformasi ekonomi dan kepatuhan terhadap perjanjian dagang.

Presiden Timor-Leste, Jose Ramos-Horta yang juga penerima Nobel Perdamaian, menegaskan bahwa bergabung dengan ASEAN adalah prioritas utama sejak ia kembali menjabat pada 2022.

“Ketika saya terpilih lagi sebagai presiden, saya bertanya: Apa prioritas mutlak Timor-Leste? Jawabannya: Bergabung dengan ASEAN. Tidak ada yang lain,” ujarnya dalam wawancara dengan The Straits Times

Beberapa negara anggota sempat menyangsikan kesiapan Timor-Leste—menyebut lembaga pemerintahan yang masih lemah dan sumber daya terbatas. Namun Ramos-Horta justru bersyukur atas kritik itu.

“Saya sangat berterima kasih kepada mereka yang dulu bersikeras bahwa kami belum siap. Karena itu mendorong kami membangun SDM dan ekonomi dengan lebih baik,” katanya.

Hingga saat ini, enam dari tujuh syarat telah dipenuhi. Tantangan terakhir adalah mempercepat reformasi ekonomi. Presiden Ramos-Horta optimistis semua target akan rampung sebelum KTT ASEAN Oktober 2025, yang akan menjadi momen sejarah bergabungnya Timor-Leste sebagai anggota ke-11 ASEAN.

Foto : Dok. The Straits Times (Antonio Daciparu)

Di dalam Istana Kepresidenan Dili, satu ruangan telah siap digunakan: Asean Hall. Di sana, bendera dari 10 negara anggota ASEAN berdiri berjajar, potret para pemimpin menghiasi dinding.

Ramos-Horta berharap ruangan itu akan menjadi saksi sejarah dimulainya babak baru bagi bangsanya.

“Kami akan sangat bodoh jika tidak mengambil kesempatan dari negara-negara tetangga yang kaya dan sukses,” kata Ramos-Horta. “Bergabung dengan ASEAN berarti kami mendapat manfaat. Kami tak kehilangan apa-apa,” ujar Horta dikutip dari Siaran Pers Sekretariat ASEAN.

Masa Depan di Cakrawala

Bagi rakyat Timor-Leste khususnya generasi muda seperti Ana keanggotaan ASEAN bukan hanya soal kebanggaan politik. Ini tentang pembukaan akses ke pendidikan, pekerjaan, teknologi, dan perdamaian yang lestari.

Negara seluas 15.000 km² dengan 1,3 juta jiwa ini memiliki posisi strategis di antara Indonesia dan Australia.

Dengan bergabung di ASEAN, Timor-Leste berharap tak lagi berada di pinggiran geopolitik Asia Tenggara, tetapi ikut mengambil peran dalam membentuk masa depan kawasan.

Timor-Leste telah melewati jalan panjang penuh luka dan harapan. Kini, bangsa muda itu bersiap menyongsong babak baru.

Dari anak-anak yang dulu bersembunyi dari peluru, lahirlah generasi baru yang siap berdiri sejajar di panggung Asia Tenggara.

Sebagaimana kata Ana, “Kita bisa kuat kalau kita terus belajar dan bersatu. ASEAN bukan tujuan akhir, tapi awal untuk bergerak lebih jauh.” (YA)

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *