Air Mata, Harapan, dan Mimpi di Sekolah Rakyat: Cerita Hari Pertama di Mulai

Saat Sekolah Rakyat Dimulai, Tangis Haru dan Doa Mengiringi Langkah Kecil Menuju Masa Depan

Jakarta – Matahari pagi belum tinggi saat halaman Sentra Handayani, Jakarta Timur, mulai dipenuhi oleh langkah-langkah kecil penuh harap.

Senin (14/07/25) pagi menjadi awal baru bagi 100 anak dari berbagai penjuru negeri, yang resmi memulai kehidupan belajar mereka di Sekolah Rakyat Menengah Pertama, sebuah inisiatif pendidikan berasrama yang digagas oleh Kementerian Sosial atas arahan Presiden Prabowo Subianto.

Seperti pantauan Media Kemensos RI, dibalik semangat anak-anak yang memulai lembaran baru, tersimpan kisah-kisah haru dari para orangtua yang untuk pertama kalinya harus melepaskan buah hati mereka dari dekapan harian.

Foto: Dok. Kemensos

“Kalau dibilang sedih ya sedih, tapi kita sudah lilahi ta’ala,” ujar Hendra, seorang pengemudi ojek online yang mengantarkan putrinya Hafiza pada simulasi asrama.

Pelukannya pada sang anak terasa lama, seolah ingin menyalurkan semua keyakinan dan restu dalam satu dekap hangat. Hendra tahu, tak mudah membiarkan sang putri jauh darinya, namun ia juga sadar bahwa setiap cita-cita butuh ruang tumbuh.

“Yang penting tujuan anak lebih baik. Saya siap untuk langkah selanjutnya selama anaknya senang,” tambahnya dengan mata yang mulai berkaca.

Di sisi lain, Istiqomah, ibu dari Almunawaroh, menangis dalam pelukan putrinya.

Foto: Dok. Kemensos

“Tadi malam enggak bisa tidur. Karena kan enggak pernah pisah sama anak,” ucapnya lirih sambil menyeka pipinya yang basah.

Namun ia juga tidak kalah kuat. Tangisnya adalah bentuk cinta, bukan keraguan.

“Saya semangat saja, doa dari rumah. Mudah-mudahan anak makin disiplin, makin sukses.”

Sekolah Rakyat: Di Antara Rindu dan Cita-Cita

Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat menimba ilmu. Ia adalah rumah baru bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu, tempat karakter dibentuk, kedisiplinan ditanam, dan harapan disiram dengan kasih sayang.

Program ini lahir dari kepedulian pemerintah, terhadap akses pendidikan anak-anak dari latar belakang sosial ekonomi menengah ke bawah.

Di Cimahi, Maulida Nur Athiyah, salah satu siswa asal Padasuka, Cimahi Tengah, dengan lugas menyebut cita-citanya: “Saya ingin jadi dokter.”

Ayahnya bekerja di sebuah warung nasi di Tangerang, dan hanya bisa mengunjunginya sebulan sekali. Sementara itu, Maulida tinggal bersama bibinya sejak kelas 4 SD.

“Saya tak mampu untuk membiayai sekolahnya,” ujar Atin Supriyatin, sang bibi. “Syukur Alhamdulillah dengan adanya program Pak Prabowo. Jadi dia bisa melanjutkan pendidikannya dan mencapai cita-citanya.”

Menteri Sosial, Gus Ipul berdialog dengan salah satu siswa Sekolah Rakyat di Cimahi, Jawa Barat – Foto: Dok. Kemensos

Sentuhan Kemanusiaan di Balik Aturan

Yang membuat Sekolah Rakyat istimewa adalah pendekatannya yang manusiawi. Menteri Sosial, Saifullah Yusuf (Gus Ipul) memastikan bahwa anak-anak tetap dapat merasakan kasih sayang keluarga di tengah kehidupan berasrama.

“Presiden mengizinkan orang tuanya datang kapan saja ketika mereka rindu pada putra-putrinya,” kata Gus Ipul, seperti dikutip dari Siaran Pers Kemensos RI.

Tidak ada jadwal kaku untuk menjenguk, bahkan ruangan khusus akan disiapkan bagi orang tua yang ingin mengunjungi anaknya.

“Sekolah harus membuka diri. Rindu tidak bisa dijadwalkan dalam kalender,” tambah Gus Ipul.

Kebijakan ini menjadi semacam jembatan antara dunia pendidikan dan rumah. Hal itu membuktikan bahwa dalam membangun karakter dan masa depan, cinta keluarga tetap menjadi fondasi utama.

Guru, Sepatu, dan Harapan

Kepala Sekolah Rakyat Sentra Abiyoso Cimahi, Muhammad Ikhsan Ramadhan menyambut para orang tua dengan hangat.

Ia memperkenalkan tujuh guru yang siap mendampingi para siswa, sambil menyampaikan bahwa masih ada tiga guru lain dalam perjalanan dari Tasikmalaya, Rembang, dan Demak.

“Alhamdulillah, bapak ibu didukung sepenuhnya oleh pemerintah, dari sepatu, pakaian tidur, hingga alat makan,” ujar Ikhsan kepada Media Kemensos.

Ia berpesan kepada para siswa: “Lanjutkan terus sampai SMA, jangan putus.”

Pesan itu sederhana namun sarat makna. Di hadapan anak-anak yang mungkin selama ini hidup dalam keterbatasan, ada jalan panjang yang kini terbuka. Dan Sekolah Rakyat adalah pintu awalnya.

Mimpi yang Tak Lagi Jauh

Sekolah Rakyat bukan hanya tentang kelas, seragam, dan disiplin. Ia adalah ruang baru bagi anak-anak untuk menumbuhkan keyakinan bahwa mereka layak bermimpi tinggi.

Ia juga menjadi tempat bagi orangtua, meski terpisah secara fisik untuk tetap hadir melalui doa dan dukungan batin.

Foto: Dok.Kemensos

Di sudut halaman, nenek Masiri memeluk cucunya, Rizki Lani. Ia tak berkata banyak, tapi setiap elusan di kepala cucunya adalah bahasa cinta yang tak perlu dijelaskan.

“Sehari aja enggak bareng, ya kangen. Tapi saya tenang, di sini ada pembimbing,” ucapnya tulus.

Ketika Air Mata Menjadi Doa

Di Sekolah Rakyat, setiap tetes air mata adalah doa yang mengiringi langkah kecil menuju masa depan. Setiap pelukan adalah restu tak bersuara yang berkata: “Terbanglah, anakku. Dunia menantimu.”

Tanggal 14 Juli 2025 bukan hanya hari dimulainya sekolah. Ia adalah hari dimulainya perubahan. Sebuah perjalanan panjang yang dimulai dari satu langkah kecil namun penuh keyakinan. (YA)

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *