Anas al-Sharif, Suara Gaza yang Dibungkam! Jurnalis Jadi Target di Israel

Teror di Balik Tenda Jurnalis: Mengapa Israel Targetkan Wajah-Wajah Berita Paling Berani di Gaza?

Gaza, Palestina – Serangan udara Israel kembali mengguncang Gaza, namun kali ini sasarannya menimbulkan gelombang kecaman global.

Lima jurnalis, termasuk koresponden Al Jazeera yang paling dikenal, Anas al-Sharif, tewas dalam serangan terencana terhadap tenda kerja mereka di gerbang Rumah Sakit al-Shifa.

Peristiwa tragis ini bukan kecelakaan. Ini adalah pembunuhan yang disengaja, di mana militer Israel mengakui serangannya menuding para jurnalis yang dianggapnya sebagai ‘militan Hamas’ sebagai target sah.

Namun, apa motif di balik serangan yang menewaskan “suara Gaza” ini, dan mengapa dunia terus bungkam?

Detik-Detik Mencekam di Gerbang Al-Shifa

Pada Minggu (10/08/25), suasana di sekitar Rumah Sakit al-Shifa di Gaza City mendadak hening. Sekitar pukul 23:35 waktu setempat, sebuah serangan drone Israel menghantam tenda yang menjadi markas darurat para jurnalis Al Jazeera.

Tenda itu, yang dikenal sebagai pusat kerja karena memiliki akses listrik dan internet yang lebih baik, langsung berubah menjadi puing-puing yang terbakar.

Jurnalis lepas Mohammed Qeita, yang berada di dekat lokasi, menggambarkan kengerian yang ia saksikan.

“Api sangat besar,” ujarnya. “Saya tidak hanya menjadi saksi, saya adalah bagian dari kejadian itu… Kami tahu Anas-lah yang menjadi target,” jelasnya kepada Al Jazeera.

Rekan jurnalis Amer al-Sultan, yang juga berada di lokasi menceritakan bagaimana ia melihat tubuh Anas al-Sharif tergeletak di tanah dan Mohammed Qreiqeh yang terbakar.

“Kami mulai menariknya keluar dan mencoba memadamkan api,” kenang al-Sultan. Sayangnya, Qreiqeh tidak dapat diselamatkan dan meninggal sebelum tim medis bisa memberinya pertolongan.

Lima Jurnalis Pemberani yang Gugur

Grafis: Dok. Al Jazeera

Kematian kelima jurnalis ini menimbulkan duka mendalam bagi dunia jurnalistik, terutama di Gaza.

  1. Anas al-Sharif (28), wajah ikonik Al Jazeera dari Gaza. Jurnalis ini dikenal karena laporannya yang tak kenal takut, bahkan setelah ayahnya terbunuh dalam serangan Israel pada Desember 2023.
  2. Mohammed Qreiqeh (33), koresponden andal yang dikenal dengan gaya bicaranya yang fasih.
  3. Ibrahim Zaher (25), Juru Kamera dari kamp pengungsi Jabalia.
  4. Mohammed Noufal (29), Juru Kamera yang telah kehilangan ibu dan saudara laki-lakinya dalam serangan Israel sebelumnya.
  5. Moamen Aliwa, (23), Juru Kamera Al Jazeera.

Dalih Israel & Fakta yang Terbantahkan

Militer Israel dengan cepat mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Mereka menuduh Anas al-Sharif sebagai komandan Hamas yang “menyamar” sebagai jurnalis, serta menuduh ia terlibat dalam serangan roket terhadap warga sipil Israel.

Namun, tuduhan ini langsung dibantah oleh Al Jazeera dan berbagai organisasi kebebasan pers. Muhammad Shehada, Seorang Analis di European Council on Foreign Relations menyebut bahwa tidak ada “bukti, nol” yang menunjukkan keterlibatan al-Sharif dalam permusuhan.

“Seluruh rutinitas hariannya adalah berdiri di depan kamera dari pagi hingga malam,” tegasnya kepada Al Jazeera.

Ini bukan kali pertama Israel menggunakan dalih serupa untuk menargetkan jurnalis. Komite untuk Melindungi Jurnalis (CPJ) menyatakan bahwa, “Pola Israel dalam melabeli jurnalis sebagai militan tanpa memberikan bukti yang kredibel, menimbulkan pertanyaan serius tentang niat dan penghormatan mereka terhadap kebebasan pers.”

Anas al-Sharif adalah salah satu dari sedikit jurnalis yang memilih untuk tetap berada di Gaza utara, melaporkan kekejaman perang secara langsung meskipun ancaman terus datang.

Ia menjadi simbol keberanian, suara bagi mereka yang tak bersuara, dan jendela bagi dunia untuk melihat realitas di Gaza. Anas sudah lama menjadi sasaran militer Israel.

Anas jurnalis yang dibunuh Israel, di kenang sebagai Jurnalis Panutan – Foto: Dok. Al Jazeera

Dalam wawancara terakhirnya dengan Committee to Protect Journalists (CPJ),  anas mengatakan, “Saya hidup dengan rasa bahwa saya bisa dibom kapan saja. Tapi saya tidak akan berhenti menyampaikan kebenaran.”

Namun, Militer Israel berdalih bahwa serangan ini dibenarkan karena “ancaman keamanan,” tetapi dokumen yang diklaim sebagai bukti tidak pernah dipublikasikan.

The Guardian dan media internasional lainnya tidak dapat memverifikasi klaim tersebut secara independen.

Jangan Diam, Jangan Butakan Mata

Beberapa bulan terakhir, Israel telah meningkatkan kampanye kotor terhadapnya. Juru Bicara Militer Israel, Avichay Adraee secara terbuka menyebut nama al-Sharif di media sosial X, menuduhnya sebagai bagian dari sayap militer Hamas.

Klaim yang dibantah sebagai “serangan terang-terangan terhadap jurnalis” oleh Irene Khan, Pelapor Khusus PBB untuk kebebasan berekspresi.

Anaspun dalam unggahan terakhirnya di platform X sebelum terbunuh, menulis:

Aku telah hidup dalam derita, kehilangan, dan kehancuran. Tapi tak sekali pun aku menyimpang dari kebenaran… Biarlah Tuhan menjadi saksi atas mereka yang membisu saat kami dibunuh.”

Direktur Eksekutif Human Rights Watch, Ken Roth menegaskan bahwa serangan ini adalah “pembunuhan yang disengaja”.

“Ini bukan pembunuhan yang tidak disengaja. Ini bukan jurnalis yang kebetulan terjebak dalam pemboman Israel yang membabi buta,” kata Roth, seraya menambahkan, “Ini adalah pembunuhan yang ditargetkan.”

Menurut data dari kantor media pemerintah Gaza, hampir 270 jurnalis telah tewas sejak dimulainya perang ini.

Angka ini, menurut proyek The Costs of War, lebih banyak daripada jumlah jurnalis yang tewas dalam gabungan Perang Dunia I dan II, Perang Vietnam, dan perang-perang di Yugoslavia serta Afghanistan.

Seiring dunia yang perlahan memalingkan muka, suara-suara seperti Anas al-Sharif menjadi semakin penting dan semakin rentan.

Keberaniannya untuk terus melaporkan sampai akhir adalah pengingat pahit akan harga yang harus dibayar demi kebenaran di Gaza.(YA)

Baca juga : 

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *