Gaza, Palestina – Ehab Nuor, 23 tahun, hanya bisa tiarap di pasir, bersembunyi di balik kawat berduri saat rentetan peluru mesin menyalak di atas kepalanya.
Di sekelilingnya, ratusan warga Palestina berlarian menyelamatkan diri, meninggalkan ransel-ransel kosong yang tadinya disiapkan untuk membawa pulang tepung dan makanan bantuan.
“Aku hanya ingin hidup. Cukup sudah,” kata Nuor setelah kembali nyaris tewas saat mencoba mengambil bantuan makanan di Gaza selatan. Itu adalah kali ke-11 ia selamat dari tembakan saat mengantre makanan.
Investigasi terbaru dari The Guardian, yang menganalisis rekaman visual, bukti peluru, data medis dari dua rumah sakit utama, serta wawancara dengan dokter dan korban, menunjukkan hasil mengejutkan.
Hasil investigasi menunjukkan adanya pola konsisten penembakan dari militer Israel terhadap warga Palestina yang mengantre bantuan makanan, terutama di sekitar lokasi distribusi Gaza Humanitarian Foundation (GHF), lembaga yang didukung AS dan Israel.

Selama 48 hari masa distribusi, lebih dari 2.000 warga Palestina terluka, mayoritas akibat tembakan. Lebih dari 1.300 orang tewas saat berusaha mendapatkan makanan, menurut data PBB.
“Tembakan itu acak dan membabi buta,” ujar Mohammed Sleiman Abu Lebda, 20 tahun, dari ranjang rumah sakit. “Orang di sebelahku hancur terkena peluru. Tasnya, yang tadinya untuk tepung, kini membawa jenazahnya.”
Pola Tembakan yang Berulang
Rekaman video dan laporan rumah sakit menunjukkan suara tembakan terdengar di setidaknya 11 hari berbeda di lokasi GHF. Dokter dari RS Nasser di Khan Younis dan RS Lapangan Palang Merah di Rafah mengonfirmasi lonjakan pasien dengan luka tembak setiap kali ada distribusi bantuan.
Prof. Nick Maynard, Ahli Bedah dari Oxford University Hospital mengatakan ia melihat pola luka yang serupa: “Antara 6 hingga 12 pasien datang dalam satu hari, semuanya dengan luka tembak di leher, kepala, atau lengan. Ini bukan kebetulan, ini indikasi penargetan.”
“Malam itu, empat remaja masuk dengan luka tembak di alat vital,” tambah dr. Goher Rahbour, rekan Maynard di RS Nasser.
Dari total 21 hari distribusi di bulan Juni saja, lebih dari 100 pasien tewas sebelum sempat mendapat perawatan, menurut data ICRC. Sebagian besar mengatakan mereka ditembak saat menuju atau berada di lokasi distribusi bantuan.
Peluru dan Bukti Senjata

Ahli senjata asal Inggris, Chris Cobb-Smith, menyebut penembakan ini sebagai “tidak bertanggung jawab dan tak dapat dibenarkan secara taktis.”
Dari peluru yang dianalisis, sebagian besar cocok dengan kaliber 7.62x51mm dan .50 cal, yang umum digunakan senjata mesin militer Israel (IDF).
“Jika ini dimaksudkan sebagai tembakan peringatan, maka praktik ini sangat berbahaya. Peluru bisa memantul, tersesat, dan menewaskan warga sipil,” ujar Trevor Ball, Analis Senjata dari AS.
“Skema Mematikan” Pelanggaran Hukum Humaniter
Prof. Adil Haque dari Rutgers University menyebut tindakan ini sebagai “pelanggaran berat terhadap Konvensi Jenewa keempat dan hukum internasional.”
“Menembaki warga sipil tak bersenjata yang hanya mencari makanan, tidak dapat dibenarkan secara moral atau hukum,” tegasnya.
Sementara itu, Bushra Khalidi, Kepala Kebijakan Oxfam untuk wilayah Palestina mengatakan bahwa sistem distribusi yang dikelola GHF adalah “skema mematikan, bukan sistem kemanusiaan.”
Militer Israel (IDF) mengakui melakukan “tembakan peringatan” kepada “tersangka” yang mendekati pasukan mereka, namun membantah dengan tegas menargetkan warga sipil. Mereka mengklaim sedang menyelidiki sejumlah insiden.
Juru bicara GHF malah menuding media “membantu propaganda teroris” dan mengatakan laporan tersebut berasal dari Kementerian Kesehatan Gaza yang mereka sebut ‘dikuasai Hamas’.
Sementara itu, Duta Besar AS untuk Israel menyebut operasi GHF sebagai “luar biasa” dan menyatakan laporan kematian warga akibat IDF sebagai “omong kosong.”
Korban Terus Berjatuhan
Ameen Khalifa, 30 tahun, adalah salah satu dari ratusan korban. Ia selamat dari penembakan saat mengambil bantuan, namun tewas dua hari kemudian di lokasi yang sama.
“Kami datang demi makan, tapi malah dibunuh,” ujar saudaranya, dari kamp pengungsi di Deir al-Balah.
Bocah bernama Ahmad Zeidan juga kehilangan ibunya di lokasi distribusi. Sambil menangis di luar RS Nasser, ia berseru, “Lebih baik kami mati dalam kehormatan daripada hidup mengemis bantuan yang dibayar dengan nyawa.” (YA)
Baca juga :
- Ketika Privasi Jadi Senjata Perang: Begini Cara Panggilan Telepon Warga Palestina Disadap Israel!
- Beras Bantuan Berlogo PBB Di Jual Mahal, Warga Gaza Tak Kebagian!
- Gaza Kelaparan! Israel Beri Jeda Tempur, Tapi Serangan Terus Berlanjut di Area Lain!
- Gaza Berdarah: Puluhan Warga Palestina Tewas Ditembak Saat Menanti Makanan!





