Kuwait City, Kuwait – Hanya beberapa hari menuju 2026, Paris Saint-Germain sudah mengklaim trofi pertamanya.
Pada Jumat (09/01/26), tidak lama setelah menjalani Derby Paris di panggung Ligue 1, Les Rouge et Bleu berpartisipasi dalam Piala Super Prancis, yang dikenal juga dengan nama Trophee des Champions.
Dengan gelar juara bertahan Ligue 1 dan Coupe de France yang masing-masing dipegang oleh PSG, kursi kedua dalam turnamen ini diberikan kepada runner up Liga Prancis musim lalu, yang tidak lain adalah rival sengit PSG, Marseille.
Laga Le Classique kali ini jelas cukup spesial. Selain mempertaruhkan harga dirinya dengan rival mereka, kedua tim tersebut juga bertarung demi sebuah trofi.
Lantas, sesuai ekspektasi para penonton, pertandingan ini berjalan dengan cukup sengit. PSG meraup keunggulan dini, yang kemudian dibatalkan oleh Le Phoceens.
Dan apabila itu masih belum menegangkan, kedua tim saling bertukar gol telat dalam masa kritis yang menarik nafas dari seluruh penonton di stadion.
Kedua tim tersebut masih imbang dengan skor 2-2 pada akhir waktu normal. Lantas, babak adu penalti langsung digelar demi menentukan pemenang kontes kali ini.
Paris Saint-Germain 2-2 Marseille

Pertandingan ini dibuka oleh tempo permainan tinggi dari kedua pihak, yang masing-masing tidak membuang waktu untuk meluncurkan sebuah ancaman mematikan kepada lawan mereka.
Periode awal ini diwarnai oleh pertukaran serangan antara PSG & Marseille.
Persaingan tersebut sepertinya akan terus berjalan dengan ketat, akan tetapi, kesabaran PSG dalam menghadapi tanggapan Les Phoceens akhirnya terbayar manis.
- Menit 13: Berkat bantuan manis dari Vitinha, Ousmane Dembele mampu menaklukkan kiper Geronimo Rulli dengan sebuah tendangan lob yang sukses menemukan jaring gawang.
Akibat gol tersebut, atmosfer di tengah lapangan menjadi semakin panas. Para bintang dari kedua kubu mengambil kesempatan mereka untuk terus menghidupkan papan skor.
Tetapi kali ini, masing-masing kiper di kedua sisi lapangan memberikan penampilan cemerlang di antara tiang gawangnya.
Lantas, meskipun diwarnai dengan peluang demi peluang, skor tetap bertahan di kedudukan 1-0 bagi pasukan Les Rouge et Bleu.
PSG mungkin memiliki keunggulan, namun, usai pertarungan sengit tersebut, kontes kali ini jelas masih terbuka lebar bagi semua pihak.
Beberapa menit setelah babak kedua dimulai, Lucas Chevalier langsung diuji oleh lini depan Marseille, yang masih bekerja keras untuk menyamakan kedudukan.
PSG sendiri juga tidak tinggal diam dan memberikan tanggapannya. Tetapi dalam periode ini, kedua tim masih belum bisa menemukan sebuah perkembangan.
Namun pada akhirnya, sebuah anugerah dipersembahkan kepada Marseille. Setelah Mason Greenwood dijatuhkan oleh Chevalier di daerah terlarang, sang wasit langsung menunjuk ke arah titik penalti.
- Menit 76: Greenwood sendiri maju sebagai algojo Marseille, dan tanpa banyak masalah, ia sukses mengarahkan tendangannya melewati Chevalier.
Mulai dari sini, penghujung pertandingan diwarnai oleh momen menegangkan yang menjaga suporter kedua tim di ujung kursi mereka.
Marseille, yang menghabiskan sebagian besar waktu pertandingan dibelakang rivalnya, sepertinya akan menutupi pertarungan ini dengan senyum lebar, ketika PSG sendiri menghadiahkan Les Phoceens dengan keunggulan skor.
- Menit 87: Dalam upayanya untuk menghentikan serangan Pierre-Emerick Aubameyang, bek PSG, Willian Pacho, justru mengarahkan bola ke dalam gawangnya sendiri.
Sebuah momen memalukan bagi Les Rouge et Bleu, terutama dalam masa kritis pertandingan.
Kesalahan fatal tersebut mungkin akan menghancurkan mental tim lain, namun hal tersebut tidak terjadi dengan PSG, yang justru mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menyelamatkan nyawanya.
Dengan waktu yang cukup singkat, PSG juga harus berharap bahwa keberuntungan kali ini berpihak dengan mereka. Dan tentu saja, doa Les Rouge et Bleu terjawab dalam menit-menit terakhir.
- Menit 90+5: Umpan Vitinha diterima oleh Bradley Barcola, yang kemudian meneruskan operan tersebut kepada Goncalo Ramos.
- Ramos menyambut bola tersebut dengan sebuah tendangan voli jitu yang meluncur melewati Rulli dan merobek gawang Marseille.
PSG langsung melepaskan nafas lega, selagi Marseille menggigit jari usai menyaksikan kemenangan yang musnah di depan matanya.
Tidak lama kemudian, peluit terakhir dibunyikan, dan dengan kedudukan skor imbang antara kedua tim, laga ini dilanjutkan menuju babak adu penalti.
Babak Adu Penalti

Apabila pertarungan di waktu normal berjalan dengan sangat ketat, babak ini justru dikuasai penuh oleh PSG.
PSG mendapat giliran pertama untuk membuka adu penalti ini. Goncalo Ramos, yang membawa timnya hingga titik ini, dengan mudah melaksanakan tugasnya.
Nasib Marseille sangat berbeda jauh dengan lawannya. Setelah Ramos, Matt O’Riley maju sebagai wakil Les Phoceens. Sayangnya bagi para pemain berseragam putih, tendangan O’Riley dicegat oleh Chevalier. (Paris Saint-Germain 1-0 Marseille)
Tendangan kedua pun juga berjalan dengan cukup serupa. Vitinha menemukan jaring gawang dari titik putih, akan tetapi, Chevalier kembali menjadi mimpi buruk Marseille, setelah ia menghentikan tembakan Hamed Traore. (Paris Saint-Germain 2-0 Marseille)
Situasi sedikit berbeda di tendangan ketiga. Nuno Mendes melanjutkan momentum manis PSG, namun, Marseille akhirnya menggetarkan jaring gawang melalui tendangan Michael Amir Murillo. (Paris Saint-Germain 3-1 Marseille)
Sayangnya, kesuksesan Murillo masih tidak cukup untuk memperbaiki kesalahan dini Marseille. Babak ini sudah memasuki momen sudden death ketika PSG mengirim wakil keempatnya, Desire Doue.
Doue hanya perlu mengarahkan tendangannya ke dalam gawang untuk mengunci kemenangan bagi timnya. Dan tentunya, dengan nada dingin, bintang muda asal Prancis tersebut menuntaskan tugasnya dengan penuh kesempurnaan. (Paris Saint-Germain 4-1 Marseille)
Pasukan Les Rouge et Bleu tidak membuang waktu untuk merayakan kemenangannya, dan lantas, gelar juara Piala Super Prancis kali ini tetap dipegang oleh PSG, yang kini telah mengangkat trofi tersebut dalam empat edisi secara beruntun.
Pasca Kejayaan Paris Saint-Germain
PSG harus melewati tantangan berat dari rival mereka, tetapi pada akhirnya, mereka keluar sebagai pemenang.
Perjuangan PSG dalam laga ini menjadi bahan pembicaraan sang pelatih, Luis Enrique, dalam wawancaranya dengan PSG TV.
“Saat mencapai final, emosi meluap, dan saya rasa tim tidak bermain sebaik biasanya. Pertandingan ini sulit, lawan kami bermain sangat baik, tetapi semangat tim ini berbeda.” ujar pelatih asal Spanyol tersebut.
“Kami terus berjuang hingga menit terakhir, dan saya pikir pada akhirnya, adu penalti sedikit membawa keberuntungan bagi kami! Kami sangat senang, tim sangat senang, dan ini penting bagi para pendukung kami.”
Sebuah kado manis pada awal tahun ini, dan dorongan motivasi besar bagi PSG yang kini kembali pulang untuk melanjutkan perjalanannya di babak 32 besar Coupe de France.
Dalam laga tersebut, PSG kembali mengulang pertemuannya dengan rival sekota, Paris FC, yang baru saja mereka tumbangkan sebelum penerbangannya menuju Kuwait. (VT)
Baca juga :





