Drone Mini ‘Kelelawar’ Bisa Jadi Penyelamat Nyawa di Lokasi Bencana Gelap Gulita

Robotik Nirawak Bertenaga Ekolokasi Kelelawar Mampu Beroperasi di Tengah Badai dan Pemadaman Listrik

London, Inggris – Penggunaan drone dalam operasi Pencarian dan Penyelamatan (SAR) telah meningkat pesat, terbukti dalam evakuasi korban banjir di Pakistan atau penemuan penambang yang terjebak di Kanada.

Namun, tantangan terbesar muncul ketika bencana terjadi di malam hari atau dalam kondisi badai yang menyebabkan pemadaman listrik total. Inilah yang mendorong para peneliti untuk mencari solusi di alam liar.

Di Worcester Polytechnic Institute (WPI), Nitin Sanket, asisten profesor teknik robotik, dan timnya menemukan inspirasi dari mamalia malam dengan sistem navigasi paling canggih: kelelawar.

Mereka kini tengah mengembangkan robot udara kecil, murah, dan hemat energi yang mampu terbang dan menavigasi dalam gelap total, di mana drone konvensional tak berdaya.

“Kita semua tahu bahwa saat terjadi gempa bumi atau tsunami, hal pertama yang rusak adalah jaringan listrik. Seringkali itu terjadi di malam hari, dan Anda tidak akan menunggu sampai pagi berikutnya untuk pergi dan menyelamatkan korban,” ujar Sanket menjelaskan kepada AP  News.

Simulasi pada malam hari di laboratorium di Worcester Polytechnic Institute – Foto: Dok. AP News (Charles Krupa)

“Jadi kami mulai melihat alam. Adakah makhluk di dunia yang benar-benar bisa melakukan ini?”

Sensor Ultrasonik Gantikan Mata

Dengan dana hibah dari National Science Foundation, tim Sanket meniru kemampuan ekolokasi kelelawar, yaitu navigasi menggunakan pantulan suara.

Drone mini ciptaan mereka, yang hanya seukuran telapak tangan dan terbuat dari bahan hobi yang tidak mahal, dilengkapi sensor ultrasonik kecil mirip dengan yang digunakan pada keran otomatis di toilet umum.

Sensor ini memancarkan pulsa suara berfrekuensi tinggi dan menggunakan gaungnya untuk mendeteksi rintangan di jalur drone.

Para mahasiswa teknik robotika mengganti baterai sebuah drone mini di Worcester Polytechnic Institute – Foto: Dok. AP News(Charles Krupa)

Dalam sebuah demonstrasi, drone tersebut berulang kali berhenti dan mundur saat mendekati dinding Plexiglas, bahkan ketika ruangan gelap, berkabut, dan dipenuhi salju palsu.

“Saat ini, robot SAR sebagian besar hanya beroperasi di siang hari bolong,” kata Sanket. “Masalahnya adalah operasi SAR adalah pekerjaan yang membosankan, berbahaya, dan kotor yang sering kali terjadi dalam kegelapan.”

Menuju Swarm Drone Otonom

Terlepas dari inovasi ini, para ahli robotik sepakat bahwa langkah selanjutnya adalah mengembangkan drone yang dapat dikerahkan dalam formasi kawanan (swarm) dan mengambil keputusan pencarian secara otonom.

Ryan Williams, seorang profesor di Virginia Tech, menekankan bahwa penyebaran drone yang sepenuhnya otonom “secara efektif nihil” saat ini.

Timnya mengatasi masalah ini dengan memprogram drone untuk memilih jalur pencarian berdasarkan data historis ribuan kasus orang hilang, guna memprediksi di mana korban cenderung berada.

Proyek di WPI juga mengatasi keterbatasan drone saat ini, termasuk ukuran dan biaya. “Robot saat ini besar, tebal, mahal, dan tidak dapat bekerja di semua skenario,” tambah Sanket.(YA)

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *