Gadget Selamat dari Tarif 145% Trump, Tapi Mainan Anak Terancam Punah!

Presiden AS Donald Trump Mengecualikan Ponsel, Komputer, & Berbagai Perangkat Elektronik Dari Tarif

Washington, AS – Akhir pekan ini, nafas para raksasa teknologi dunia bisa sedikit lega. Pemerintahan Presiden AS Donald Trump tiba-tiba mengecualikan ponsel pintar, komputer, dan berbagai perangkat elektronik dari tarif balasan yang ia tetapkan, termasuk tarif impor barang dari China yang melonjak hingga 145 persen.

Langkah ini diumumkan Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS (CBP),  yang menyatakan bahwa barang-barang seperti smartphone, chip semikonduktor, sel surya, hingga kartu memori tak lagi masuk dalam daftar produk yang terkena tarif global 10 persen maupun tarif khusus China.

Keputusan ini muncul di tengah kekhawatiran dari berbagai perusahaan teknologi AS, soal potensi lonjakan harga perangkat elektronik, mengingat sebagian besar produksi masih tergantung pada pabrik di China. “Ini seperti mimpi jadi kenyataan bagi investor teknologi,” kata Dan Ives dari Wedbush Securities di platform X. “Pengecualian untuk ponsel dan chip adalah game-changer.”

Baca juga : Saham Apple & Amazon Anjlok Dampak Kebijakan Trump!

Apple, Nvidia, Microsoft dan seluruh industri teknologi menyambut gembira kabar ini. Namun di balik kabar baik itu, tetap terselip tekanan besar, mereka diminta segera memindahkan produksi ke dalam negeri.

“Presiden Trump menegaskan bahwa Amerika tidak bisa terus bergantung pada China untuk memproduksi teknologi penting seperti semikonduktor, chip, ponsel, dan laptop,” ujar Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt.

Pandangan dari Dunia Usaha

  • Bagi Rick Woldenberg, CEO Learning Resources—perusahaan mainan edukatif keluarga yang telah berproduksi di China selama 40 tahun—kebijakan Trump terasa seperti pukulan maut. “Saya sudah antisipasi tarif naik jadi 40 persen, pikir saya itu sudah worst-case. Ternyata naik jadi 145 persen. Saya merasa ini akhir zaman,” ujarnya getir. Dari sebelumnya hanya membayar tarif impor sebesar 2,3 juta dolar AS, kini perusahaan Woldenberg memperkirakan harus merogoh kocek hingga 100 juta dolar tahun depan. “Saya bahkan tak punya uang sebanyak itu. Ini bukan hiperbola,” katanya.
  • Sementara perusahaan mainan lain seperti MGA Entertainment—produsen boneka L.O.L dan Bratz—juga mulai ketar-ketir. CEO MGA Entertainment, Isaac Larian mengatakan bahwa tak hanya mainan buatan China yang terdampak. “Bahkan merek lokal seperti Little Tikes, yang dibuat di Ohio, juga terganggu. Karena kita masih bergantung pada baut dan komponen kecil dari China,” ujarnya. Harga mainan bisa melonjak drastis—boneka L.O.L dari 10 jadi 20 dolar, mobil mainan Little Tikes dari 65 ke 90 dolar.
  • Pendiri Edge Desk, Marc Rosenberg, perusahaan kursi ergonomis asal Illinois, juga memutuskan untuk membatalkan rencana produksi di China. “Saya sudah investasi jutaan dolar. Tapi sekarang, saya cari alternatif di Eropa karena kalau tetap produksi di China, kena tarif ratusan persen,” ujarnya.

Ketergantungan Amerika pada Barang Murah China

Presiden Trump tetap pada pendiriannya. Dalam pernyataan Jumat lalu, ia menyebut bahwa tarif ini adalah bagian dari strategi untuk mengakhiri ketergantungan Amerika pada barang murah asal China. Namun para pelaku usaha menyebut langkah ini sangat tidak bisa diprediksi, cepat berubah, dan menimbulkan ketidakpastian ekstrem dalam perencanaan bisnis.

Apalagi sejak China masuk WTO tahun 2001, masyarakat AS bergantung pada produksi China untuk berbagai barang murah, mulai dari smartphone hingga dekorasi Natal.

Meski kini Meksiko dan Kanada mengambil alih sebagai sumber utama impor AS, China tetap berada di peringkat ketiga secara keseluruhan dan kedua dalam kategori barang. Pembeli Amerika ketagihan harga murah. Brand dan ritel pun terbiasa dengan kemudahan membeli dari China.

Menurut Macquarie, China memproduksi:

  • 97% kereta bayi impor AS
  • 96% bunga dan payung buatan
  • 95% kembang api
  • 93% buku mewarnai anak
  • 90% sisir

Mainan Edukasi Jadi Korban

Woldenberg mengatakan produk-produk buatan China miliknya, 60% dari keseluruhan portofolio menjadi “tidak layak secara ekonomi dalam semalam.”

“Ajakan Trump untuk memproduksi di AS itu lelucon,” katanya. Ia telah mencari produsen lokal selama bertahun-tahun dan tak menemukan mitra yang cocok.

Tarif ini juga mengancam ribuan pemasok kecil di China, dan bisa membuat perusahaan-perusahaan seperti miliknya kehilangan basis produksi dan peralatan yang ditanamkan di pabrik China. Learning Resources punya sekitar 10.000 cetakan dengan berat lebih dari 2,2 juta kg di China.

Satu hal yang pasti, di tengah permainan tarif yang semakin rumit, banyak pebisnis mulai mengalihkan pandangannya ke India, Vietnam, bahkan Eropa. Tapi mereka juga tahu, merakit kembali rantai pasok global tak semudah membalik telapak tangan.

Sementara dunia teknologi bersorak karena gadget tetap aman di rak, sektor mainan hanya bisa berharap badai ini segera berlalu sebelum semua benar-benar ‘’hancur”. (YA)

Baca juga : 

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *