Bangkok, Thailand – Mimpi memiliki rumah sendiri mulai berubah bagi generasi muda di Thailand.
Survei terbaru dari LWS Wisdom and Solutions mengungkap, lebih dari 66% generasi Z dan Y kini memilih untuk menyewa tempat tinggal alih-alih membelinya.
CEO LWS Wisdom and Solutions, Praphansak Rakchaiwan menyatakan di balik pilihan itu, tersembunyi pergeseran besar dalam cara pandang terhadap properti, yaitu dari rumah impian menjadi alat investasi yang fleksibel dan menguntungkan.
“Bukan karena mereka tidak bisa beli, tetapi karena sewa memberikan kendali lebih, dalam hidup yang serba cepat dan penuh ketidakpastian,” ujar Praphansak Rakchaiwan, seperti dikutip dari The Nation.
Berdasarkan data SCB Economic Intelligence Centre (SCB EIC), menunjukkan tren penurunan transaksi kepemilikan rumah di Bangkok dan sekitarnya dan menguatkan arah pergeseran ke model sewa.
Dilansir dari The Nation, pilihan menyewa ini bahkan memberikan imbal hasil (yield) 4–9% bagi investor properti, menjadikannya peluang baru yang menjanjikan di tengah pasar investasi yang bergejolak.
Faktor Pendorong Pergeseran Kepemilikan Rumah
- Fleksibilitas Jadi Prioritas
- Gen Z dan Y hidup di era perubahan cepat, dengan mobilitas tinggi akibat karier, pendidikan, atau gaya hidup.
- Sewa memberikan kemudahan pindah lokasi tanpa beban kredit jangka panjang.
- LWS mencatat 60% penyewa adalah perempuan, sebagian besar masih lajang, dengan rata-rata bujet sewa 5.000–10.000 baht per bulan.
- Ketidakpastian Ekonomi & Keamanan Finansial
- Biaya hidup meningkat, pendapatan tidak stabil.
- Kredit rumah dianggap risiko besar bagi generasi muda.
- Sewa memberikan ruang untuk menyesuaikan anggaran secara fleksibel.
- Pilihan Investasi Lebih Beragam dan Likuid
- Gen Z dan Y aktif dalam platform investasi seperti saham, reksadana, emas, dan kripto.
- Instrumen ini menawarkan pengembalian yang lebih cepat dan likuid dibanding properti.
- Mereka juga cenderung mengikuti edukasi dari influencer keuangan dan aplikasi investasi digital.
Tren ini bukan sekadar pergeseran gaya hidup, tapi juga membuka peluang investasi properti untuk disewakan, khususnya di kawasan urban yang padat permintaan.
Bagi pengembang dan investor, memahami pola konsumsi generasi muda ini adalah kunci untuk tetap relevan.
“Properti kini bukan sekadar tempat tinggal, tapi aset yang bisa bekerja dan menghasilkan,” kata Praphansak.
Transformasi ini mencerminkan perubahan struktur sosial dan ekonomi yang mendalam, menandakan bahwa kepemilikan rumah bukan lagi standar kesuksesan utama bagi generasi masa kini. Kebebasan finansial dan mobilitas menjadi nilai baru yang lebih dihargai.(YA)
Baca juga :





