Dubai, UEA – Cuaca ekstrem berupa hujan deras dan petir melanda Uni Emirat Arab (UEA) pada sejak Jumat hingga Sabtu (20/12/25), menyebabkan pembatalan belasan penerbangan dan merendam berbagai ruas jalan utama di Dubai serta Sharjah.
Fenomena langka di negara gurun ini memaksa otoritas bandara menghentikan operasional sementara, dan membangkitkan ingatan publik atas bencana banjir besar yang melumpuhkan wilayah Teluk pada April 2024 lalu.
Intensitas badai yang disertai petir hebat sejak Kamis (18/12/25) malam waktu setempat, membuat aktivitas di salah satu hub transit tersibuk di dunia tersebut mengalami kekacauan.
Berdasarkan laporan Agence France-Presse (AFP), maskapai Emirates terpaksa membatalkan sedikitnya 13 jadwal penerbangan pada Jumat pagi.
Sementara puluhan jadwal lainnya di Bandara Sharjah mengalami penundaan signifikan.
Dampak Langsung di Sektor Transportasi
Gangguan cuaca ini memberikan tekanan besar pada sektor penerbangan dan mobilitas warga. Berikut adalah poin-poin utama dampak badai tersebut:

- Pembatalan Massal: Emirates membatalkan 13 penerbangan, Bandara Dubai dan Sharjah mengalami penundaan jadwal yang panjang.
- Lumpuhnya Jalan Utama: Arteri komersial di Sharjah terendam air, membuat kendaraan tidak dapat melintas.
- Evakuasi Mandiri: Warga di beberapa titik terpantau berjalan kaki tanpa alas kaki di tengah genangan air setinggi roda sepeda.
- Pengerahan Alat Berat: Armada truk pompa air dikerahkan sejak fajar di Dubai untuk menguras genangan yang menyumbat akses jalan.
Peringatan Darurat dan Respon Otoritas
Pihak Kepolisian Dubai sebenarnya telah mengeluarkan imbauan sejak Kamis agar warga tetap berada di dalam rumah, kecuali untuk urusan “sangat mendesak”.
Pusat Meteorologi Nasional (NCM) juga telah memprediksi curah hujan tinggi, yang akan menyapu Abu Dhabi hingga Dubai.
“Beberapa jadwal penerbangan dibatalkan atau ditunda karena kondisi cuaca buruk,” ujar juru bicara Bandara Dubai dalam pernyataan resmi kepada AFP.
Meskipun peringatan dini telah diberikan, volume air yang turun dalam waktu singkat tetap melampaui kapasitas sistem drainase di beberapa kawasan pemukiman dan bisnis.

Bayang-bayang Krisis Iklim 2024
Situasi ini memicu kekhawatiran mendalam karena kemiripannya dengan bencana April 2024, di mana UAE dihantam curah hujan tertinggi dalam 76 tahun terakhir.
Kala itu, empat orang tewas dan lebih dari 2.000 penerbangan dibatalkan, yang membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk pemulihan total.
Studi dari grup World Weather Attribution menyebutkan bahwa pemanasan global akibat emisi bahan bakar fosil, “kemungkinan besar” menjadi faktor utama yang memperparah intensitas hujan di kawasan semenanjung Arab.
Hal ini menunjukkan bahwa badai “langka” kini menjadi ancaman yang lebih sering terjadi bagi negara-negara Teluk. Badai tidak hanya menyerang UAE, tetapi juga berdampak pada negara tetangga:
- Qatar: Kondisi cuaca memburuk hingga memaksa pembatalan acara olahraga besar.
- Sepakbola: Pertandingan perebutan tempat ketiga Arab Cup antara Arab Saudi vs UAE yang dijadwalkan Kamis (18/12/25), terpaksa dibatalkan karena lapangan tergenang.
Petugas kebersihan dan teknisi jalan raya masih terus bekerja keras membersihkan sisa-sisa banjir, seiring dengan langit yang mulai cerah.
Sementara maskapai penerbangan berusaha mengatur ulang jadwal keberangkatan, bagi ribuan penumpang yang tertahan.(YA)





