Jakarta – Perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah menjadi panggung penting bagi Presiden Prabowo Subianto untuk menunjukkan wajah Indonesia, sebagai jembatan persaudaraan dunia sekaligus perekat harmoni bangsa.
Dalam suasana kemenangan ini, Presiden tidak hanya berbaur dengan masyarakat di Aceh hingga Jakarta, tetapi juga meluaskan jangkauan diplomasi melalui sambungan telepon kepada para pemimpin negara Muslim dunia.
Langkah strategis ini dilakukan setelah Presiden menyelesaikan rangkaian agenda maraton, mulai dari malam takbiran di Sumatra Utara, Shalat Ied di Aceh, hingga gelar griya (open house) bersama tokoh bangsa di Istana Merdeka.
Di balik perayaan religius ini, terselip misi diplomatik dan pesan persatuan yang kuat dari jantung pemerintahan Indonesia.
Merajut Ukhuwah Dengan Pemimpin Dunia
Idulfitri bagi Presiden Prabowo bukan sekadar tradisi, melainkan ruang diplomasi untuk memperkuat hubungan bilateral.
Sekretaris Kabinet (Seskab), Teddy Indra Wijaya mengungkapkan bahwa Presiden secara khusus menghubungi sejumlah pemimpin kunci di Timur Tengah dan Asia Selatan.
- Recep Tayyip Erdogan (Presiden Republik Turkiye)
- Mohammed bin Salman (Perdana Menteri Arab Saudi)
- Raja Abdullah II (Raja Yordania Hasyimiah)
- Shehbaz Sharif (Perdana Menteri Pakistan)

“Silaturahmi ini menjadi wujud eratnya persaudaraan dan kerja sama antar negara-negara Muslim, sekaligus memperkuat hubungan bilateral di tengah suasana penuh keberkahan,” tulis Seskab Teddy Indra Wijaya dalam Keterangan Resminya.
Seskab Teddy juga menambahkan bahwa komunikasi ini akan terus berlanjut dengan Kepala Negara lainnya dalam waktu dekat, menunggu konfirmasi ketersediaan jadwal masing-masing negara.
Saat Pemimpin Bangsa Bersatu
Satu hari sebelum diplomasi telepon dimulai, pemandangan langka terjadi di Istana Merdeka, Jakarta. Presiden Prabowo menggelar griya yang menjadi magnet bagi para tokoh nasional.
Tanpa ada kewajiban formal, para pemimpin bangsa hadir atas dasar kedekatan personal dan semangat kekeluargaan. Momentum hangat tersebut memperlihatkan kebersamaan yang sangat kontras dengan hiruk-pikuk politik harian.
Kehadiran Wakil Presiden Gibran Rakabuming, Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) mencerminkan kesinambungan kepemimpinan nasional.
Idul Fitri 1447 H ini menegaskan posisi Indonesia sebagai negara Muslim terbesar, yang mampu membawa pesan damai dan kerja sama.
Dengan menyatukan langkah tokoh bangsa di dalam negeri dan merangkul pemimpin dunia melalui telepon, Presiden Prabowo mengubah perayaan Lebaran menjadi simbol komitmen ukhuwah global.
Kesederhanaan dalam gelar griya yang tidak mewajibkan kehadiran pejabat, justru melahirkan silaturahmi yang lebih tulus.
Pada akhirnya, harmoni di Istana dan diplomasi di telepon ini memberikan satu harapan besar: bahwa persatuan adalah kunci utama bagi Indonesia dalam menapaki masa depan di panggung internasional. (NR)





