Sidoarjo – Tangisan pilu yang pecah di Sidoarjo, Jawa Timur, kini telah bergema hingga ke seluruh penjuru dunia.
Tragedi robohnya Pondok Pesantren Al Khoziny pada Senin, 29 September 2025, bukan hanya duka lokal, tetapi telah menjadi sorotan utama media-media internasional, yang terus meliput setiap detik operasi penyelamatan yang dramatis.
Sejak hari pertama, media-media besar seperti New York Times, ABC News, Arab News, dan Al Jazeera secara konsisten melaporkan perkembangan di lokasi.

Mereka tak hanya sekadar memberitakan, melainkan juga mengabadikan kesedihan dan keputusasaan para keluarga korban, serta perjuangan heroik tim penyelamat.
Media Internasional Jadi Saksi
- The Associated Press (AP News) dalam laporannya mengumumkan angka korban tewas yang terus bertambah, hingga Sabtu (04/10/25) mencapai 14 orang, seiring dengan penemuan lebih banyak jenazah dari balik reruntuhan.
- AFP melaporkan satu kisah yang paling menyentuh adalah perjuangan tim SAR yang harus menggali terowongan bawah tanah untuk mencapai para korban, dan tetap berhati hati karena getaran sekecil apa pun bisa memicu keruntuhan lebih lanjut
- Al Jazeera: Mengangkat kisah-kisah kemanusiaan, termasuk cerita Haikal, yang memberikan harapan di tengah tragedi. Haikal, seorang santri berusia 13 tahun yang berhasil bertahan hidup selama tiga hari di bawah puing-puing.
- New York Times: Menyoroti hilangnya puluhan santri dan jumlah korban yang terus bertambah.
- ABC News: Memberitakan insiden ini dengan fokus pada korban-korban yang masih terperangkap.
- Arab News: Menyajikan data terbaru tentang jumlah korban tewas dan luka.
Menunggu Kabar dari Bawah Tanah
Operasi penyelamatan ini seperti perlombaan melawan waktu. Tim menggunakan drone pendeteksi panas untuk mencari tanda-tanda kehidupan, berkejaran dengan waktu.

72 jam yang kian menipis. Kisah-kisah harapan muncul silih berganti, seperti menjadi simbol keteguhan yang mengharukan di tengah keputusasaan. Puing-puing bangunan yang roboh itu menyimpan duka yang mendalam.
Juru bicara badan penanggulangan bencana nasional mengungkapkan bangunan tersebut ambruk, karena pilar fondasinya tidak mampu menopang beban konstruksi baru.
Kepala Badan SAR Nasional, Mohammad Syafii yang menjelaskan bahwa getaran yang bisa ditimbulkan dari sejumlah aktivitas dapat mengganggu proses evakuasi, sehingga proses ini harus dilakukan secara hati-hati.

“Jika terjadi getaran di satu tempat, hal itu dapat memoengaruhi tempat lain. Jadi sekarang, untuk mencapai lokasi korban, kami harus menggali terowongan bawah tanah,” ujarnya.
Tragedi Sidoarjo ini membuktikan bahwa duka adalah bahasa universal. Di balik setiap laporan media asing, tersimpan empati dan doa bagi para korban serta keluarga yang ditinggalkan. (YA)
Baca juga :





