123 Nyawa dalam Sehari: Serangan Brutal Netanyahu Picu Gelombang Kematian & Kemarahan di Gaza!

Gaza Kembali Diguncang: Dari Zeitoun hingga Khan Younis, Cerita Pilu di Balik Hilangnya 123 Nyawa di Gaza

Gaza, Palestina – Di tengah desingan rudal dan gemuruh tank, sebuah babak baru dalam penderitaan di Gaza kembali terjadi. Kota yang sudah luluh lantak itu kembali digempur oleh militer Israel pada Rabu (13/08/25).

Berdasarkan laporan dari Kementerian Kesehatan Palestina, serangan brutal tersebut telah merenggut nyawa setidaknya 123 warga sipil. Sebuah angka yang sekali lagi menggarisbawahi realitas suram dari konflik yang tak berkesudahan ini.

Menurut laporan yang dilansir dari Reuters, serangan Israel pada hari itu menyasar beberapa area penting di Gaza, meninggalkan jejak kehancuran yang pilu.

  • Pesawat tempur dan tank Israel mengebom kawasan timur kota Gaza, menghancurkan pemukiman di wilayah Zeitoun dan Shejaia.
  • Rumah Sakit Al-Ahli melaporkan 12 orang tewas akibat serangan udara, yang menghantam sebuah rumah di Zeitoun.
  • Di Khan Younis, Gaza selatan, serangan tank juga menghancurkan beberapa rumah.
  • Laporan medis Palestina menambahkan kesedihan lain: sembilan petugas pemberi bantuan tewas dalam dua insiden penembakan terpisah.

Tragedi ini terjadi di tengah upaya diplomatik yang penuh ketidakpastian. Di Kairo, Mesir, perwakilan Hamas dan pejabat Mesir bertemu untuk kembali membahas gencatan senjata.

Taher al-Nono, Seorang Pejabat Hamas menyatakan kepada Reuters bahwa inti dari pertemuan itu adalah penghentian perang, penyaluran bantuan, dan “mengakhiri penderitaan rakyat kami di Gaza.”

Namun, di tengah pembicaraan ini, kantor Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel menyatakan bahwa mereka tidak berencana mengirim tim negosiasi.

Sebuah penolakan yang sejalan dengan rencana baru Netanyahu untuk memperluas kendali militer Israel di Gaza, sebuah langkah yang disebut dapat diluncurkan pada Oktober mendatang.

Warga Palestina yang terusir akibat serangan Israel berlindung di kamp tenda di Kota Gaza,Palestina – Foto: Dok. Reuters/Mahmoud Issa

Tuntutan Berbeda, Gencatan Senjata Mustahil

Penolakan Israel untuk bernegosiasi semakin memperlihatkan jurang perbedaan yang dalam.

Seorang pejabat Hamas, yang tak ingin disebutkan namanya, secara tegas menyatakan: “Meletakkan senjata sebelum pendudukan berakhir adalah hal yang mustahil.”

Pernyataan ini berlawanan dengan tuntutan Israel, yang menurut sumber keamanan Mesir, menghendaki Hamas melepaskan pemerintahan di Gaza dan menyerahkan persenjataannya.

PM Israel Netanyahu – Foto: Dok. AP News/Abir Sultan

Konflik kepentingan ini juga terlihat dari pernyataan Netanyahu yang dikutip dari saluran televisi i24NEWS.

“Mereka tidak akan diusir, mereka akan diizinkan keluar… Semua orang yang peduli terhadap Palestina dan mengatakan ingin membantu Palestina harus membuka gerbang mereka dan berhenti menguliahi kami.”

Rencana Netanyahu ini memicu gelombang kecaman dari para pemimpin dunia dan meningkatkan kemarahan global.

Baca juga : 

Warga Palestina sendiri membandingkan situasi ini dengan peristiwa “Nakba” tahun 1948, di mana mereka terpaksa mengungsi atau diusir dari tanah mereka.

Bahkan di dalam Israel, rencana Netanyahu mendapat protes. Keluarga para sandera yang masih ditahan Hamas mengkhawatirkan serangan baru akan membahayakan nyawa orang-orang terkasih mereka.

Hamas sendiri menyatakan hanya akan membebaskan sandera jika Israel menarik pasukannya dari Gaza, membebaskan tahanan Palestina, dan mengakhiri perang secara permanen.

Sejak awal perang, kekerasan di Gaza telah merenggut lebih dari 61.000 nyawa warga Palestina, sebuah angka yang terus bertambah.

Peristiwa ini hanyalah satu dari banyak lembaran tragis yang telah terjadi. Di tengah tumpukan puing-puing dan tangisan keluarga yang berduka, nasib gencatan senjata tampak semakin jauh, terperangkap dalam kebuntuan politik yang tak kunjung menemukan jalan keluar. (VT)

Baca juga : 

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *