Baghdad – Suara ledakan yang biasanya memicu kekhawatiran, kini justru disambut sorak-sorai di tepian Sungai Tigris.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun membisu, “Meriam Iftar” kembali menggelegar di ibu kota Irak, menandai berakhirnya waktu puasa bagi warga Baghdad.
Berdasarkan pantauan Anadolu Angency Dentum meriam ini diledakkan tepat saat matahari terbenam, bertepatan dengan kumandang azan Magrib.
Tradisi ikonik yang diwariskan sejak era Kekaisaran Ottoman ini dihidupkan kembali sebagai ritual publik untuk memperkuat atmosfer spiritual Ramadan di tengah kota yang kian stabil.
Warisan Sejarah di Tepi Tigris
Meriam tersebut ditempatkan di posisi strategis sepanjang tepi Sungai Tigris, memungkinkan suaranya menjangkau berbagai sudut kota.
Kerumunan warga berkumpul dengan antusiasme tinggi untuk menyaksikan langsung prosesi penyulutan api pada moncong meriam tersebut.
Kembalinya suara meriam ini tidak hanya sekadar penanda waktu makan, tetapi juga menjadi pengikat memori kolektif masyarakat.
Kehadiran personel militer yang kini bertugas meledakkan meriam “perdamaian” ini memberikan kesan mendalam bagi pengunjung yang memadati area sungai.
“Menyaksikan peristiwa ini adalah momen bersejarah,” ujar Mustafa Ibrahim, seorang kreator konten asal Irak saat diwawancarai oleh Anadolu Agency.
Menurut Ibrahim, Meriam Iftar membawa makna spiritual dan simbolis yang sangat spesifik bagi bulan Ramadan.
Ia juga mengapresiasi keterlibatan aparat keamanan yang memberikan rasa aman sekaligus kekhidmatan dalam menghidupkan kembali tradisi lama ini.
Seiring matahari tenggelam di cakrawala Baghdad, dentuman meriam tersebut resmi menjadi sinyal bagi jutaan warga untuk menikmati hidangan iftar mereka, menghidupkan kembali identitas kota yang sempat redup oleh tahun-tahun keheningan.(NR)





