Buat Apa ke Seoul! Cukup di D-Hub SEZ BSD City, Bisa Pulang Dengan Wajah ‘Hallyu’

Raksasa Bedah Plastik Korea, ATOP, Akan Resmi Beroperasi di Indonesia, Tunggu Tanggal Mainnya!

Kab. Tangerang – Selama bertahun-tahun, impian untuk memiliki tampilan ala bintang Hallyu berarti harus menempuh penerbangan 7 jam menuju Gangnam, Korea Selatan. Namun pada 2026, peta perjalanan medis itu berubah total.

ATOP Plastic Surgery, salah satu raksasa bedah plastik asal Korea Selatan, resmi membuka pintunya di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) ETKI Banten (D-Hub SEZ BSD City).

ATOP membawa teknologi minimal invasive langsung ke jantung Indonesia. Langkah ini bukan sekadar ekspansi bisnis biasa.

Kehadiran ATOP di bawah naungan KEK merupakan jawaban atas data Departemen Kesehatan Korea Selatan, yang mencatat bahwa dari 500.000 wisatawan medis berulang ke Korea, sebanyak 37,5% adalah pasien asal Indonesia.

Menariknya, prosedur kecantikan kini tak lagi didominasi wanita; kaum pria mulai menjadi pasar yang sangat haus akan layanan estetika modern.

Replikasi Gangnam di BSD City

Mengapa harus KEK ? Direktur ATOP Plastic Surgery, Diana Hestya Ningsih mengakui bahwa keputusan jatuh hati pada kawasan ini karena adanya ekosistem yang matang.

Diana menegaskan bahwa ATOP tidak hanya ingin mendirikan klinik, tetapi menjadi bagian dari inovasi kesehatan global.

“Kami membawa semua alat medis yang sesuai dengan standar klinik di Gangnam, Korea, ke sini. Semuanya sama persis. Kemudahan fasilitas fiskal seperti pembebasan bea masuk untuk peralatan teknologi medis inilah yang kemudian mempengaruhi harga jual kami menjadi sangat kompetitif bagi customer,” ujar Diana.

Keunggulan yang dibawa ATOP ke Indonesia meliputi:

  • Teknologi Minimal Invasif: Fokus pada klinik rawat jalan yang memungkinkan pasien langsung pulang setelah prosedur.
  • Transfer Knowledge: Kolaborasi antara dokter ahli dari Korea dengan dokter lokal Indonesia untuk transformasi teknik dan “gaya” prosedur medis.
  • Standar Kecantikan Lokal: Penyesuaian standar kecantikan, seperti tren double eyelid atau rhinoplasty, yang diselaraskan dengan struktur wajah dan kultur masyarakat Indonesia.
(Ki-Ka) Agung Wicaksono (Head of Media Relation SML), Diana Hestya Ningsih (Direktur ATOP Plastic Surgery), & Lindawaty Chandra (Kepala BUPP KEK ETKI Banten)

Karpet Merah Kedaulatan Medis

Kini ambisi Indonesia untuk menyaingi Thailand sebagai hub medical tourism dunia bukan lagi isapan jempol.

Melalui skema KEK, pemerintah memberikan “karpet merah” bagi investor medis melalui kemudahan birokrasi, dan insentif yang selama ini dianggap sebagai momok.

Kepala BUPP KEK ETKI Banten, Lindawaty Chandra menjelaskan bahwa diferensiasi utama KEK dibandingkan lokasi lain adalah adanya One Stop Services.

Segala perizinan, mulai dari pembangunan gedung hingga izin praktik dokter asing, dikelola administrator KEK yang berkantor langsung di lokasi.

“Spesial untuk sektor kesehatan, KEK memberikan kemudahan memasukkan peralatan, teknologi, dan obat asing yang sudah memiliki izin FDA (FDA Approved) meskipun belum ada BPOM-nya di Indonesia,” jelas Linda.

  • Akses Dokter Spesialis Asing: Dokter asing dengan pengalaman minimal 5 tahun dimudahkan izin praktiknya melalui skema percepatan.
  • Fasilitas Fiskal: Tax holiday hingga 20 tahun dan pembebasan PPN untuk barang-barang modal.
  • Logistik Cepat: Adanya kantor Bea Cukai sendiri di dalam kawasan, sehingga barang dari luar negeri tidak perlu tertahan lama di pelabuhan umum seperti Tanjung Priok atau Soekarno-Hatta.

Menantang Dominasi Thailand & Korea

Secara kualitas, dokter di Indonesia diakui tidak kalah dengan luar negeri. Namun, ekosistem industri yang matang menjadi pembeda utama mengapa Thailand dan Korea sukses besar dengan medical tourism-nya.

Mereka didukung penuh oleh pemerintah yang memposisikan negaranya sebagai hub medis melalui kombinasi teknologi, pengalaman dokter, dan harga kompetitif.

“Ekosistem tempat kami tumbuh di KEK ini memberikan akses ke teknologi, talenta, dan kolaborasi global. Kami ingin berkontribusi terhadap ekonomi dan kualitas pelayanan di Indonesia agar masyarakat tidak perlu lagi mencari pengobatan ke luar negeri,” pungkas Diana.

Lahirnya ekosistem medis di D-Hub SEZ BSD City ini adalah bentuk nyata transformasi industri kesehatan.

Dengan kemudahan akses yang hanya 30 menit dari bandara, fasilitas ini siap menyerap kembali devisa yang selama ini “terbang” ke negeri tetangga.

Kini, pilihan ada di tangan konsumen: tetap terbang jauh ke Korea, atau cukup berkendara ke BSD untuk mendapatkan sentuhan tangan ahli kelas dunia dengan standar yang sama, namun di “rumah” sendiri. (*)

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *