Teheran – Dewan Ahli Iran resmi menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi (Supreme Leader) baru menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei.
Keputusan krusial ini diambil hanya berselang sepekan setelah Ali Khamenei tewas dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel di Teheran.
Penunjukan pria berusia 56 tahun tersebut dilakukan oleh para ulama senior dan disiarkan oelh Televisi pemerintahan Iran pada Minggu (8/3/2026) waktu setempat.
Hasil Pemilihan ini menempatkan Mojtaba di puncak kekuasaan untuk memandu Republik Islam Iran melewati krisis terdalam dalam 47 tahun sejarah negara tersebut.
Dukungan Militer dan Elite Politik
Segera setelah pengumuman tersebut, kekuatan utama Iran menyatakan loyalitas mereka. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan jajaran angkatan bersenjata langsung memberikan dukungan penuh kepada pemimpin baru tersebut.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyambut hangat terpilihnya Mojtaba. Ia menegaskan bahwa mengikuti jejak Pemimpin Tertinggi yang baru adalah sebuah kewajiban agama sekaligus nasional bagi seluruh rakyat.
Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, juga menyerukan persatuan nasional. Larijani saat ini memegang mandat untuk mengarahkan strategi keamanan Iran sejak serangan besar-besaran AS-Israel dimulai.
Profil dan Garis Keras Mojtaba
Meskipun tidak pernah memegang jabatan publik melalui pemilu, Mojtaba dikenal sebagai sosok paling berpengaruh di lingkaran dalam ayahnya. Ia memiliki hubungan yang sangat erat dengan IRGC selama puluhan tahun.
Para analis menilai penunjukan ini merupakan sinyal bahwa faksi garis keras masih memegang kendali penuh di Teheran.
- Status Keagamaan: Memegang gelar Hojjatoleslam, peringkat ulama tingkat menengah, dan belajar di seminari Qom.
- Posisi Politik: Dikenal sebagai “penjaga gerbang” ayahnya yang mengontrol akses ke Pemimpin Tertinggi.
- Visi Diplomatik: Diprediksi akan bersikap konfrontatif dan kecil kemungkinan untuk melakukan negosiasi dengan Barat dalam waktu dekat.
Penunjukan ini memicu ketegangan baru dengan Washington. Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa Mojtaba adalah pilihan yang “tidak dapat diterima” oleh Amerika Serikat.
Trump kembali menegaskan pengaruhnya dengan menyebut bahwa siapa pun pemimpin Iran yang baru tidak akan bertahan lama tanpa persetujuan Washington. Ia bahkan tidak menutup kemungkinan pengiriman pasukan darat ke wilayah Iran.
Pihak Iran merespons tajam ancaman tersebut. Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan bahwa nasib Iran hanya ditentukan oleh bangsa Iran sendiri, bukan oleh intervensi pihak asing.
Situasi Terkini di Teheran
Penunjukan ini terjadi saat langit Teheran tertutup kabut hitam akibat serangan Israel ke lima fasilitas minyak di sekitar ibu kota. Meski digempur, IRGC mengklaim masih memiliki pasokan rudal yang cukup untuk menyerang selama enam bulan ke depan.
Juru bicara IRGC, Ali Mohammad Naini, memperingatkan bahwa mereka akan segera mengerahkan rudal jarak jauh generasi terbaru. Hingga kini, para pengamat memperingatkan belum ada jalur yang jelas untuk mengakhiri konflik yang diperkirakan akan berlangsung lama ini.(NR)





