Doha – Otoritas Qatar melakukan evakuasi besar-besaran di distrik Msheireb, Doha, Sabtu (14/3/2026) pagi waktu setempat.
Wilayah yang dikosongkan mencakup area perkantoran pemerintah hingga kantor raksasa teknologi Google (GOOGL.O).
Langkah darurat ini diambil sesaat sebelum laporan adanya pencegatan rudal di wilayah udara Qatar.
Berdasarkan Laporan padangan Mata Kontributor The Guardian,Saksi mata menyebutkan suasana tegang menyelimuti pusat kota saat instruksi pengosongan bangunan dikeluarkan secara mendadak.
Kementerian Dalam Negeri Qatar mengonfirmasi bahwa evakuasi dilakukan di sejumlah titik tertentu. “Ini adalah tindakan pencegahan sementara untuk menjamin keamanan publik,” jelas pernyataan resmi kementerian tersebut tanpa merinci jenis ancaman yang masuk.
Daftar Lokasi dan Fasilitas yang Dievakuasi:
- Distrik Msheireb: Area pusat bisnis yang menjadi lokasi kantor pusat Google.
- Education City: Kawasan pendidikan yang menampung enam cabang universitas Amerika Serikat.
- Kantor Pemerintahan: Sejumlah gedung kementerian di pusat ibu kota Doha.

Sesaat sebelum perintah evakuasi keluar, Presiden AS Donald Trump memberikan pernyataan pers sebelum menaiki pesawat kepresidenan Air Force One.
Ia mengonfirmasi serangan AS terhadap target militer di Pulau Kharg, Iran, yang memicu eskalasi di seluruh wilayah Teluk.
Di Lebanon, situasi serupa terjadi di mana kepulan asap membubung tinggi pascaserangan di pinggiran selatan Beirut.
Seorang warga yang berada di lokasi kejadian menceritakan kepada koresponden lapangan bahwa ia sempat mengira ledakan tersebut adalah serangan udara langsung ke pemukiman mereka.
Hizbullah, melalui pemimpinnya Naim Qassem, menyatakan bahwa saat ini mereka sedang berada dalam “pertempuran eksistensial”. Sementara itu, militer Israel terus menyebarkan selebaran di Beirut yang berisi instruksi bagi warga sipil untuk menjauh dari zona konflik.
Sejauh ini, pihak Google belum memberikan pernyataan resmi terkait operasional kantor mereka di Doha pasca-evakuasi.
Ketegangan di Timur Tengah diperkirakan akan terus meningkat menyusul ancaman Trump untuk melakukan serangan lebih keras dalam sepekan ke depan.(NR)





