Tapanuli Selatan – Harapan baru menyelimuti warga Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, setelah Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) resmi menyerahkan kunci 120 unit Hunian Tetap (Huntap) tahap pertama.
Langkah cepat ini merupakan bentuk nyata komitmen pemerintah, dalam merehabilitasi kehidupan masyarakat yang terdampak bencana hidrometeorologi melalui kolaborasi lintas kementerian dan lembaga.
Kehadiran hunian komunal ini memastikan para korban bencana tidak lagi terjebak dalam ketidakpastian dan dapat segera menempati rumah yang layak, aman, serta nyaman.
Sinergi Lintas Lembaga
Pembangunan huntap di Tapanuli Selatan ini, tercatat sebagai salah satu proyek pascabencana tercepat di wilayah Sumatra.
Hal ini tidak lepas dari arahan tegas Menteri PKP Maruarar Sirait, yang menekankan kualitas bangunan dan ketepatan waktu agar masyarakat tidak berlama-lama di pengungsian.
Keberhasilan ini juga didorong integrasi data yang akurat. Pemerintah daerah menyiapkan data by name by address (BNBA), yang divalidasi langsung Badan Pusat Statistik (BPS).
Sinergi ini memangkas birokrasi panjang, sehingga pembangunan fisik oleh Kementerian PKP dapat berjalan paralel dengan penyaluran bantuan sosial lainnya.
Selain unit rumah yang kokoh, pemerintah juga memberikan paket bantuan pemulihan menyeluruh, di antaranya:
- Dana Tunggu Hunian (DTH): Sebesar Rp1,8 juta untuk memenuhi kebutuhan hunian sementara selama tiga bulan.
- Jaminan Hidup (Jadup): Bantuan dari Kementerian Sosial sebesar Rp 15.000 per orang setiap harinya.
- Bantuan Isi Rumah: Stimulan perabotan rumah tangga senilai Rp 3 Juta per keluarga.
- Stimulan Ekonomi: Dukungan modal usaha sebesar Rp 5 Juta untuk membangkitkan roda ekonomi warga.

Menteri PKP, Maruarar Sirait menegaskan bahwa kehadiran kementeriannya adalah untuk memastikan negara hadir di tengah kesulitan rakyat.
“Kami bergerak cepat melalui koordinasi dengan pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan. Fokus kami adalah rumah yang tidak hanya sekadar bangunan, tapi tempat tinggal yang memberikan rasa aman,” tegas Maruarar.
Senada dengan hal tersebut, Menteri Dalam Negeri, Muhammad Tito Karnavian mengapresiasi pola kerja gotong royong ini.
Menurutnya, koordinasi yang solid antara pusat dan daerah di Tapanuli Selatan menjadi standar baru dalam penanganan bencana di Indonesia yang efisien dan responsif.
Tegaknya 120 hunian tetap di Tapanuli Selatan bukan sekadar keberhasilan konstruksi, melainkan simbol kemenangan kolaborasi atas bencana.
Proyek ini menjadi bukti bahwa ketika kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah bergerak dalam satu irama, pemulihan hidup masyarakat dapat dilakukan dengan akselerasi yang luar biasa.
Harapannya, model “Gotong Royong Tapsel” ini menjadi inspirasi nasional agar setiap warga yang tertimpa musibah dapat segera kembali tersenyum di bawah atap rumah mereka yang baru. (NR)





