Eindhoven, Belanda – Meski harus bermain dengan 10 orang selama hampir 80 menit pertandingan, skuad “De Oranje” sukses memaksakan hasil imbang 1-1 dalam laga yang penuh drama kartu merah dan penalti.
Tim nasional Belanda menunjukkan mental baja saat menjamu Ekuador dalam laga persahabatan internasional di Eindhoven.
Pertandingan ini menjadi ujian emosional bagi kedua tim, yang tengah mempersiapkan diri menuju putaran final Piala Dunia 2026 di Amerika Utara.
Awal Manis Berubah Petaka
Belanda sebenarnya memulai laga dengan impian. Baru tiga menit berjalan, tekanan dari Donyell Malen memaksa bek Ekuador, Willian Pacho, melakukan kesalahan fatal.
Berniat menghalau umpan silang mendatar Cody Gakpo, Pacho justru membelokkan bola ke gawangnya sendiri. Skor 1-0 untuk tuan rumah.
- Namun, kegembiraan publik Eindhoven tak bertahan lama. Petaka datang di menit ke-12 ketika Denzel Dumfries terpaksa menarik jatuh Gonzalo Plata yang sudah bebas mengancam gawang.
- Tanpa ragu, wasit mengeluarkan kartu merah langsung untuk Dumfries.
- Unggul jumlah pemain membuat Ekuador tampil sangat agresif. Gonzalo Plata dan John Yeboah berkali-kali merepotkan lini belakang Belanda.
- Pada menit ke-23, Ekuador mendapatkan kompensasi atas tekanan mereka setelah kiper Mark Flekken menjatuhkan Plata di kotak terlarang.
- Enner Valencia yang maju sebagai eksekutor dengan tenang menyarangkan bola ke pojok gawang untuk menyamakan skor.

Ekuador hampir saja berbalik unggul jika tendangan Yeboah tidak membentur tiang gawang atau digagalkan oleh aksi heroik Flekken di akhir babak pertama.
Meski terus ditekan di babak kedua, disiplin lini pertahanan Belanda berhasil menjaga skor tetap imbang hingga peluit panjang berbunyi.
Hasil imbang ini memberikan catatan penting bagi kedua negara sebelum terbang ke turnamen akbar di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat.
Belanda masih memiliki satu jadwal uji coba terakhir melawan Aljazair pada Juni mendatang, sebagai persiapan menghadapi Jepang di laga pembuka Grup F.
Di sisi lain, Ekuador yang tergabung dalam Grup E bersama Jerman, Pantai Gading, dan Curacao, menunjukkan bahwa mereka adalah tim yang sangat berbahaya melalui transisi cepat dan serangan balik yang mematikan. (*)
Baca juga :





