Tepi Barat, Palestina – Di tengah konflik yang tak berkesudahan di Tepi Barat, sebuah kabar duka kembali mengguncang. Pembunuh Awdah Hathaleen Pernah Disanksi AS, Kini Bebas?
Kali ini, seorang aktivis Palestina, yang suaranya sempat bergema hingga panggung dunia melalui sebuah film peraih Oscar, harus mengakhiri hidupnya di tangan kekerasan.
Awdah Hathaleen, seorang aktivis Palestina yang dikenal karena keterlibatannya dalam film dokumenter peraih Piala Oscar, No Other Land, tewas terbunuh dalam sebuah serangan oleh pemukim Israel di sebuah desa dekat perbukitan Hebron, Tepi Barat.
Peristiwa tragis ini terjadi pada Senin (28/07/25). Hathaleen, yang merupakan seorang guru dari komunitas Masafer Yatta, berperan sebagai konsultan dalam pembuatan film No Other Land.
Film ini secara gamblang menunjukkan realitas Masafer Yatta, sebuah komunitas Palestina, yang berada di bawah serangan pemukim dan tentara Israel.
Film yang disutradarai oleh sekelompok aktivis Palestina dan Israel ini berhasil memenangkan penghargaan Film Dokumenter Terbaik dalam ajang Piala Oscar pada Maret lalu, dan membawa isu ini ke perhatian global.
Detik-detik Mengerikan & Pelaku yang Disorot
Yuval Abraham, salah satu sutradara film No Other Land yang berasal dari Israel, mengunggah video insiden tersebut melalui akun Media Sosial X pribadinya.
Serangan yang merenggut nyawa Hathaleen terekam dalam sebuah video, yang menunjukkan seorang Pemukim Israel bernama Yinon Levi menembakkan senjata secara liar pada waktu pembunuhan.
Nama Yinon Levi bukanlah sosok asing. Ia sebelumnya pernah diberi sanksi oleh Joe Biden saat masih menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat.

Namun, secara kontroversial, namanya dicoret dari daftar sanksi oleh Presiden Donald Trump saat ia memulai masa jabatan keduanya.
Levi dilaporkan telah ditangkap oleh Kepolisian Israel, namun hingga kini ia belum diajukan tuntutan.
“Seorang warga negara Israel ditahan di tempat kejadian dan kemudian ditangkap oleh polisi untuk diinterogasi,” ujar pernyataan pihak kepolisian dikutip dari Al Jazeera.
Pihak kepolisian juga menambahkan bahwa tentara Israel telah menangkap empat warga Palestina “sehubungan dengan insiden tersebut, bersama dengan dua turis asing yang berada di lokasi kejadian”.
Berdasarkan laporan The Guardian, insiden ini bermula ketika seorang pemukim melaju melewati desa Umm al-Khair dan mulai menghancurkan pohon serta properti dengan sebuah buldoser.
Penduduk desa lantas mulai melemparkan batu ke arah buldoser tersebut, ketika buldoser itu menjatuhkan seorang warga setempat yang mencoba menghentikannya.
Pada saat inilah Levi dilaporkan keluar dan mulai menembak dengan senjatanya. Hathaleen, yang saat itu berada agak jauh dari konfrontasi, tertembak oleh sebuah peluru.
Tragedi ini tidak hanya menimpa Hathaleen. Wafa, sebuah kantor pemberitaan Palestina, juga melaporkan bahwa seorang warga Palestina lainnya turut terluka dan dibawa ke rumah sakit setelah dipukuli oleh seorang pemukim.
Kesaksian dan Pesan Terakhir
Yuval Abraham, salah satu sutradara film No Other Land yang berasal dari Israel, mengunggah video insiden tersebut melalui akun media sosial X pribadinya.
Sementara itu, Basel Adra, seorang Jurnalis asal Palestina yang juga menyutradarai film tersebut, mengonfirmasi kematian Hathaleen dan menyampaikan rasa dukanya yang mendalam.
“Sahabatku tersayang, Awdah, dibantai malam ini,” ucap Adra, sebagaimana dilansir dari The Guardian.
“Ia sedang berdiri di depan balai desanya ketika seorang pemukim menembakkan peluru yang menembus dadanya dan merenggut nyawanya. Beginilah cara Israel menghapus kami – satu nyawa demi satu nyawa.”
Lebih menyayat hati, para aktivis juga membagikan pesan terakhir Hathaleen sebelum ia terbunuh.
“Para pemukim sedang bekerja di belakang rumah kami dan … mereka mencoba memutus pipa air utama untuk masyarakat … Jika Anda dapat menghubungi pihak-pihak seperti Kongres, pengadilan, atau pihak lainnya, silakan lakukan apa pun,” demikian pesannya.

Pada bulan lalu, Hathaleen dan sepupunya, Eid al-Hathaleen, disponsori oleh sebuah kelompok agama untuk menghadiri serangkaian pembicaraan di Amerika Serikat. Namun, mereka ditolak masuk ke AS saat tiba di bandara internasional San Francisco setelah visa mereka dicabut.
Kematian Hathaleen merupakan bagian dari gelombang kekerasan yang terus meningkat oleh pemukim, dan pihak militer Israel di Tepi Barat.
Sejak Oktober 2023 lalu, setidaknya 1.009 warga Palestina tewas, sementara lebih dari 7.000 lainnya terluka. Kekerasan ini juga menimpa rekan seperjuangan Hathaleen.
Hamdan Ballal, salah satu sutradara No Other Land lainnya, sebelumnya juga diserang oleh pemukim Israel pada Maret lalu saat berada di rumahnya di Susiya.
Ballal, yang mengalami luka di bagian kepala, ditangkap oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF) saat berada di dalam ambulans, dan ditahan selama satu hari sebelum akhirnya dibebaskan.
Kematian Awdah Hathaleen adalah pengingat pahit akan realitas brutal yang dihadapi komunitas Palestina di Tepi Barat.
Seorang pembawa pesan perdamaian dan keadilan, yang suaranya telah menjangkau audiens global, kini harus diam.
Insiden ini menambah panjang daftar korban konflik yang tak kunjung usai, memicu seruan global untuk akuntabilitas dan perlindungan bagi warga sipil di wilayah tersebut. (VT)
Baca juga :





