Udine, Italia – AS Roma harus merasakan pahitnya kenyataan dijauhi Dewi Fortuna, saat melawat ke markas Udinese dalam lanjutan pekan ke-23 Serie A.
Dominasi Giallorossi harus hancur berkeping-keping lewat satu momen ganjil, yaitu tendangan bebas Jurgen Ekkelenkamp yang berbelok arah secara liar.
Kekalahan 0-1 ini secara resmi menghentikan tren positif pasukan Roma di liga, sekaligus membuktikan bahwa absennya pilar utama seperti Paulo Dybala dan Artem Dovbyk meninggalkan lubang kreativitas yang sulit ditambal.
Tembok Okoye & Petaka Malen
Sejak peluit pertama dibunyikan, Udinese langsung menggebrak. Mile Svilar dipaksa bekerja ekstra keras dengan dua penyelamatan gemilang di menit awal. Namun, momen yang mengubah segalanya terjadi di babak kedua.
- Jurgen Ekkelenkamp melepaskan tendangan bebas yang sebenarnya terlihat bisa diantisipasi.
- Namun sial bagi Roma, bola membentur Donyell Malen yang menjadi pagar betis, berbelok arah secara ekstrem, dan melambung masuk ke pojok gawang Svilar. Svilar hanya bisa terpaku melihat bola masuk ke gawangnya.
- Roma bisa menyamakan skor, seandainya gol Bryan Cristante di menit ke-90 tidak dianulir VAR, karena Kostas Tsimikas terjebak offside tipis.
- Kiper Udinese, Maduka Okoye, juga menjadi tembok dan melakukan penyelamatan “jari sakti” di menit ke-97 untuk menggagalkan sontekan Gianluca Mancini.

Usai pertandingan, Manajer AS Roma, Gian Piero Gasperini tidak mencari alasan, namun ia memberikan perspektif menarik terkait meningkatnya frekuensi cedera pemain belakangan ini. Padatnya jadwal memaksa anggota tim bermain dua kali lipat lebih banyak.
“Sepakbola pasti berujung pada cedera. Hari ini mungkin lebih sering karena kita bermain dua kali lipat lebih banyak. Ilmu pengetahuan belum bisa memangkas waktu pemulihan; otot tetap butuh tiga minggu untuk sembuh,” ujar Gasperini dengan nada filosofis kepada Sky Sports.
Roma sendiri sempat meradang akibat keputusan wasit memberikan tendangan bebas yang berujung gol tersebut, merasa Mancini tidak melakukan pelanggaran.
Namun, nasi sudah menjadi bubur, poin penuh tetap milik tuan rumah. Roma pulang ke ibu kota dengan kepala tegak namun penuh catatan.
Kekalahan ini bukan karena inferioritas taktik, melainkan karena kombinasi antara kurangnya presisi di sepertiga akhir dan faktor keberuntungan lawan yang sedang memuncak.
Bagi Giallorossi, perjalanan masih panjang, dan kembalinya para bintang dari ruang perawatan akan menjadi kunci apakah mereka bisa segera bangkit atau justru terus merosot.
Di Serie A, setiap jengkal kesalahan adalah hukuman, dan Udine baru saja memberikan pelajaran mahal itu. (*)
Baca juga :





