Dari Masalah Keselamatan ke Masalah Buruh: Ribuan Pekerja Mogok, Krisis Boeing Semakin Menumpuk!

Ribuan Pegawai Boeing Mogok Kerja, Tuntut Gaji dan Pensiun Layak, Produksi Pesawat Militer Terancam!

Missouri, AS – Di tengah sorotan global yang tak kunjung mereda atas masalah keselamatan, pukulan baru kembali menghantam raksasa dirgantara Amerika Serikat.

Pabrik-pabrik Boeing yang vital di Missouri dan Illinois kini senyap, digantikan oleh suara tuntutan para pekerja yang menuntut hak mereka.

Sekitar 3.200 pegawai Boeing di Missouri dan Illinois memulai aksi mogok kerja pada Senin (04/08/25).

Mogok ini terjadi setelah anggota serikat pekerja, yang bertanggung jawab membangun jet tempur dan pesawat militer, menolak tawaran baru dari manajemen terkait gaji, jadwal kerja, dan pensiun.

“3.200 anggota Serikat Pekerja IAM yang berkeahlian tinggi di Boeing mogok kerja tengah malam karena sudah cukup. Ini tentang rasa hormat dan martabat, bukan janji kosong,” demikian pernyataan tegas Serikat Pekerja IAM (International Association of Machinists and Aerospace Workers) melalui Akun X resmi mereka.

IAM sendiri adalah salah satu serikat pekerja terbesar di AS, yang mewakili sekitar 600.000 anggota di berbagai industri, termasuk dirgantara dan pertahanan.

Aksi mogok kerja ini dipimpin oleh cabang lokal IAM yang berbasis di St. Louis, tempat pusat manufaktur pertahanan Boeing berada.

Sebelumnya, para pegawai telah menolak tawaran Boeing yang mencakup kenaikan upah sebesar 20% selama empat tahun.

Mereka merasa tawaran tersebut belum cukup untuk menjamin kesejahteraan dan keamanan keluarga mereka.

Jet tempur Boeing – Foto: Dok. BBC

“Anggota IAM Distrik 837 membangun pesawat dan sistem pertahanan yang menjaga keamanan negara kita,” ucap Sam Cicinelli, Wakil Presiden Umum Serikat Pekerja Wilayah Midwest, sebagaimana dikutip dari AP News.

“Mereka berhak mendapatkan kontrak yang menjamin keamanan keluarga mereka, dan mengakui keahlian mereka yang tak tertandingi.”

Pihak Boeing menyatakan kekecewaannya atas keputusan para pekerja.

Dan Gillian, Wakil Presiden dan Manajer Umum Boeing Air Dominance, mengatakan kepada AP News, “Kami kecewa karena karyawan kami menolak tawaran kenaikan upah rata-rata sebesar 40% dan menyelesaikan masalah utama mereka terkait jadwal kerja alternatif.”

Serangkaian Tragedi & Masalah Internal

Aksi mogok ini menjadi pukulan telak terbaru bagi Boeing, yang dalam beberapa tahun terakhir telah menghadapi serangkaian krisis besar, diantaranya adalah :

  • Pada tahun 2018, dua pesawat Boeing 737 MAX jatuh tak lama setelah lepas landas. Insiden pertama terjadi di Jakarta, menewaskan 189 penumpang, dan yang kedua di Ethiopia, merenggut 157 nyawa. Tragedi ini menyebabkan seluruh armada 737 MAX di seluruh dunia dilarang terbang selama berbulan-bulan.
Kecelakaan pesawat Air India – Foto: AP News
  • Pada bulan Juni lalu, sebuah pesawat Dreamliner Boeing yang dioperasikan oleh Air India jatuh, menewaskan setidaknya 260 orang. Peristiwa ini kembali memicu pertanyaan besar tentang kualitas dan keselamatan produk-produk Boeing.

Mogok kerja ini tidak hanya mengganggu operasional perusahaan, tetapi juga mengancam produksi peralatan militer yang vital.

Di tengah tantangan besar untuk mengembalikan kepercayaan publik dan otoritas penerbangan, Boeing kini harus menghadapi masalah internal yang tak kalah serius.

Aksi mogok para pekerja adalah refleksi dari ketidakpuasan mendalam, menyoroti celah antara manajemen dan tenaga kerja.

Dengan masalah keselamatan yang terus menghantui dan krisis kepercayaan yang belum usai, perusahaan kini berada di persimpangan jalan, dituntut untuk segera menemukan solusi yang tidak hanya menjamin keamanan produknya, tetapi juga kesejahteraan para pekerjanya. (VT)

Baca juga : 

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *