Gaza, Palestina – Israel semakin menguasai Gaza dengan memperluas operasi militer di wilayah tersebut. Pada Rabu (3/4/2025) waktu setempat, pemerintah Zionis mengumumkan ekspansi besar-besaran, menyatakan bahwa sebagian besar wilayah Gaza akan direbut dan dimasukkan ke dalam zona keamanannya. Operasi ini juga disertai dengan evakuasi penduduk secara besar-besaran.
Menteri Pertahanan Israel, Yoav Katz, menegaskan bahwa tujuan utama operasi ini adalah membersihkan Gaza dari Hamas serta mengembalikan sandera Israel. “Operasi ini akan mengeliminasi militan dan infrastruktur mereka serta merebut wilayah yang akan dimasukkan ke dalam zona keamanan Negara Israel,” kata Katz, dikutip dari Reuters.
Pernyataan Katz tidak menjelaskan secara rinci seberapa banyak wilayah Gaza yang akan direbut secara permanen. Namun, menurut kelompok hak asasi manusia Israel, Gisha, Israel telah menguasai sekitar 62 kilometer persegi atau 17% dari total luas Gaza sebagai bagian dari zona penyangga.
Sebelumnya, militer Israel telah memerintahkan evakuasi warga di beberapa distrik selatan Gaza. Radio Palestina melaporkan bahwa wilayah di sekitar Rafah hampir sepenuhnya kosong setelah perintah evakuasi dikeluarkan.
Israel semakin gencar memaksa warga Gaza meninggalkan wilayahnya setelah mendapat dukungan dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Trump dikabarkan mendukung evakuasi permanen warga Gaza, dengan rencana membangun resor pantai di bawah kendali Washington.
Selain menghadapi serangan Israel, Hamas juga mendapat tekanan dari warga Gaza yang mulai memprotes kepemimpinan mereka sejak menguasai wilayah itu pada 2007. Para pengamat menilai bahwa strategi Israel dengan memperluas operasi militer bertujuan untuk menekan warga sipil agar menentang Hamas.
“Saya menyerukan kepada penduduk Gaza untuk bertindak sekarang guna melenyapkan Hamas dan mengembalikan semua sandera,” ujar Katz.
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa 53 orang tewas dalam serangan Israel pada Rabu, termasuk 19 anak-anak. Serangan di sebuah klinik PBB yang digunakan sebagai tempat pengungsian juga menelan banyak korban jiwa.
Israel mengklaim klinik tersebut digunakan sebagai pusat komando Hamas dan menyatakan bahwa serangan dilakukan dengan mempertimbangkan upaya untuk meminimalkan korban sipil. Namun, video Reuters memperlihatkan lantai klinik yang berlumuran darah serta petugas penyelamat yang membawa jenazah dengan tandu.
Di Khan Younis, seorang saksi, Rida al-Jabbour, menunjukkan sepatu kecil dan dinding penuh darah, menggambarkan seorang tetangganya yang terbunuh bersama bayinya yang baru berusia tiga bulan.
Sejak Israel kembali melancarkan operasi militernya, setidaknya 1.042 orang telah tewas, menjadikan jumlah korban keseluruhan di Gaza mencapai lebih dari 50.399 jiwa sejak perang dimulai pada Oktober 2023. (*)
Baca juga :
- meta-terseret-kontroversi-iklan-pemukiman-ilegal-israel-di-tepi-barat/
- warga-gaza-rayakan-idul-fitri-di-tengah-perang-dan-kelaparan/
- serangan-udara-israel-di-gaza-selatan-tewaskan-pemimpin-hamas-salah-al-bardaweel/
- malam-berdarah-di-gaza-85-tewas-dalam-serangan-israel-apa-yang-terjadi-selanjutnya/
- gaza-dilanda-krisis-air-bersih/