Tepi Barat, Palestina – Sebuah desa di Tepi Barat, Palestina, kembali bergejolak. Kobaran api yang membakar kendaraan dan rumah menjadi saksi bisu kekerasan yang tak berkesudahan, merenggut nyawa seorang warga Palestina yang tak berdosa.
Khamis Ayyad, seorang warga Palestina, tewas setelah pemukim Israel menyerang desa tersebut, membakar kendaraan dan rumah di sekitarnya pada Kamis (31/07/25).
Ayyad bersama warga setempat lainnya berusaha keras memadamkan api yang berkobar. Namun, upayanya harus berakhir tragis.

Menurut laporan Kementerian Kesehatan Palestina yang dikutip dari Al Jazeera, Ayyad meninggal dunia karena terlalu banyak menghirup asap kebakaran.
Seorang kerabat Ayyad, yang tak disebutkan namanya, menceritakan kengerian kejadian itu. Mereka terbangun sekitar pukul 02.00 dini hari dan menyaksikan “api melahap kendaraan di seluruh lingkungan tersebut.”
Ia menambahkan, “Warga kota panik dan bergegas memadamkan api yang membakar mobil dan bangunan.”
Raafat Hussein Hamed, seorang warga Silwad yang rumahnya juga menjadi korban, memberikan kesaksian serupa kepada France24.
Ia melihat “sebuah mobil menurunkan mereka (para pelaku) di suatu tempat, mereka membakar apa pun yang mereka bisa, lalu melarikan diri.”
Pihak militer Israel, yang berbicara dengan AFP, menyatakan bahwa “beberapa tersangka membakar properti dan kendaraan di wilayah Silwad”.
Meskipun demikian, mereka mengakui bahwa pasukan yang dikirim ke lokasi tidak dapat mengidentifikasi para pelaku. Pihak kepolisian Israel telah memulai penyelidikan terkait insiden ini.
Serangan Beruntun & Hukuman yang Dipertanyakan
Tragedi ini menambah panjang daftar insiden berdarah yang menimpa penduduk Palestina akibat serangan pemukim Israel.

Kematian Khamis Ayyad terjadi hanya berselang beberapa hari setelah Awdah Hathaleen, seorang aktivis Palestina yang terlibat dalam film dokumenter pemenang Piala Oscar, No Other Land, tewas tertembak oleh seorang pemukim Israel.
Yang semakin menambah luka, Yinon Levi, tersangka yang dituduh sebagai pembunuh Hathaleen, telah dibebaskan dari tahanan.
Meskipun sempat ditahan, Pengadilan Magistrat Yerusalem menolak untuk menahannya lebih lanjut.
Levi kini hanya ditempatkan dalam tahanan rumah, sebuah keputusan yang menimbulkan banyak pertanyaan dan kekecewaan di kalangan aktivis dan keluarga korban.
Pada hari yang sama dengan serangan pembakaran di Silwad, Kantor Pemberitaan Palestina, Wafa juga melaporkan insiden serupa di desa Bazariya, Tepi Barat bagian utara.
Sekelompok pemukim Israel juga membakar sebuah bengkel mobil di sana, menunjukkan pola kekerasan yang terus berulang dan meluas.

Menurut data dari Kantor Kemanusiaan PBB (OCHA), situasi di Tepi Barat semakin mengkhawatirkan.
- Antara 15 dan 21 Juli 2025, OCHA mencatat setidaknya 27 insiden serangan pemukim Israel yang mengakibatkan korban jiwa dan/atau kerusakan properti bagi warga Palestina.
- Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa ratusan warga Palestina menjadi korban serangan pemukim dan tentara Israel yang menargetkan infrastruktur air dan sumber kehidupan warga, semakin mempersulit kondisi hidup mereka.

Kematian Khamis Ayyad adalah pengingat pahit bahwa kekerasan di Tepi Barat terus memakan korban, mengikis harapan akan perdamaian dan keamanan.
Insiden-insiden beruntun ini, ditambah dengan sistem hukum yang sering kali dianggap tidak adil, menciptakan siklus ketakutan dan penderitaan yang tak berujung bagi penduduk Palestina.
Dengan adanya laporan dari berbagai sumber terpercaya seperti Al Jazeera, France24, dan OCHA, dunia kini kembali diingatkan akan urgensi untuk mencari solusi damai yang adil, mengakhiri kekerasan, dan memberikan perlindungan bagi warga sipil di wilayah konflik ini. (VT)
Baca juga :





