Update: Korban Meninggal Bencana Sumatra 1.071 Jiwa

Ratusan Orang Masih Hilang dan Dalam Proses Pencarian, Pengungsi Mulai Menurun

Jakarta – Kabut duka masih menyelimuti wilayah Sumatra bagian utara dan barat.

Hingga Jumat (19/12/25) sore, tercatat sebanyak 1.071 orang dinyatakan meninggal dunia, akibat bencana banjir bandang dan tanah longsor yang menghantam Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari mengungkapkan bahwa angka kematian ini bertambah seiring ditemukannya korban baru dalam proses evakuasi.

“Ada tambahan tiga korban jiwa dibanding data hari Kamis kemarin,” ujarnya dalam konferensi pers yang dipantau via YouTube BNPB.

Pencarian 185 Korban Hilang

Di tengah medan yang sulit dan sisa lumpur yang tebal, tim SAR gabungan masih berupaya mencari 185 orang yang dilaporkan hilang.

Angka ini sedikit menurun dari hari sebelumnya, setelah lima orang berhasil ditemukan oleh petugas di lapangan. Proses pencarian kini difokuskan pada titik-titik krusial di tiga provinsi tersebut.

Di Sumatra Utara, tim bergerak di empat sektor utama, sementara di Sumatra Barat penyisiran dilakukan di lima sektor berbeda. Provinsi Aceh menjadi wilayah dengan cakupan terluas, mencakup enam kabupaten sekaligus.

Dampak Bencana Regional

Meski jumlah korban jiwa meningkat, jumlah warga yang berada di pengungsian mulai menunjukkan tren penurunan. Masyarakat perlahan mulai meninggalkan posko darurat menuju rumah kerabat atau hunian sementara.

Berikut adalah rincian data terbaru dari BNPB per 19 Desember 2025:

  • Total Meninggal Dunia: 1.071 jiwa.
  • Warga Hilang: 185 orang (berkurang 5 orang dari hari sebelumnya).
  • Jumlah Pengungsi: 526.868 jiwa (sebelumnya 537.185 jiwa).
  • Status Wilayah: 27 kabupaten/kota masih dalam status tanggap darurat.

Pemerintah melalui BNPB memastikan bahwa status tanggap darurat masih diperpanjang di puluhan wilayah terdampak.

Langkah ini diambil guna menjamin kelancaran distribusi bantuan logistik, dan percepatan pembersihan akses jalan yang terputus.

Abdul Muhari menegaskan bahwa keselamatan warga dan pemenuhan kebutuhan dasar di pengungsian tetap menjadi prioritas utama.

Hingga saat ini, alat berat masih dikerahkan untuk membuka isolasi di desa-desa yang sempat tertutup material longsor. (NR)

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *