Marseille, Prancis – Sabtu (14/03/26) dinihari di Stade Velodrome bukan diawali dengan nyanyian, melainkan dengan keheningan yang mencekam.
Di tengah boikot ultras yang terluka dan spanduk bertuliskan “penghinaan”, Olympique de Marseille dipaksa bertarung melawan dua hal sekaligus, pertahanan gerendel Auxerre dan kemarahan pendukungnya sendiri.
Namun, saat laga tampak akan berakhir dengan rasa malu, Amine Gouiri muncul sebagai pahlawan yang merobek naskah duka tersebut dengan gol tunggal 1-0 atas Auxerre.
Protes Diam & Sentuhan ‘Magis’
Ada yang aneh di tribun Virage Sud. Biasanya, stadion ini adalah “neraka” bagi tim tamu, namun selama 45 menit pertama, stadion ini berubah menjadi “perpustakaan”.
Ultras Marseille memilih membisu, sebuah protes keras atas kegagalan di Coupe de France.
Keheningan itu seolah merambat ke lapangan, Mason Greenwood dan Pierre-Emerick Aubameyang tampak kesulitan menembus tembok tebal Auxerre.
Babak pertama ditutup bukan dengan tepuk tangan, melainkan dengan siulan ejekan (jeers) yang memekakkan telinga. Marseille seolah bermain di bawah mikroskop kebencian para suporternya sendiri.
Memasuki babak kedua, naskah mulai berubah. Habib Beye, sang arsitek baru, melakukan perjudian di menit ke-62.
- Ia menarik keluar bek CJ Egan-Riley dan memasukkan sang striker yang baru pulih dari cedera bahu, Amine Gouiri. Ini bukan sekadar pergantian pemain, ini adalah pernyataan perang.
- Tekanan mulai membuahkan hasil pada menit ke-78. Berawal dari umpan silang yang terdefleksi, bola melambung liar di udara, sebuah momen keberuntungan yang hanya menghampiri mereka yang berani menekan.
- Gouiri tidak menyia-nyiakannya. Dengan satu ayunan kaki, bola bersarang di gawang lawan. Seketika, keheningan Velodrome pecah menjadi ledakan euforia.
Lima menit setelah gol Gouiri, jantung publik Marseille nyaris berhenti. Bryan Okoh dari Auxerre berhasil menyontek bola ke gawang Rulli di tengah kemelut.
Namun, dewi fortuna sedang memakai seragam biru langit malam itu. Wasit jeli melihat handball dari pemain Pantai Gading tersebut. Marseille bertahan layaknya prajurit di parit perlindungan hingga peluit panjang berbunyi.
Kemenangan ini bukan hanya soal tiga poin, tapi soal memenangkan kembali hati para suporter yang sempat berpaling.
Marseille kini duduk nyaman di peringkat ketiga dengan selisih tiga poin dari rival abadi mereka, Lyon, dan masih punya taji untuk mengamankan tiket Liga Champions. (*)
Baca juga :





