Madrid, Spanyol – Di balik kemegahan sepakbola modern yang kerap dikendalikan oligarki asing dan korporasi multinasional, Real Madrid sekali lagi menegaskan jati dirinya sebagai sebuah anomali yang kokoh: klub ini sepenuhnya milik para anggotanya.
Ketegasan prinsip tersebut tercermin dalam pesta demokrasi yang digelar di Madrid baru-baru ini. Melalui rilis resmi Dewan Pemilihan Real Madrid, Florentino Perez resmi dinyatakan menang mutlak dalam pemilu klub.
Perez berhasil menyapu bersih 65% suara (21.741 pemilih). Angka tersebut menyudahi perlawanan sang penantang, Enrique Riquelme, yang hanya meraup 35% suara (11.814 pemilih) dari total 100% surat suara langsung maupun pos yang masuk.
Kemenangan besar ini resmi memperpanjang masa bakti Perez di kursi kepemimpinan Los Blancos, hingga tahun 2030 mendatang.
Agenda Strategis Hingga 2030
Kemenangan ini mencatatkan rekor tersendiri dalam sejarah politik klub ibu kota. Skuad pemenangan Florentino Perez Rodriguez berhasil menang telak di seluruh tempat pemungutan suara (TPS) yang disediakan.

Sekaligus mengamankan pencapaian elektoral terbaik kedua sepanjang sejarah pemilu Real Madrid, setelah rekor pribadi mereka pada pemilu tahun 2004 silam.
Meski demikian, Perez sempat menyayangkan adanya hampir seribu surat suara via pos yang dianulir oleh pihak panitia akibat kendala prosedural.
Padahal, suara-suara tersebut telah mengantongi sertifikasi resmi dari notaris. Pihak jajaran direksi Perez menegaskan akan segera mengajukan banding resmi atas pembatalan ini demi membela hak-hak anggotanya.
Bersama Perez, gerbong kepemimpinan baru ini diisi oleh figur-figur senior seperti Eduardo Fernandez de Blas, Pedro Lopez Jimenez, Enrique Sanchez Gonzalez, dan Enrique Perez Rodriguez yang masing-masing menjabat sebagai Wakil Presiden, serta Jose Luis del Valle Perez di posisi Sekretaris.
Dalam pidato kemenangannya, ia langsung menetapkan target ambisius, termasuk ambisi besar berburu trofi Piala Eropa (Liga Champions) keenam belas bagi klub raksasa Spanyol tersebut, dan beberapa agenda strategis.

- Menjaga Status Independen Klub: Menjamin bahwa di bawah kepemimpinannya, Real Madrid tidak akan pernah dijual ke investor asing dan akan 100% tetap menjadi milik sah para anggotanya (socios).
- Target Liga Champions ke-16: Menegaskan komitmen untuk terus menambah koleksi trofi Eropa dan bertarung habis-habisan demi memburu gelar Piala Eropa yang ke-16.
- Kembalinya Sang Guru Taktik: Menghadirkan rasa bangga mendalam bagi para Madridista dengan menyambut kembali salah satu pelatih terbaik dunia yang memiliki DNA klub, Jose Mourinho.
- Modernisasi Santiago Bernabeu: Terus memaksimalkan potensi stadion Santiago Bernabeu sebagai stadion terbaik di dunia yang menjadi simbol kemandirian finansial klub.
Hari pemungutan suara tersebut berjalan dengan penuh keterbukaan, sekaligus mengirimkan pesan kuat ke panggung olahraga global mengenai transparansi dan kedewasaan berorganisasi di internal Real Madrid.
Bagi Perez, keberhasilan pemilu ini adalah bukti konkret bahwa Real Madrid adalah sebuah keluarga besar yang selalu siap menghadapi tantangan zaman tanpa rasa takut.

Menariknya, sang presiden tidak menutup mata terhadap dinamika perbedaan pilihan di dalam klub.
Dalam pernyataan penutupnya yang penuh empati, Perez secara terbuka berjanji akan merangkul dan melakukan segala cara yang memungkinkan, untuk mendengarkan serta menjawab kekhawatiran dari para anggota yang pada pemilu ini tidak memberikan suara untuk dirinya.
Pada akhirnya, perpanjangan mandat hingga tahun 2030 ini bukan sekadar urusan memenangkan kursi kekuasaan, melainkan tentang menjaga sebuah warisan sebagai klub terbesar sepanjang masa, yang dikendalikan oleh hati para pendukungnya sendiri. (*)
Baca juga :





