Israel vs Iran: Perang Rudal Memanas, Trump Tampil Sebagai Juru Damai?

Saling serang rudal, menewaskan puluhan orang di kedua negara. Di tengah ketegangan,  Presiden AS Donald Trump menyerukan perdamaian dan mengklaim dirinya sebagai solusi.

Teheran & Tel Aviv— Asap membumbung tinggi dari jantung ibu kota Iran, sementara suara ledakan mengguncang gedung-gedung apartemen di Israel. Dalam tiga hari terakhir, dunia menyaksikan babak baru konflik berdarah antara dua musuh bebuyutan: Israel dan Iran. Kedua negara saling melancarkan serangan udara dan rudal, menewaskan puluhan warga sipil dan pejabat militer di kedua belah pihak.

Di tengah kegentingan ini, Donald Trump, Presiden Amerika Serikat muncul di media sosial dan menyatakan bahwa “Iran dan Israel akan membuat kesepakatan”. Seruan damai itu hadir di saat dunia menahan napas atas potensi perang regional skala besar.

Serangan Balas Membalas

Infografis Al Jazeera
  • Hari Pertama: Israel meluncurkan serangan udara ke Teheran, menghantam markas Kementerian Pertahanan Iran dan sejumlah situs nuklir. Iran membalas dengan rudal jarak jauh yang menembus sistem pertahanan Israel.
  • Hari Kedua: Iran melaporkan 78 orang tewas dan lebih dari 320 luka-luka, sementara di Israel, 13 orang meninggal, termasuk anak-anak, dengan lebih dari 200 orang luka.
  • Hari Ketiga: Ledakan besar terjadi di wilayah Niavaran dan Vali-e Asr, Teheran. Israel memperingatkan agar warga Iran segera meninggalkan pabrik senjata.

Target Strategis yang Dihancurkan

Iran: Kehilangan delapan jenderal senior, termasuk Komandan Program Rudal IRGC dan sejumlah ilmuwan nuklir top.

Israel: Rudal Iran menghantam kilang minyak di Haifa, apartemen di Bat Yam, serta menyebabkan kerusakan besar di kota Arab-Israel, Tamra.

“.Kedua saudara perempuannya dan ibunya tewas dalam insiden ini. Dan tiba-tiba dia berdiri di atap, sendirian, gemetar.” — Wahid Yassin, saksi mata dari Tamra menjelaskan  kepada Army Radio

Peran Amerika: Netral, Provokatif, atau Penentu?

Foto : dok.BBC News

Presiden Donald Trump di Truth Social @realDonaldTrump, menyatakan bahwa AS “tidak terlibat dalam serangan terhadap Iran“, tetapi memperingatkan bahwa “jika Iran menyerang AS, maka kekuatan militer penuh akan dijatuhkan“. Namun, Iran menolak klaim tersebut.

Kami tidak mempercayai klaim itu. Kami memiliki bukti bahwa AS terlibat langsung,” — Abbas Araghchi, Menlu Iran kepada Hamshahri Daily & Tasnim News (Iran)

Trump di sisi lain, menyebut dirinya sebagai sosok penengah:

Iran dan Israel akan membuat kesepakatan, seperti yang saya lakukan antara India dan Pakistan, Serbia dan Kosovo, dan Mesir-Ethiopia.”— Trump melalui Truth Social

Efek Domino: Ketegangan Regional dan Global

  • Milisi Irak Kataib Hezbollah mengancam akan menyerang kepentingan AS jika ikut campur.
  • Pakistan membantah laporan bahwa mereka akan memasok rudal ke Iran.
  • Inggris mengeluarkan peringatan perjalanan ke Israel dan Iran, meningkatkan status ke “Merah”.
  • Mata uang Mesir anjlok drastis karena kekhawatiran regional.
  • Pembicaraan nuklir Iran-AS di Oman resmi dibatalkan.

Warga Sipil Terjebak di Tengah Perang

Kerusakan di kota-kota besar seperti Tel Aviv dan Teheran semakin parah. Apartemen, masjid, dan infrastruktur publik rusak berat. Pemerintah Iran bahkan menjadikan stasiun metro dan masjid sebagai tempat perlindungan untuk warganya.

Kami bekerja keras untuk memulangkan warga Israel dari luar negeri, tetapi situasi keamanan membuat semuanya tertunda,”— Otoritas Bandara Israel kutip Associated Press.

Akankah Trump Jadi Juru Damai Timur Tengah?

pertemuan G7 yang penuh ketidakharmonisan yang diselenggarakan oleh Kanada, dan Trump pergi lebih awal. (Foto : Dok. BBC News)

Trump kini mengklaim sedang melakukan “banyak pertemuan dan panggilan telepon” untuk menghentikan konflik. Namun kredibilitasnya dipertanyakan setelah pembatalan pembicaraan nuklir dan kematian tokoh penting Iran akibat serangan Israel yang diyakini mendapat restu tak langsung dari Washington.

Beberapa pengamat menilai Trump mencoba memanfaatkan situasi geopolitik untuk kepentingan politik dalam negeri.

Trump sedang membangun narasi sebagai satu-satunya tokoh yang bisa menyatukan dunia. Ini adalah strategi politik, bukan misi perdamaian murni,”— Prof. Asef Bayat, ahli politik Timur Tengah dari University of Illinois kepada The Guardian.

Konflik Israel-Iran bukan sekadar pertikaian dua negara, melainkan bom waktu geopolitik global. Dengan keterlibatan aktor-aktor besar seperti AS, milisi regional, dan potensi ancaman nuklir, masa depan Timur Tengah berada dalam situasi genting.

Apakah Donald Trump benar-benar bisa menjadi juru damai atau hanya menyalakan bara api dengan retorikanya?  (YA)

 

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *