New York, AS – Ketika fajar sepak mula Piala Dunia FIFA 2026 mulai menyingsing, janji manis tentang ledakan ekonomi luar biasa yang akan membanjiri kota-kota tuan rumah di Amerika Serikat, justru terancam menjadi fatamorgana.
Menurut laporan Reuters, beberapa jam sebelum turnamen terbesar ini resmi bergulir, lonjakan masif di sektor pariwisata, maskapai penerbangan, dan perhotelan terpantau masih belum kelihatan hilalnya.
Hal itu akibat hantaman harga tiket pertandingan yang selangit, serta ketatnya kebijakan visa bagi turis asing.
Fenomena lesunya pasar ini memaksa industri travel lokal kelimpungan, menghadapi sepinya serbuan suporter internasional yang biasanya menjadi motor utama perputaran uang miliaran dolar.
Pakem lama bisnis perjalanan Piala Dunia, yang biasanya mengandalkan kegilaan suporter asing untuk terbang jauh dan jor-joran belanja, tampaknya sudah tidak mempan di dataran Amerika.
Suporter domestik AS sendiri, yang tinggal di negara dengan popularitas sepakbola tidak sepopuler di Eropa, terbukti gagal menambal celah kosong tersebut.
Alhasil, proyeksi keuntungan ekonomi yang awalnya digadang-gadang bakal menjadi berkah nomplok, kini justru menyisakan tanda tanya besar di benak para pelaku usaha dan pejabat pemerintah daerah setempat.
Pembelaan Presiden FIFA & Harga Tiket
Faktor utama yang dituding menjadi biang kerok mandeknya minat penonton adalah melambungnya harga tiket pertandingan, secara tidak masuk akal.
Menurut data dari TicketData, di pasar sekunder atau calo, harga tiket tribun paling atas (nosebleed section) untuk laga awal di Dallas saja sudah dibanderol di atas 800 US Dollar.

Harga gila-gilaan tersebut mencapai puncaknya pada tiket laga final 19 Juli di New York, di mana situs Ticketmaster mencatat harga terendah dimulai dari kisaran 9,200 US Dollar hingga melejit ke angka fantastis 43,553 US Dollar per lembar.
Tingginya tarif ini merupakan imbas langsung dari kebijakan FIFA, yang menerapkan sistem harga dinamis (dynamic pricing) serta kebebasan harga jual kembali tanpa batas atas.
Menanggapi gelombang protes keras dari suporter dunia yang merasa dikhianati aksi pemerasan terstruktur ini, Presiden FIFA, Gianni Infantino justru pasang badan membela keputusan lembaganya saat berbicara di Milken Institute Conference awal tahun ini.
“Kita berada di sebuah pasar di mana industri hiburannya paling maju di dunia, jadi ya kita harus menerapkan harga pasar yang berlaku,” dalih Gianni Infantino dikutip dari Al Jazeera.
Perhotelan Babak Belur & Darurat Penurunan Omzet
Dampak dari kebijakan tiket selangit tersebut langsung memukul telak sektor akomodasi di berbagai kota besar.
Dilansir dari Reuters, Asosiasi Hotel Kota New York bahkan terpaksa mengambil langkah ekstrem dengan memangkas prediksi pendapatan hotel mereka yang berkaitan dengan Piala Dunia sebesar 60 persen.
- Pemesanan Hotel: Hanya hitungan hari sebelum laga dimulai, 80 persen pemesanan hotel berada di bawah target. Di Seattle, keterisian penginapan bahkan jeblok di bawah level musim panas biasanya.
- Banting Harga: Hotel terbesar di New York, New York Hilton Midtown, terpaksa memotong tarif kamarnya hingga setengah harga menjadi 415 US Dollar per malam demi memancing tamu di menit-akhir.
- Penerbangan Anjlok: Data Cirium mencatat pemesanan tiket pesawat dari Eropa menuju New York merosot tajam hingga 15,8% dibandingkan periode tahun lalu.
“Secara keseluruhan, ini mengecewakan. Enggak ada kata lain yang bisa saya sampaikan,” ujar Vijay Dandapani, CEO Asosiasi Hotel Kota New York dikutip dari Reuters.

Pantauan Al Jazeera menemukan bahwa daftar harga penginapan di dekat stadion di Dallas untuk pertandingan tanggal 14 Juni dipatok mendekati angka 700 US Dollar untuk opsi paling murah dengan durasi menginap dua malam.
Sementara itu, menjelang laga final pada 19 Juli di kawasan metropolitan Kota New York, tepatnya di dekat MetLife Stadium di East Rutherford, New Jersey, harga sewa Airbnb di area sekitar melonjak gila-gilaan hingga lebih dari 5,600 US Dollar.
Boikot Suporter Fanatik
Kombinasi antara kerumitan logistik di 16 kota tuan rumah, mahalnya biaya transportasi, serta ketatnya aturan perbatasan di era pemerintahan Trump, membuat banyak suporter fanatik memilih untuk memboikot turnamen ini secara total.
Isu geopolitik dan laporan adanya keterlambatan massal dalam proses pemrosesan visa dari 50 negara, membuat para pelancong internasional memilih mencari hiburan alternatif.
Para suporter sebagian besar lebih memilih pergi ke Ibiza untuk menonton seluruh pertandingan lewat layar kaca, dengan biaya yang jauh lebih murah.
Sebagian lainnya memilih terbang ke Las Vegas untuk berlibur, karena total pengeluaran yang dihabiskan di sana dinilai jauh lebih masuk akal ketimbang harus membayar tiket laga resmi FIFA dan akomodasi stadion di AS yang mencekik kantong.
Ketika logika industri hiburan murni yang digaungkan Gianni Infantino berbenturan keras dengan realitas finansial suporter akar rumput, yang dikorbankan adalah esensi dari pesta sepakbola itu sendiri.
Kota-kota tuan rumah kini harus memutar otak lebih keras, beralih fokus menarik minat warga lokal demi menyelamatkan muka dari bayang-bayang kegagalan ekonomi yang sudah di depan mata. (*)





