San Fransisco – Divisi komputasi awan dari raksasa teknologi Amazon, menyatakan telah kembali ke “operasi normal” setelah mengalami pemadaman masif yang melumpuhkan sebagian besar layanan internet global selama lebih dari enam jam.
Pemadaman ini menyeret situs-situs besar dan aplikasi populer seperti Snapchat, Duolingo, dan Roblox ke dalam masalah serius, menunjukkan betapa rapuhnya infrastruktur digital yang menopang kehidupan modern kutip BBC News.
AWS mengklaim telah memperbaiki akar masalah yang menyebabkan gangguan pada pagi hari (waktu setempat), namun dampak dari “Hari Kelam” layanan awan ini masih terasa.
“Semua layanan telah ‘kembali ke operasi normal’,” demikian pernyataan resmi dari Amazon Web Services, dikutip pada pukul 08:24.
Daftar Layanan yang Terdampak: Bukan Hanya Media Sosial

Pantauan dari Downdetector, platform pemantau pemadaman layanan, menunjukkan ribuan perusahaan terdampak. Gangguan tak hanya menyasar hiburan dan media sosial, tetapi juga layanan krusial lainnya:
- Platform Populer: Snapchat, Roblox, Zoom, Coinbase.
- Layanan Pendidikan: Duolingo.
- Perbankan dan Keuangan: Sejumlah layanan perbankan termasuk Lloyds, Bank of Scotland, dan Halifax (di Inggris).
- Layanan Pemerintah: HMRC (layanan pajak dan bea cukai Inggris).
Menurut koresponden teknologi dari Amerika Utara, Lily Jamali, peristiwa ini adalah alarm keras. “Permainan saling menyalahkan (blame game) untuk apa yang terjadi pada Amazon Web Services dimulai sekarang,” ujar Jamali. “Perusahaan-perusahaan mulai mencoba menghitung kerugian yang harus ditanggung dari hari ini.”
Mengapa Pemadaman AWS Memicu Kegaduhan Global?
AWS adalah tulang punggung internet. Infrastruktur komputasi awannya menopang jutaan situs web, aplikasi, dan platform global, dari startup kecil hingga korporasi multinasional.
Ketika AWS mengalami masalah, efek dominonya langsung dirasakan di seluruh dunia.

Titik Krusial:
- Penyebab Utama: Kerusakan (malfungsi) yang terjadi di salah satu fasilitas divisi komputasi awan AWS.
- Kekerapan Masalah: Meskipun pemadaman tunggal jarang terjadi, pakar teknologi mencatat bahwa insiden layanan besar yang melumpuhkan banyak situs sekaligus cenderung meningkat frekuensinya.
Wartawan teknologi, Shiona McCallum, menekankan bahwa insiden ini menyoroti kerapuhan sistem saat ini. “Dengan sebagian besar hidup kita kini online, tekanan pada layanan awan terus meningkat. Peristiwa seperti ini menyoroti kerapuhan fundamental dari sistem-sistem tersebut,” tulisnya.
Saat laporan masalah AWS di Downdetector mulai mereda, perhatian kini beralih ke analisis mendalam mengenai apa yang salah dan bagaimana perusahaan raksasa ini dapat menjamin stabilitas layanan yang vital bagi triliunan transaksi dan komunikasi digital sehari-hari.(YA)





